• News

  • Singkap Sejarah

Ketika Triwarna Kehilangan Birunya, Belanda Hilang Saktinya

Ilustrasi tokoh Soemarsono dan insiden Hotel Yamato
Netralnews/Istimewa
Ilustrasi tokoh Soemarsono dan insiden Hotel Yamato

SURABAYA, NETRALNEWS.COM – Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 berkumandang di Jakarta, ada banyak sekali tokoh yang ikut berperan dalam mempertahankan berdirinya negara Indonesia. Hanya saja, terlalu banyak  yang tak tercatat dan terlupakan.

Salah satu narasi yang pernah hilang dalam sejarah perang kemerdekaan adalah tokoh yang bernama Soemarsono.

Ia memiliki sumbangsih yang cukup penting selama pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Namun, namanya baru muncul setelah era Orde Baru tumbang. Tentu saja ada penyebabnya.

Mengenal Soemarsono

Soemarsono lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah, pada 26 Oktober 1921. Ia pernah mengenyam pendidikan Schakel School, lalu sempat mengikuti berbagai kursus kejuruan dan pernah  bekerja di sejumlah perusahaan Belanda. 

Di  masa Kolonial Belanda, ia bergabung menjadi anggota Gerindo di Jakarta. Ia pernah bertemu dengan Mr Amir Sjarifuddin dan menjadi salah seorang kadernya. Mengapa bisa demikian? Dua hal penyebabnya adalah karena mereka berdua sama-sama Kristen dan berideologi Marxisme.

Di masa pendudukan Jepang, Soemarsono bekerja di Sendenbu (Departemen penerangan dan propaganda Jepang) bersama Sukarni, Adam Malik, Chaerul Saleh, dsb. Di lembaga ini, ia memperoleh latihan penyiaran dan propaganda, juga latihan militer.

Bersama kelompok Sukarni dan Djohan Sjahruzah, ia mendapat tugas di Surabaya sebagai pegawai BPM yakni ikut serta mempersiapkan para pemuda di Surabaya menyongsong kemerdekaan.

Di Surabaya  itulah Soemarsono bergabung menjadi anggota PKI bawah tanah pimpinan Widarta dalam upaya melawan fasisme Jepang. Maka tak heran bila saat era kemerdekaan, ia berada di garis depan perjuangan, terutama di Surabaya.

Soemarsono kemudian memimpin memimpin Angkatan Muda Minyak dan Gabungan Pemuda Kantor bersama  Ruslan Widjajasastra.

Di masa inilah, ia terlibat pengerahan massa dalam isiden penurunan bandera triwarna milik Belanda di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya, tepatnya pada 19 September 1945.

Soemarsono sempat membukukan bagaimana kenangannya menjadi saksi mata atas peristiwa tersebut. Catatannya kemudiandibukukan dengan judul “Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan” (2010).

Secara garis besar, berikut kesaksian Soemarsono yang penulis kutip dari buku tersebut tentang bagaimana insiden hilangnya warna biru dari bendera Belanda. Persitiwa itu menjadi simbol untuk pertama kali Belanda kehilangan “kesaktiannya”.

Bendera kebanggaan nasional

Bendera merupakan simbol persatuan dan kebanggaan nasional. Maka, mengibarkan Sang Saka Merah Putih berarti mengibarkan kebanggaan bangsa dan negara Indonesia.

Di era pascakemerdekaan, bendera merah-putih menjadi sangat penting artinya. Saat itu Jepang sudah kalah, secara resmi, bendera Jepang kehilangan kedigdayaannya. Mereka tidak lagi berkuasa. Di Surabaya, bendera Jepang pun telah diturunkan para pemuda untuk digantikan Sang Merah-Putih.

Pada masa ini, di Surabaya sudah ada sekitar 19 organisasi pemuda dan buruh berbagai kantor dan tempat kerja. Para pemuda dan buruh yang tergabung dalam organisasi-organisai inilah yang mengambilalih aset-aset milik penjajah menjadi milik Rl.

Pagi hari, tanggal19 September 1945, sejumlah pimpinan Angkatan Muda Minyak sebanyak enam sampai tujuh orang sudah berkumpul di rumah Soemarsono  di Peneleh Gang Ill.

Mereka memperoleh berita bahwa di Hotel Yamato di Jalan Tunjungan telah dikibarkan bendera Belanda merah-putih-biru.

Hal itu menimbulkan kehebohan karena dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu kebanggaan rakyat Surabaya. Bendera Belanda berkibar berarti menantang rakyat Indonesia yang sudah menyatakan kemerdekaannya.

Soemarsono bersama banyak pemuda sepakat untuk mendatangi dan menurunkan bendera tersebut. Mereka turun ke jalan dan meneriakkan berita sambil membakar semangat rakyat.

"Bendera merah-putih-biru telah dikibarkan di Tunjungan!!" teriak Soemarsono dan kawan-kawan.

Di Hotel Yamato, terdapat sejumlah bekas tawanan perang dan interniran, laki, perempuan dengan mayoritas orang Belanda dan Indo yang akan dipulangkan.

Setelah Jepang menyerah, banyak di antara mereka ini merasa sebagai pemenang perang dan hendak merebut kembali aset-aset mereka, padahal sebelumnya, mereka telah terbirit-birit lari atau bertekuk lutut menyerah kepada Jepang.

Namun karena Sekutu sebagai pemenang Perang Dunia II datang, secara psikologis seolah mendapat dukungan. Rupanya di antara mereka juga telah mendapatkan sejumlah senjata rampasan Jepang.

Dengan pongahnya sekelompok bekas tawanan ini di bawah pimpinan Ploegman, bekas kapten tentara kolonial Belanda yang secara sembunyi ditunjuk sebagai Walikota Surabaya, dengan nekat mengibarkan bendera Belanda di atas hotel.

Soemarsono bersama sekitar 40 pemuda kemudian maju dan memasuki halaman hotel. Mereka berteriak, "Turunkan bendera itu, turunkan bendera itu!"

Di hotel tersebut tampak banyak orang asing termasuk para perwira lnggris. Somarsono masih ingat pemuda di sampingnya yakni Ruslan Widjajasastra. Ia adalah seorang wakil ketua Angkatan Muda Minyak. Dengan lantang Ruslan berteriak, "Keep down the flag, keep down the flag, put down the flag!"

Teriakan itu sama sekali tidak diindahkan. Sementara itu, massa semakin membanjiri hotel. Pemuda dan rakyat terus-menerus bertambah jumlahnya. Para pemuda itu di antaranya membawa senjata bambu runcing dan golok.

Dari dalam hotel keluar seorang kulit putih yang tinggi besar seperti raksasa, Ploegman, seorang bokser. Ia adalah seorang Belanda yang konon diangkat sebagai Walikota Surabaya oleh pemerintah Nica.

Ploegman membawa sepotong kayu besar yang kemudian diobat-abitkan ke arah pemuda yang mendekati hotel, bagaikan seorang Samson sambil memaki-maki secara kasar. Soemarsono dan sejumlah pemuda terjatuh karena aksi Ploegman.

Namun pemuda tetap merangsek sambil terus berteriak, "Turunkan bendera!" Pemuda semakin nekat dan berani melawan Ploegman.

Ploegman keluar lagi dengan batang kayunya. Pada saat itu saya lihat seorang pemuda mendekati dirinya tanpa ia ketahui dan menusukkan pisaunya bertubi-tubi.

Ploegman jatuh bercucuran darah dan tewas. Pada saat itu teriakan untuk menurunkan bendera kian membahana. Sejumlah pemuda telah membawa tangga untuk naik ke atap hotel, terdapat 8 sampai 10 pemuda naik ke puncak hotel.

Dari atap ada yang naik ke tiang bendera, dalam gemuruh teriakan bendera triwarna diturunkan, lalu bagian biru bendera itu pun dirobek dan dicampakkan, dan jadilah kini Sang Dwi Warna Merah Putih dikerek ke atas berkibaran di angkasa.

Massa langsung bertepuk tangan bergembira ria dan berteriak-teriak melihat Sang Saka Merah Putih berkibar. Di sekitar hotel, massa rakyat sudah mencapai ribuan orang.

Kemudian terjadilah rentetan tembakan dari dalam hotel yang menyebabkan korban di pihak rakyat. Namun hal itu tidak membuat massa takut.

Ketika itu ada sejumlah polisi Jepang (Kenpetai) yang berjaga tidak berbuat apa pun. Kemudian juga datang polisi Rl, belakangan Residen Surabaya Sudirman juga datang ketika Sang Dwi Warna Merah Putih telah berkibar.

Peristiwa ini merupakan kemenangan besar rakyat Surabaya, kemenangan rakyat Indonesia dalam rentetan menyambut dan mewujudkan kemerdekaan.

Berita penyobekan bendera yang kemudian terkenal sebagai Vlag Incident, lnsiden Bendera, tersebar dengan cepat dari mulut ke mulut ke seantero Surabaya dan sekitarnya.

Berita tersebut benar-benar membakar semangat rakyat Surabaya khususnya. Di mana-mana orang menyambutnya dengan bersorak-sorai dan dengan teriakan “Merdeka” yang membahana.

Bendera merah putih dikibarkan di mana-mana; dipasang di segala macam kendaraan, dari sepeda, becak, mobil, kereta api, in-signe merah putih dipasang di baju bagian dada, pada pici, hingga dicoretkan di tembok bersama semboyan kemerdekaan.

Editor : Taat Ujianto