• News

  • Singkap Sejarah

HUT RI Setahun Kurang Sebulan, Banjir Air Mata Etnis Tionghoa di Tangerang

Perumahan Tionghoa dibakar massa (Juli 1947)
Netralnews/Het Nationaal Archief
Perumahan Tionghoa dibakar massa (Juli 1947)

TANGERANG, NETRALNEWS.COM - Hingga bulan Juli 1946, dalam catatan Mingguan Star Weekly  Edisi bulan Juni 1946 seperti dikutip Benny G. Setiono dalam Tionghoa Dalam Pusaran Politik (2002: 582), terjadilah aksi penjagalan, pemerkosaan, dan pengusiran warga Tionghoa di sejumlah kawasan antara lain di Tangerang dan Mauk.

Korban aksi di luar batas peri kemanusiaan yang dilakukan oleh massa (jawara, rakyat biasa, hingga pasukan pejuang yang berbaur dan sulit dibedakan) yang mengaku prokemerdekaan Republik Indonesia (RI) itu mencapai korban jiwa hingga ribuan.

Di daerah Rawa Cina, ada seorang perempuan yang sedang mengandung, ditusuk, dan rahimnya dibuka sehingga menyebabkan bayinya lahir prematur dan meninggal dunia.

Tak kalah sadisnya, di daerah Bayur, seorang puteri keluarga Lim dilempar ke tengah-tengah api di muka ayahnya. Aksi kejam lainnya, seorang bayi, anak dari Oey Hap Sioe di Sepatan, dirampas dari pelukan ibunya dan dilempar ke tengah-tengah api.

Kemudian pada 31 Mei 1946, di Sabi (Karawaci), sebelas orang Tionghoa dibakar hidup-hidup.

Nama-nama mereka yang mati mengenaskan karena dibakar hidup-hidup antara lain: Liem Pit Bang, Liem Kian Hwie (80 tahun), Liem Piet Tjeng (18 tahun), Liem Rebo (16 tahun) dan Sie Kiem Sioe (15 tahun).

Tanggal 3 Juni 1946, di kampung Karet telah dibunuh dengan kejam Tan Seng Bo (57 tahun), Oey Hwee Nio (29 tahun) dan Oey Kiem Lioe (7 tahun).

Di Bodjongnangka (Cihuni), 20 rumah orang Tionghoa habis dibakar, penghuninya tidak langsung dibunuh tetapi ditangkap lalu dibawa pergi dan tidak diketahui nasibnya.

Dalam catatan Sin Po, 5 Juni 1946, diberitakan laporan bahwa di Tangerang telah terjadi 28 kali pembakaran rumah-rumah orang Tionghoa sementara penghuninya dibakar hidup-hidup.

Bisa dibayangkan bagaimana air mata membanjiri Tangerang di masa itu. Bisa dibayangkan pula bagaimana panik dan stresnya warga Tionghoa di daerah itu. Mereka yang selamat dan menjadi saksi atas berbagai kekejaman tersebut dipastikan akan mengingatnya sebagai kenangan pilu yang  tak mungkin bisa dilupakan.

Dalam laporan yang diterima Palang Merah Jang Seng Ie Jakarta, warga Tionghoa yang dibunuh di Tangerang dan sekitarnya mencapai sekitar 653 orang. Jumlah keseluruhan tersebut termasuk  136 perempuan dan 36 anak-anak.

Untuk rumah yang dibakar mencapai sekitar 1.268 rumah sedangkan 236 lainnya dirusak. Mereka yang berhasil selamat memilih mengungsi ke wilayah Jakarta. Jumlahnya mencapai sekitar 25.000 orang.

Mereka ditampung di gedung-gedung yang mendadak disulap menjadi tempat pengungsian antara lain di gedung perkumpulan Sin Ming Hui, di Molenvliet West (Jalan Gajah Mada) No. 188.

Bagi sebagian Tionghoa, rangkaian kekejaman tersebut bukan kemudian ditelan begitu saja. Tak sedikit yang berubah menjadi geram dan melahirkan beragam respons.

Pada tanggal 11 Juni 1946, diadakanlah acara berkabung. Semua orang Tionghoa di Jakarta menutup toko-toko mereka dan hanya berdiam di rumah. Sebagian lainnya berusaha  mengadukan persoalan  penjagalan di Tangerang kepada pemerintah RI.

Berita pun sampai ke telinga Pemerintahan RI yang kemudian membentuk tim khusus yang bertujuan meninjau kawasan Tangerang dan sekitarnya. Tim peninjau dipimpin Menteri Penerangan Mohamad Natsir.

Tokoh lain yang terlibat dalam tim tersebut adalah Noegroho, Lim Hok Soei, Masrin, Koebagoes Aksan, dua aparat dari Tentara Republik Indonesia, Oey Kim Sen dan Go King Liong (mewakili Sin Ming Hui), beserta para wartawan Kadir Said (Antara), RosihanAnwar (Merdeka) dan Lee Soei Ke (Sin Po).

Sambil berkeliling melalui jalur Bogor menuju Jasinga, Rangkas Bitung, Serang, Pontang, Lomas, Mauk, dan Rejeg, mereka meneriakkan seruan bahwa orang Tionghoa bukanlah musuh tetapi saudara.

Massa rakyat, laskar, dan pejuang yang berbaur menjadi satu serta beringas tak terkendali akhirnya mulai menjadi lebih lunak. Mereka diimbau agar tidak melakukan tindakan di luar kemanusiaan. Seruan tersebut juga disampaikan M. Natsir kepada Komandan Batalyon TRI di Jasinga.

Sementara itu, Perdana Menteri Sutan Sjahrir dalam pidatonya pada 7 Juni 1946 juga menyatakan penyesalannya atas kejadian penjagalan di Tangerang dan sekitarnya. Sayangnya, ia tidak menyebutkan apa yang mesti dilakukan warga Tionghoa maupun massa prokemerdekaan.

"Saja menjatakan sesalan serta doeka tjita saja terhadap sekalian korban-korban kekatjauan di sekitar Tangerang, jang disebabkan oleh karena Tentara kita terpaksa mengoendoerkan diri dari daerah jang selarna ini menjadi pengawasannja," demikian petikan pidato Sjahrir.

Warga Tionghoa kecewa dengan pidato Sjahrir yang tidak tegas mencegah timbulnya aksi brutal yang dilakukan massa prokemerdekaan. Akibatnya, warga Tionghoa khawatir akan kembali terjadi penjagalan.

Pilihan logis yang diambil sejumlah warga Tionghoa adalah dengan mengungsi ke wilayah yang dikuasai tentara Sekutu atau Belanda.

Sikap seperti itu kebanyakan dilakukan oleh warga Tionghoa kaya. Dalam perjalanan pengungsian, banyak di antara mereka dicegat laskar rakyat prokemerdekaan. Dengan menyuap uang, barulah warga Tionghoa bisa terbebas dari laskar rakyat.

Editor : Taat Ujianto