• News

  • Singkap Sejarah

Geger 1945 di Bekasi, Jagal-Jagalan Gegara Tak Bisa Bedakan Pasukan Bule

Bekasi lautan api di tahun 1945
Netralnews/IPHOS
Bekasi lautan api di tahun 1945

BEKASI, NETRALNEWS.COM - Pasca-Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, wilayah Bekasi, Provinsi Jawa Barat berubah menjadi medan laga. Daerah ini di kemudian hari juga membara karena dibombardir pasukan sekutu.

Di masa-masa awal perang mempertahankan kemerdekaan tersebut, ada kejadian unik di mana rakyat Bekasi ternyata tidak bisa bedakan mana orang Belanda dan mana orang Inggris karena mereka dianggap sama-sama bule atau orang Eropa.

Akibatnya, pejuang Bekasi harus berhadapan dengan pasukan Sekutu (Inggris) yang merupakan jagoan dalam Perang Dunia II. Tentu saja Bekasi luluh lantak oleh serangan udara pasukan Inggris.

Tiga Kekuatan di Bekasi

Sebelum pasukan Inggris menginjakkan kaki di Kota Bekasi, para pemuda Bekasi sudah lebih dulu beraksi yakni melakukan penjagalan massal terhadap pasukan Jepang yang telah menyatakan menyerah kalah terhadap Sekutu.

Aksi penjagalan terhadap sekitar 90 orang pasukan Jepang terjadi di Kali Bekasi pada 19 Oktober 1945. "Peristiwa itu membuat nama Bekasi mencuat di dunia internasional, mendebarkan bangsa lain yang hendak menjajah kembali tanah air Indonesia," tulis Ali Anwar dalam "Bekasi Dibom Sekutu" (2006: 15).

Kala itu Bekasi masih berstatus kewedanaan dan menjadi wilayah Kabupaten Jatinegara, Keresidenan Jakarta. Di wilayah ini terjadi tarik menarik kekuatan-kekuatan penting seiring datangnya ancaman dari luar.

Kekuatan pertama adalah kelompok Wedana Bekasi yang dijabat Rukadi, Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) dipimpin Loebis Mawardi, Samosir, dan Ahmad Djaelani; dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di bawah pimpinan Letnan Satu Suhendro.

Kekuatan kedua adalah pasukan Pelopor dan barisan pemuda lainnya yang telah tersusun serta terlatih ejak masa Hindia Belanda dan pendudukan Jepang. Mereka terdiri dari para kiai, mualim, guru, ustaz, serta tokoh kharismatis lainnya.

Kekuatan ketiga adalah kelompok yang dipimpin para jagoan (jawara) dan bandit yang di antaranya dipimpin Jole Sulaeman, Bantir (di Tambun), Nata (Cibitung), Cibarusah, Pak Matjan, serta Haji Darip dan Haji Hasbullah (daerah Jatinegara, Klender, Pulogadung, dan Bekasi).

Tiga kekuatan tersebut sama-sama penting dalam arti sebagai kekuatan untuk menghadapi munculnya balasan atau upaya pendudukan kembali oleh bangsa Penjajah.

Mereka juga sudah mendengar kabar bahwa pasukan Sekutu sudah mendarat di Pelabuhan Tanjung Priok pada 15 September 1945 di bawah komando Southeast Asia Command (SEAC) dan disusul kemudian Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) pada 29 September 1945.

Bersamaan dengan kedatangan Sekutu, turut pula membonceng petinggi dan pasukan Belanda yang tergabung dalam Netherlands-Indies Civil Administration (NlCA).

Berdasar perjanjian diplomasi pemerintah Republik Indonesia (RI) dengan pihak International (lnggris, Belanda, dan Indonesia), pasukan bersenjata RI diperintahkan mundur ke luar kota Jakarta.

Perintah mundur tertuang dalam maklumat tanggal 19 Nopember 1945 di mana salah satunya menyebutkan bahwa pasukan TKR dipusatkan di sekeliling kota Jakarta Raya, terutama di Bekasi, Karawang, dan Cikampek.

Tak bisa bedakan orang  Inggris dan Belanda

Tanggal 23 Nopember 1945, tiba-tiba masyarakat Bekasi digemparkan oleh jatuhnya pesawat Dakota Inggris di persawahan Rawa Gatel, Cakung, Kewedanaan Bekasi. Kecelakaan itulah yang menjadi salah satu penyebab persoalan besar di Bekasi di kemudian hari.

Pesawat Dakota mengalami kecelakaan setelah Iepas Iandas dari Lapangan Terbang Kemayoran, Jakarta. Semula akan menuju ke Semarang, Jawa Tengah, dengan mengangkut 26 orang pasukan Sekutu meliputi 4 orang awak pesawat berkebangsaan Inggris dan 22 orang tentara Inggris.

Mesin pesawatnya mengalami kerusakan, sehingga terpaksa melakukan pendaratan darurat di Rawa Gatel. Antara takut dan was-was, penduduk kampung kemudian berdatangan mendekati lokasi kecelakaan.

Warga Bekasi tidak bisa membedakan orang-orang bule yang menjadi penumpang pesawat. Mereka mengira orang bule berarti orang Belanda dan mereka adalah penjajah Indonesia.

Karena merasa terancam, penduduk melakukan pengepungan terhadap pesawat yang telah mengepulkan asap. Kedatangan penduduk dibalas dengan rentetan tembakan dari pasukan Inggris yang masih selamat dari kecelakaan.

Setelah kehabisan peluru, tentara Inggris yang malang itu kemudian berhasil ditangkap para pejuang Bekasi dan senjata mereka dilucuti. Melihat pasukan bule bertekuk lutut, penduduk langsung merangsek dan berteriak-teriak, "Tangkap, tangkap penjajah itu, bantai."

Dari hasil penggeledahan dan interogasi, akhirnya rakyat Bekasi baru tahu bahwa korban Dakota adalah tentara asing yang memiliki kemiripan kulit dengan penjajah Belanda.

Euforia kemerdekaan dan kebencian terhadap semua hal yang dianggap penjajah tak memedulikan bahwa pasukan Inggris berbeda dengan pasukan Belanda.

Rakyat tetap saja memukuli dan melukai tentara Inggris yang telah menjadi tawanan itu. Tak puas, mereka pun melucuti pakaian para tawanan. "Yang tersisa di tubuhnya tinggal cawat saja," tulis Ali Anwar.

Tawanan yang sudah berlumuran darah namun tidak ada yang meninggal itu, segera digiring ke markas pasukan rakyat Ujung Menteng pimpinan Umar Efendi dan Muhammad Amri. Selama perjalanan, tawanan tak luput dari umpatan dan pemukulan massa.

Di kemudian hari, persoalan tawanan ini menyulut kemarahan pasukan Sekutu sehingga menghancurkan kota Bekasi.

Bersambung

Editor : Taat Ujianto