• News

  • Singkap Sejarah

Usai Lucuti 26 Tentara Inggris Tersisa Cawat di Tubuhnya, Bekasi Dilanda Hujan Mortir

Bekasi lautan api di tahun 1945
Netralnews/IPHOS
Bekasi lautan api di tahun 1945

BEKASI, NETRALNEWS.COM – Ini adalah catatan sejarah "Bekasi Lautan Api" di tahun 1945 bagian kedua (Bagian pertama berjudul "Geger 1945 di Bekasi, Jagal-Jagalan Gegara Tak Bisa Bedakan Pasukan Bule").

Pada 23 Nopember 1945, pesawat Dakota milik pasukan Sekutu (Inggris) jatuh di di persawahan Rawa Gatel, Cakung, Kewedanaan Bekasi. 26 orang penumpangnya adalah anggota pasukan Inggris. Setelah sempat baku tembak, semua pasukan bule itu menjadi tawanan pejuang Bekasi.

Uniknya, di masa itu, warga Bekasi tak bisa bedakan orang Inggris dengan orang Belanda. Warga Bekasi melihat para tawanan bertubuh bule dan mereka mengira orang bule berarti orang Belanda yang pernah menjajah Indonesia.

Euforia kemerdekaan dan kebencian terhadap semua hal yang dianggap penjajah tak memedulikan bahwa pasukan Inggris berbeda dengan pasukan Belanda.

Rakyat tetap saja memukuli dan melukai tentara Inggris yang telah menjadi tawanan itu. Tak puas, mereka pun melucuti pakaian para tawanan. "Yang tersisa di tubuhnya tinggal cawat saja," tulis Ali Anwar dalam "Bekasi Dibom Sekutu" (2006).

Tawanan yang sudah berlumuran darah namun tidak ada yang meninggal itu, segera digiring ke markas pasukan rakyat Ujung Menteng pimpinan Umar Efendi dan Muhammad Amri. Selama perjalanan, tawanan tak luput dari umpatan dan pemukulan massa.

Sekutu tak terima

Berita tentang penahanan 26 awak pesawat Dakota pun sampai ke petinggi pasukan Sekutu di Jakarta yakni Letnan Jenderal Sir Philip Christison. Sang jenderal sangat marah karena menurut dalihnya, penumpang pesawat Dakota adalah anggota Palang Merah.

Letnan Jenderal Christison segera mendesak Pemerintah Republik Indonesia (RI) agar membebaskan seluruh tawanan. Ia juga mengancam, jika tawanan tidak segera dikembalikan, Bekasi akan dihancurkan.

Perdana Menteri Sutan Sjahrir segera menghubungi Komandan Resimen 5 Letnan Kolonel Moeffreni Moe'min agar segera mengirimkan tawanan ke Jakarta untuk diserahkan ke Sekutu.

Kolonel Moeffreni pun memerintahkan anak buahnya yakni Sambas dan Komandan Tangsi Polisi Bekasi Muhammad bin Haji Rijan, untuk menjaga para tawanan sehingga bisa memenuhi permintaan Sjahrir. Kepada Sjahrir, Kolonel Moeffreni juga menyatakan menjamin pengembalian para tawanan.

Di sisi lain, ancaman Sekutu juga terdengar di telinga para pejuang Bekasi. Hal itu tidak membuat nyali menjadi kecut. Ancaman Inggris justru membuat warga Bekasi menganggap pasukan Sekutu telah meremehkan dan memancing emosi para pejuang.

Sambas yang ditugaskan menjaga tawanan sempat berusaha memberikan perlakuan yang baik dengan memberikan makan-minum yang spesial seperti nasi, daging, roti, dan susu. Sayangnya, mandat yang ia terima dari Jakarta, tidak diceritakan ke teman-temannya.

Letnan Dua Zakaria Burhanuddin, salah satu rekan Sambas menganggap memberikan makanan spesial di tengah situasi sulit membuat merupakan tindakan tidak adil dan membuatnya sangat kesal.

"Bangsa Indonesia lagi susah makan, kok penjajah harus dikasih makanan yang paling enak. Kami tersinggung," kata Zakaria seperti ditulis Ali Anwar.

Zakaria ingin agar menu makanan terhadap para tawanan tidak dibedakan. Ia ingin makanan yang dikonsumsi para para tahanan sama dengan apa yang dimakan oleh para pejuang prokemerdekaan RI yakni nasi merah, ikan teri, dengan dibungkus daun jati.

Bekasi dibom Sekutu

Tak puas dengan jaminan bahwa Pemerintah RI menjamin keselamatan para tawanan, pasukan Sekutu ternyata secara diam-diam mengirimkan pasukan untuk berusaha membebaskan para tahanan. 

Dikirimkanlah pasukan serdadu berkuda dan sejumlah tank Stuart ke Bekasi. Mereka di antaranya adalah anggota kesatuan Royal Air Force (RAF) dan Batalyon 6 Maharatta. Ketegangan pun muncul ketika berhadapan dengan para pejuang Bekasi dan berbuntut meletusnya pertempuran.

Hari itu, 29 Nopember 1945, tentara Sekutu menggempur para pejuang Bekasi dengan tank dan artileri. Mula-mula Klender jatuh kemudian mereka merangsek ke daerah Warung Arning, Pondok Gede, Pondok Pucung, Rawa Bening, Rawa Bebek, kampung-kampung sekitar Cakung, dan Marunda.

Dalam pertempuran ini, pasukan Sektu terbukti telah melanggar kesepakatan tentang adanya garis demarkasi yang tidak boleh dilalui. Bekasi adalah wilayah RI.

Pasukan Sekutu akhirnya berhasil menuju persawahan Rawa Gatel, tempat lokasi pesawat Dakota jatuh. Namun, mereka kecewa karena tidak berhasil menemukan sisa-sisa pesawat dan para tawanan.

Mereka melampiaskan kekecewaan dengan membakar rumah-rumah penduduk dan membombardir kota Bekasi. Sekitar 25 pejuang RI gugur dalam pertempuran dan 50 rakyat sipil tewas akibat pengeboman pasukan Sekutu.

Keesokan harinya, ratusan pejuang Bekasi berusaha membalas serangan pasukan Sekutu. Perlawanan di antaranya digelorakan oleh pemuda Laskar Rakyat dan penduduk kampung di bawah pimpinan KH Noer Alie serta beberapa anggota TKR pimpinan Madnuin Hasibuan.

Sekitar 200-an orang dikerahkan untuk mengusir Pasukan Sekutu yang dianggap telah melanggar garis demarkasi. Gema takbir berkumandang sebelum pertempuran dimulai.

Pasukan Sekutu segera membalas desingan peluru dengan hujan mortir. Pertempuran berlangsung cukup alot, akan tetapi karena persenjataan tidak seimbang, serangan para pejuang prokemerdekaan RI tetap gagal mengusir pasukan Sekutu dari daerah Bekasi.

Tubuh sekitar 30 pasukan Laskar Rakyat hancur terkena mortir. Sedangkan KH Noer Alie sempat selamat setelah meloloskan dari dari hujan mortir dengan terjun ke kali Sasak Kapuk, sambil menyusuri kali sampai ke Utara.

Tubuh para pejuang yang terkena mortir sulit dikenali lagi. Sementara lainnya ada yang buntung tangan dan kakinya.

Meski sudah begitu, Sekutu tampaknya belum puas dengan kemenangannya, Pada 1 dan 3 Desember 1945, pesawat tempur Heuwitser milik pasukan Sekutu meraung-raung di langit Bekasi. Daerah Rawa Bening dan Cakung dibombardir.

Para petani dan masyarakat biasa tak sedikit menjadi korban sementara rumah-rumah mereka porak-poranda.

 

Bersambung

Editor : Taat Ujianto