• News

  • Singkap Sejarah

Brutal! Sulit Bunuh Tentara Inggris, Pejuang RI Penggal 26 Tawanan dengan Klewang

Kombatan lokal yang berjaga di Bekasi, 'pintu gerbang' Republik pasca-keluarnya TKR dari Jakarta
Netralnews/IPHOS
Kombatan lokal yang berjaga di Bekasi, 'pintu gerbang' Republik pasca-keluarnya TKR dari Jakarta

BEKASI, NETRALNEWS.COM – Sepanjang akhir November 1945, wilayah Bekasi dan sekitarnya jadi bulan-bulanan tentara Inggris (Sekutu). Mereka membombardir Bekasi setelah tahu 26 orang anggota pasukan Inggris disembunyikan dan menjadi tawanan pejuang prokemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Para pejuang Bekasi beberapa kali menyergap dan menyerang pasukan Sekutu namun gagal. Persenjataan yang kalah modern membuat pertempuran selalu berlangsung secara tak seimbang, sementara korban di pihak rakyat Bekasi dan para pejuang terus berjatuhan.

Kesal karena betapa sulitnya membunuh pasukan Sekutu, munculah pergunjingan yang akhirnya benar-benar diwujudkan. Selain itu, para pejuang juga semakin terbebani dengan jatah makanan yang sangat terbatas tetapi masih harus dibagikan kepada para tawanan.

Dari pada memberi makan kepada para tawanan, para pejuang Bekasi memilih memberikan makanan kepada rakyat dan anggota pasukan prokemerdekaan. Bahkan agar semakin hemat, munculah ide untuk membunuh semua tawanan.

Seperti diungkap Ali Anwar dalam "Bekasi Dibom Sekutu" (2006: 51), eksekusi para tawanan dipimpin oleh Letnan Dua Zakaria Burhanuddin.  Zakaria melakukan tindakan yang sebenarnya menyalahi hukum perang tersebut tanpa meminta izin atasannya, apalagi meminta izin Perdana Menteri Sjahrir di Jakarta.

Bersama Sersan Murdani rekannya, Zakaria dan beberapa prajurit TKR memulai aksinya dengan menggali lubang kubur di bawah guyuran hujan. Mereka kerahkan para perampok dan garong yang telah menjadi tahanan polisi untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Begitu lubang ukuran 1,5 X 8 meter dengan kedalaman 1,5 meter selesai, para tawanan digiring ke lubang dan pemenggalan pun dimulai dengan menggunakan kelewang. Pemenggal kepala para tawanan adalah algojo ternama di antara para pejuang Bekasi, yakni  Sersan Murdani.

"Eksekusi penjagalan tersebut disaksikan oleh masyarakat Bekasi dan seorang Indo-Belanda yang telah lama menjadi montir Tangsi Polisi bernama Mamat," tulis Ali Anwar.

Mayor Sambas Atmadinata, atasan Zakaria yang sebelumnya berjanji akan mengembalikan para tawanan ke Jakarta, saat tiba di tangsi polisi sangat terkejut begitu mendengar bahwa tawanan telah dijagal.

Dengan nada marah, Sambas mengambil senjata api jenis Mouser dan mengarahkan moncongnya ke tubuh Zakaria. Namun Zakaria balik memasrahkan diri. "Saya tak takut ditembak," kata Zakaria seperti dikutip Ali Anwar.

Zakaria bahkan meminta atasannya bahwa daripada mati ditembak komandannya, lebih baik diberi surat keputusan untuk bertempur melawan Sekutu di Jakarta. Akibat pernyataan itu, luluhlah hati Mayor Sambas.

Sambas kemudian merangkul tubuh Zakaria, namun hatinya terpikir bahwa ia harus bertanggung jawab atas kematian mengenaskan yang dialami para tawanan.

Mayor Sambas akhirnya mengirim laporan kepada Komandan Resimen V TKR Moeffreni Moe'min. Selanjutnya, pesan dilanjutkan ke Perdana Menteri Sjahrir.

Dalam laporan tersebut, dinyatakan bahwa awak dan penumpang pesawat yang mendarat itu tidak dapat kami bebaskan karena telah dibunuh semuanya. Kalau Inggris menghendaki tawanan kembali, suruh mereka ambil saja mayatnya. 

Laporan tersebut akhirnya sampai ke pihak pasukan Sekutu. Tentu saja mereka tidak terima. Pada 5 Desember 1945, penyerbuan dilakukan secara besar-besaran. Pihak pejuang tak mampu membendung serangan tersebut sehingga pasukan Sekutu berhasil menembus jantung pertahanan di Bekasi.

Penduduk Bekasi seluruhnya memutuskan mengungsi ketimbang terkena mortir Inggris. Sementara para pejuang bergerak menjauhi Bekasi ke arah Timur dan Selatan.

Begitu berhasil menguasai tangsi Polisi Bekasi, pasukan Sekutu segera mencari lokasi kuburan para tawanan yang dijagal dan dikubur dalam satu lubang.  Atas petunjuk Mamat (Indo-Belanda), pasukan Sekutu segera menemukan lokasi tersebut.

Diiringi perasaan duka, pasukan Sekutu menggali dan mengangkat seluruh mayat rekan-rekannya yang telah mulai membusuk. Jenazah kemudian dibawa ke Jakarta. Sebelum meninggalkan tempat itu, pasukan Inggris menanam sejumlah granat dan ranjau di tangsi polisi tersebut.

Melihat pasukan Inggris kembali ke Jakarta, para pejuang Bekasi kembali memasuki tangsi polisi. Mereka menyaksikan kuburan para tawanan telah dibongkar dan mayat semua tawanan telah dibawa pergi oleh mereka.

Saat para pejuang memasuki gedung kantor, mereka melihat tempat itu sudah dipasang sejumlah granat dan ranjau yang mereka sebut sebagai bom batok. Komandan Resimen V Moeffreni Moe'min dan Komandan Batalion V, Mayor Sambas Atmadinata mengadakan pengamanan dan menyerukan kepada rakyat jangan mendekati area tersebut.

Hasbih bin Tjebih, seorang polisi yang cukup memahami persenjataan dan bahan peledak, diperintahkan menjinakkan bom. Sekitar 40 granat dan dua born batok dapat dijinakkan. Akan tetapi, saat menghadapi bom batok terakhir, tenaga Hasbih melemah.

Tubuhnya menggigil dan mengucurkan keringat. Tubuh Hasbih limbung, sehingga bom lepas dari tangannya. Bom itu meledak dan menghancurkan kantor tangsi polisi Bekasi. Tubuh Hasbih pun tercerai-berai.

Kematian Hasbih belumlah mengakhiri nasib tragis yang melanda kota Bekasi. Letnan Jendefal Christison marah dan kecewa setelah melihat kondisi jenazah para tawanan yang dibawa ke Jakarta.

Seminggu setelah pengambilan mayat, yakni pada 12 Desember 1945, ia perintahkan pesawat tempur kembali membombardir Bekasi. Usai bom berjatuhan, pasukan darat dengan tank-tank bergerak meluluhlantakkan rumah-rumah penduduk.

Sekitar 3.379 orang kehilangan tempat tinggal akibat serangan tersebut dan puluhan orang mengalami luka akibat tembakan dan bom.

Rangkaian peristiwa berdarah di Bekasi akibat serangan pasukan Inggris (Sekutu) di akhir tahun 1945 baru berakhir setelah Perdana Menteri melakukan seruan mengutuk atas tindakan pasukan Sekutu yang telah memasuki wilayah demarkasi yang telah disepakati.

Dunia internasional memberikan respons, bahkan parlemen Inggris pun tidak setuju dengan tindakan yang diambil oleh Letnan Jenderal Christison.

Editor : Taat Ujianto