• News

  • Singkap Sejarah

Inilah ‘Pearl Harbor’ di Indonesia, Kota Sumber Minyak yang Diinvasi Jepang

Pertempuran pasukan Belanda melawan Jepang di Tarakan pada 11-12 Januari 1942
Netralnews/Istimewa
Pertempuran pasukan Belanda melawan Jepang di Tarakan pada 11-12 Januari 1942

TARAKAN, NETRALNEWS.COM - Pearl Harbor adalah pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pulau Oahu, Hawaii, sebelah barat Honolulu.

Kota ini tercatat dalam sejarah sebagai pangkalan armada Angkatan Laut Amerika yang dibombardir pasukan Jepang secara tiba-tiba pada 7 Desember 1941. Penyerangan tersebut menandai pecahnya Perang Pasifik dalam Dunia II.

Dalam konteks ini, kiranya bukan mengada-ada apabila Zaenuddin HM berjudul "Asal-Usul Kota-Kota di Indonesia Tempo Doeloe" (2013: 556), menyebut Kota Tarakan di Kalimantan Timur dengan julukan "Pearl Harbor"-nya Indonesia.

Pasalnya, di kota inilah, "Jepang mendaratkan pasukannya yang pertama untuk selanjutnya menguasai wilayah Indonesia selama 3,5 tahun," tulis Zaenuddin. Peristiwa itu terjadi pada 11-12 Januari 1942.

Artinya, bila Pearl Harbor di Hawaii menandai berkecamuknya Perang Dunia II di Samudera Pasifik, invasi di Tarakan menandai dimulainya pendudukan Jepang ke wilayah Indonesia.

Di masa itu, Tarakan sebenarnya belum bisa dikatakan sebagai kota besar. Banyak wilayahnya masih berupa rawa-rawa. Namun, yang diincar oleh pasukan Jepang  di situ adalah 700 sumur minyak, penyulingan minyak, dan lapangan udara yang sangat strategis bagi tahap invasi selanjutnya.

Minyak sangat penting untuk menyuplai persediaan logistik perang. Apalagi juga tersedia lapangan terbang. Maka tepat bila Jepang menjadikannya sebagai sasaran pertama kali.

Asal-Usul Tarakan

Kota Tarakan dikenal sebagai Bumi Paguntaka. Menurut tradisi lisan, nama Tarakan sendiri berasal dari lata "tarak" yang artinya "bertemu" dan "ngakan" yang artinya "makan".

Maka secara harafiah berarti "tempat para nelayan untuk istirahat, makan, dan melakukan barter  hasil tangkapan dengan nelayan lain." Selain itu, Tarakan juga menjadi tempat bertemunya arus sungai Kayan, Sesayap, dan Malinau.

Sebelum bangsa kolonial berdatangan, di Tarakan pernah ada pemerintahan Kerajaan Tarakan (Kalkan/Kalka) atau disebut juga Kerajaan Tidung. Selain itu, di wilayah ini juga pernah berdiri kerajaan lain yakni Kesultanan Bulungan yang berkedudukan di Tanjung Palas.

Kerajaan Tarakan atau Tidung didirikan oleh orang-orang dari suku Tidung dan mulanya berlokasi di sebelah pesisir Timur Pulau Tarakan yakni di kawasan Dusun Binalatung sekitar tahun 1076-1156.

Kerajaan ini kemudian berpindah ke pesisir Selatan Pulau Tarakan yakni di kawasan Tanjung Batu sekitar tahun 1156-1216. Kemudian bergeser lagi ke wilayah sebelah Barat yaitu di kawasan Sungai Bidang kira-kira tahun 1216-1394.

Terakhir, berpindah ke wilayah yang lebih jauh dari Pulau Tarakan yakni ke daerah Pimping bagian Barat dan kawasan Tanah Kuning sekitar tahun 1394-1557 di bawah pengaruh Kesultanan Sulu.

Ada pula tradisi lisan dari suku Tidung yang menyatakan bahwa Kerajaan Tidung yang paling tua bernama Kerajaan Menjelutung yang berlokasi di Sungai Sesayap dengan rajanya yang terakhir bernama Benayuk.

Kerajaan tersebut hancur setelah diterpa hajun dan angin topan yang dahsyiat  sehingga pemukiman hancur dan penduduknya hanyut terbawa arus sungai yang meluap. Oleh Suku Tidung, peristiwa itu dinamakan "gasab".

Di era itu, suku Tidung yang tersebar di Kalimantan Timur dan Utara terbagi dalam 4 kelompok yakni kelompok yang berdialek Tidung Malinau, Tidung Sembakung, Tidung Sesayap, dan Tidung Tarakan.

Di masa kolonial hingga era kemerdekaan

Berdasarkan arsip sejarah Kota Tarakan, pengeboran minyak dirintis pemerintah Hindia Belanda pada 1896 melalui Bataavishe Teroleum Maatchapij (BPM). Untuk memenuhi tenaga kerja tambang minyak tersebut, BPM mengerahkan para kuli dari Jawa.

Tahun 1923, Pemerintah membentuk pemerintahan khusus di Tarakan dengan mengangkat seorang Asisten Residen dengan membawahi lima wilayah yakni Tanjung Selor, Tarakan, Malinau, Apau Kayan, dan Berau.

Maka tak mengerankan apabila di masa selanjutnya, selain suku Tidung dan suku-suku yang berasal dari Kalimantan, di Tarakan juga tidak sedikit yang beretnis Jawa hingga kini.

Hingga tahun 1942, Tarakan menjadi sumber penyuplai kebutuhan minyak bumi bagi pemerintah Belanda. Saat invasi Jepang datang, pasukan Jepang sempat  berusaha melawan namun sia-sia. Dalam dua hari saja, pasukan Belanda sudah dipukul mundur oleh Jepang.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Tarakan masuk wilayah pangkuan pemerintah Republik Indonesia. Namun baru tahun 1963 pemerintah RI mengubah status Kawedanan Tarakan menjadi Kecamatan Tarakan sesuai Keppres RI Nomor 22 Tahun 1963.

Di masa selanjutnya, Tarakan tumbuh menjadi kita besar berkat kekayaan minyak yang dimilikinya. Selain itu, sebagai kota bersejarah, Tarakan juga terkenal dengan objek wisata sejarah.

Objek wisata yang terkenal adalah tradisi bernama Pesta Rakyat Iraw Tengkayu yang digelar setiap 2 tahun sekali. Objek wisata sejarah berikutnya adalah Museum Rumah Bundar yang berisi peningalan-peninggalan masa pendudukan Belanda dan Jepang.

Satu lagi yang khas dengan Tarakan yakni Penangkaran Buaya Juwata yang berlokasi di Kelurahan Karang Harapan, Tarakan Barat. Wisata unggulan ini memiliki koleksi anek jenis buaya yang ada di wilayah Kalimantan.

Editor : Taat Ujianto