• News

  • Singkap Sejarah

Kisah Tak Terduga di Pasuruan, Saat Raja Hayam Wuruk Mengunyah Sirih

Candi Jawi di Pasuruan, Jawa Timur
foto: situsbudaya.com
Candi Jawi di Pasuruan, Jawa Timur

PASURUAN, NETRALNEWS.COM – Baru-baru ini, di wilayah Pasuruan, tepatnya di  Dusun Sekarkrajan, Desa Gondangrejo, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, ditemukan struktur batu bata yang diduga merupakan situs salah satu kerajaan.

Saat ini, lokasi temuan situs tersebut sedang disterilkan dan diteliti oleh tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Diharapkan, kajian para ahli arkeologi di bawah BPCB bisa segera mengungkap semua hal di balik temuan tersebut.

Temuan struktur batu bata kuno itu semakin memperkaya sejarah keberadaan Kota Pasuruan. Wilayah ini memang memiliki kisah sejarah yang unik. Bahkan, namanya yang disematkan pun ada kaitannya dengan peristiwa di era Kerajaan Majapahit.

Sekitar abad ke-10, wilayah Pasuruan menjadi daerah penting bagi Kerajaan Medang atau biasa disebut juga Mataran Dinasti Isyana yang didirikan oleh Mpu Sendok. 

Di abad ke-14, Pasuruan juga menjadi daerah penting bagi Kerajaan Majapahit dengan rajanya Hayam Wuruk.  Suatu hari, ada utusan dari majapahit memberi kabar bahwa Raja Hayam Wuruk (memerintah Majapahit tahun 1350-1389) akan berunjung ke berbagai daerah.

Untuk menyambut kedatangannya, masyarakat menyelenggarakan berbagai acara dan upacara. Selain hidangan makanan, tari-tarian, saat tiba di wilayah yang kini bernama Kota Pasuruan, Raja Hayam Wuruk juga diberikan sajian bahan-bahan untuk  nginang.

Bahan nginang antara lain sirih, kapur, buah pinang, gambir, dan tembakau. Sedangkan daun sirih sering disebut juga dengan nama "suruh".

Konon, saat mengunyah suruh, Raja Hayam Wuruk berulang-ulang menyebut kata "pasuruhan" yang dapat diartikan juga sebagai perintah atau "menyuruh".

Sementara itu, masyarakat memahaminya bahwa Sang Raja telah menyebut wilayah itu sebagai daerah yang kaya dengan "suruh" atau sirih. Orang-orang menyebutnya "Pasuruhan". Lama-kelamaan, kata itu kemudian berubah menjadi "Pasuruan".

Begitulah sekelumit legenda asal-usul kota Pasuruan seperti ditulis Zaenuddin HM berjudul "Asal-Usul Kota-Kota di Indonesia Tempo Doeloe" (2013: 385).

Di masa pemerintahan Raja Airlangga, wilayah Pasuruan lebih dikenal dengan sebutan "Paravan".

Di wilayah ini terdapat pelabuhan yang sangat ramai. Karena letak geografisnya yang cukup strategis, pelabuhan Pasuruan menjadi tempat transit dan pasar perdagangan antar pulau, bahkan antar negara.

Banyak bangsawan dan saudagar kaya yang menetap di Pasuruan untuk melakukan perdagangan. Hal ini mengakibatkan Pasuruan memiliki keberagaman budaya, etnis, dan memiliki hubungan internasional.

Di kota ini, terdapat daerah yang disebut Gembong. Tempat ini dipercaya merupakan lokasi keberadaan para raja yang kala itu beragama Hindu. Dalam Babad Pasuruan, sekitar abad ke-16 wilayah ini diperintah oleh seorang raja bernama Pate Supetak.

Sementara menurut kronik Jawa tentang penaklukan Sultan Trenggono dari Demak, Pasuruan berhasil ditaklukkan Demak pada 1545. Sejak itu, peradaban di wilayah Pasuruan berubah menjadi bercorak Islam.

Pada tahun-tahun berikutnya, masyaraat Pasuruan sempat terlibat dalam peperangan dengan Kerajaan Blambangan yang masih bercorak Hindu-Budha. Bahkan, pada tahun 1601, ibu kota Blambangan sempat berhasil dikuasai pasukan dari Pasuruan.

Periode 1617-1645, wilayah Pasuruan diperintah oleh seorang Tumenggung dari Kapulungan, yakni Kiai Gede Kapoeloengan yang bergelar Kiai Gedee Dermoyudho I.

Di masa kekuasaannya, Pasuruan pernah mendapat serangan dari Kesultanan Kertosuro sehingga Pasuruan jatuh dan Kiai Gede Kapoeloengan melarikan diri ke Surabaya hingga meninggal dunia dan dimakamkan di Pemakaman Bibis (di wilayah Kota Surabaya).

Penguasa selanjutnya adalah putra Kiai Gede Darmoyudho I yang bergelar Kiai Gede Dermoyudho II (1645-1657).

Pada 1657 Kiai Gede Dermoyudho II mendapat serangan dari Mas Pekik (Surabaya), sehingga Kiai Gede Dermoyudho II meninggal dan dimakamkan di Kampung Dermoyudho, Kelurahan Purworejo, Kota Pasuruan.

Mas Pekik memerintah dengan gelar Kiai Dermoyudho (III) hingga meninggal dunia pada tahun 1671 dan diganti oleh putranya, Kiai Onggojoyo dari Surabaya (1671-1686).

Kiai Onggojoyo kemudian harus menyerahkan kekuasaannya kepada Untung Suropati, seorang budak belian yang berjuang menentang Belanda. Pada saat itu Untung Suropati sedang berada di Mataram setelah berhasil membunuh Kapten Tack.

Untuk menghindari kecurigaan Belanda, pada 8 Februari 1686 Pangeran Nerangkusuma yang telah mendapat restu dari Amangkurat I (Mataram) memerintahkan Untung Suropati berangkat ke Pasuruan untuk menjadi adipati (raja) dengan menguasai daerah Pasuruan dan sekitarnya.

Untung Suropati menjadi raja di Pasuruan dengan gelar Raden Adipati Wironegoro. Selama 20 tahun pemerintahan Suropati (1686-1706) dipenuhi dengan pertempuran-pertempuran melawan tentara Kompeni Belanda.

Namun demikian dia masih sempat menjalankan pemerintahan dengan baik serta senantiasa membangkitkan semangat juang pada rakyatnya. Seementara itu, pemerintah Belanda terus berusaha menumpas Untung Suropati, setelah beberapa kali mengalami kegagalan.

Belanda kemudian  bekerja sama  dengan  putra  Kiai yang juga bernama Onggojoyo  untuk menyerang Untung. Mendapat serangan dari Onggojoyo yang dibantu oleh tentara Belanda, Untung Suropati terdesak dan mengalami luka berat hingga kemudian meninggal pada 1706.

Belum diketahui secara pasti di mana letak makam Untung Suropati, namun dapat ditemui sebuah petilasan berupa tempat persembunyiannya pada saat dikejar oleh tentara Belanda yang berada di Pedukuhan Mancilan, Kota  Pasuruan

Sepeninggal  Untung, kendali kerajaan dilanjutkan oleh putranya yang bernama Rakhmad yang meneruskan perjuangan sampai ke timur dan akhirnya gugur di medan pertempuran pada 1707.

Berbagai peristiwa tragis yang terjadi di Pasuruan menandakan bahwa kota ini memang menyimpan sejarah penting peradaban Jawa bagian Timur (Jawa Timur). Di sisi lain, Pasuruan juga terbukti memiliki tokoh-tokoh penting dalam percaturan politik di masa lampau.

Maka tak mengherankan bila wilayah ini juga memiliki beragam objek wisata sejarah yang kini menjadi kebanggaan masyarakat Pasuruan. Melalui objek wisatatersebut, jejak sejarah Kota Pasuruan bisa dikenali oleh siapapun.

Beberapa wisata bersejarah tersebut antara lain: Masjid Muhammad Cheng Ho, Candi Gunung Gangsir, dan Candi Jawi. Selain objek wisata sejarah, Pasuruan juga memiliki objek wisata alam yang sangat banyak khususnya yang berupa air terjun, pantai, taman safari, dan kebun raya.

Editor : Taat Ujianto