• News

  • Singkap Sejarah

Peristiwa 17 Juni 1946: Merah-Putih dan Chungking Berkibar di Stasiun Serang

Infografis kerusuhan dan penjagalan warga Tionghoa di Tangerang dan sekitarnya pada pascakemerdekaan
Netralnews/Nuramar
Infografis kerusuhan dan penjagalan warga Tionghoa di Tangerang dan sekitarnya pada pascakemerdekaan

TANGERANG, NETRALNEWS.COM – Menyimpulkan bahwa rangkaian tindak kekerasan tak berperikemanusiaan yang dilakukan massa prokemerdekaan terhadap etnis Tionggoa di Tangerang dan sekitarnya pada pascakemerdekaan, murni hanya sebagai peristiwa antirasial sebenarnya merupakan tindakan gegabah.

Pasalnya, tidak lama setelah terjadi penganiayaan, pembunuhan, pembakaran rumah, dan kekerasan seksual terhadap etnis Tionghoa berlangsung di Tangerang dan sekitarnya sepanjang Mei hingga awal Juni 1946, ribuan etnis Tionghoa mampu bersatu dengan massa pribumi (Indonesia).

Pramoedya Ananta Toer, dkk dalam Kronik Revolusi Indonesia I (1999: 236) menyebutkan bahwa pada tanggal 17 Juni 1946, sekitar 6.000 orang Indonesia dan Tionghoa telah berkumpul bersama di Stasiun Serang untuk memperingati hari ulang bulan Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Kala itu, Sang Saka Merah-Putih dan bendera Chungking (Republik Tiongkok) dikibarkan bersama-sama. Peristiwa ini merupakan peristiwa penting yang menunjukkan betapa erat hubungan antara kedua golongan Tionghoa dan Indonesia.

“Ini berlawanan dengan provokasi Belanda yang selalu hendak mengadu domba orang Tionghoa dengan orang Indonesia,” tulis Pramoedya seperti dikutip Benny G. Setiono dalam Tionghoa Dalam Pusaran Politik (2002: 586).

Di sisi lain, peranan Pemerintah RI melalui tim peninjau dipimpin Menteri Penerangan Mohamad Natsir (anggota tim antara lain Noegroho, Lim Hok Soei, Masrin, Koebagoes Aksan, Oey Kim Sen, Go King Liong, Kadir Said, RosihanAnwar, dan Lee Soei Ke), juga tak bisa diabaikan.

Beberapa saat setelah kerusuhan meletus di Tangerang pada bulan Mei-Juni 1946, tim berkeliling melalui jalur Bogor menuju Jasinga, Rangkas Bitung, Serang, Pontang, Lomas, Mauk, dan Rejeg. Mereka meneriakkan seruan bahwa orang Tionghoa bukanlah musuh tetapi saudara.

Massa rakyat, laskar, dan pejuang yang berbaur menjadi satu serta beringas tak terkendali akhirnya mulai menjadi lebih lunak. Mereka diimbau agar tidak melakukan tindakan di luar kemanusiaan. Seruan tersebut juga disampaikan M. Natsir kepada Komandan Batalyon TRI di Jasinga.

Dalam hal ini, Pramoedya berpendapat bahwa peristiwa penjagalan terhadap etnis Tionghoa di Tangerang dan sekitarnya merupakan salah satu bagian dari strategi adu domba yang direncanakan Belanda dalam upaya merebut wilayah Tangerang.

Hal ini terbukti dari pertistiwa pada 15 April1946. Hari itu, pasukan RI yang terdiri atas satu seksi dan sedang melakukan penjagaan pengangkutan Apwi (tawanan dan interniran Sekutu). Secara pengecut, mereka disergap oleh satu kompi serdadu Nica.

Terhadap penyergapan tersebut, pemerintah RI mengajukan protes keras terhadap Sekutu. Konon, Sekutu sempat berjanji untuk melakukan penyelidikan. Namun, janji tak pernah terwujud sementara Nica terus bergerak maju memasuki Tangerang.

Dalam peristiwa ini, mulai tersiar sas-sus bahwa penyergapan terjadi karena ada pihak-pihak yang telah membocorkan rahasia kepada pihak NICA. Dan dugaan ditimpakan kepada sekelompok etnis Tionghoa. Di masa itu, tuduhan terhadap etnis Tionghoa relatif mudah membakar emosi akar rumput.

Di sisi lain, tersiar kabar juga bahwa pada 28 Mei 1946, Tentara Republik Indonesia mundur dari Tangerang atas perintah dan seruan Perdana Menteri Sjahrir. Hari itu juga, pasukan infanteri dan kavaleri Belanda memasuki kota Tangerang.

Konon, pada siang hari itu, ada seorang etnis Tionghoa yang bergabung menjadi anggota pasukan Nica telah menurunkan Sang Sakan Merah-Putih dan menaikkan bendera Belanda. Kejadian itu dengan cepat tersebar dari mulut ke mulut massa prokemerdekaan.

Akibatnya, pada malam harinya, permukiman Tionghoa di sebelah barat sungai Cisedane, langsung dibakar oleh massa. Korban berjatuhan baik kalangan etnis Tionghoa maupun di pihak massa prokemerdekaan.

Peristiwa penjagalan tersebut sangat patut disesalkan padahal, di sekitar Tangerang sebenarnya ada komunitas keturunan Tionghoa yang bernama "Cina Benteng”. Keberadaan mereka sebanarnya sudah sukar dibedakan dengan orang-orang pribumi.

Komunitas ini telah berbaur dengan penduduk setempat (pribumi). Sehari-hari mereka berbicara dalam bahasa Melayu pasar dengan logat yang khas Tangerang. Bahkan, mayoritas sudah tidak bisa berbahasa Tionghoa.

Banyak di antara mereka secara turun-temurun menjadi petani atau buruh tani dan tidak ada perbedaan ekonomi yang menyolok dengan penduduk pribumi setempat. Di antara mereka sama-sama sebagai kelompok berekonomi lemah (miskin).

Mereka juga memiliki kebudayaan campuran Tionghoa dan pribumi seperti tercermin dalam kesenian gambang kromong dan tarian cokek.

Kalaupun ada perbedaan antara Tionghoa peranakan atau Cina Benteng dengan kaum pribumi hanyalah terletak pada rumah yang mereka tinggali. Di rumah Cina Benteng biasanya tertempel secarik kertas kuning bertuliskan aksara Tionghoa di atas pintu utamanya.

Kertas kuning itu bernama kertas Hoe yang bisa diperoleh dari klenteng yang dianggap berkekuatan magis karena telah diisi mantera penolak bala. Selain itu, bisa dilihat juga dari agama yang dipeluknya yang kebanyakan menganut Buddha, Tao, atau Konghucu.

Mereka berbaur tetapi tetap mempertahankan sebagain tradisi warisan leluhur mereka yang kebanyakan merupakan keturunan orang Tionghoa pengikut Souw Beng Kong dari Banten dan direkrut J.P. Coen ke Batavia.

Namun di tahun 1740, banyak di antara mereka dituduh melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan J.P. Coen (VOC) sehingga ribuan yang dibunuh. Sementara yang selamat memilih melarikan diri dan menetap di Tangerang. Mereka inilah yang kemudian dinamakan Cina Benteng.

Editor : Taat Ujianto