• News

  • Singkap Sejarah

Jakarta Krisis Beras, Konflik Tentara RI vs Laskar Rakyat Merajalela

Seorang pasukan Sekutu bercakap-cakap sambil mempengaruhi warga Jakarta
Netralnews/Dok.Moeffreni
Seorang pasukan Sekutu bercakap-cakap sambil mempengaruhi warga Jakarta

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Jumat, 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) berkumandang di Jakarta. Gemanya tiba dengan cepat  di Yogyakarta dan segera disambut Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Keturunan raja Jawa tersebut  kemudian mengirimkan surat ucapan selamat atas kemerdekaan itu dan menyatakan bergabung dalam NKRI. Ketika pasukan Belanda tiba dan segera menduduki Jakarta pada 29 September 1945, Sri Sultan menawarkan agar ibukota NKRI dipindah ke Yogyakarta.

Surat Sri Sultan sampai di tangan Presiden Soekarno pada 2 Januari 1945, dan dua hari kemudian, Soekarno memutuskan menerima tawaran tersebut. Maka, tanggal 4 Januari 1945, serara resmi, ibukota Pemerintahan RI berpindah ke Yogyakarta.

Kota itu dipilih karena dianggap sebagai daerah yang paling siap menerima kemerdekaan Indonesia. Proklamasi sempat disiarkan di Masjid Gedhe Kauman. Masyarakat Yogya menyambut baik proklamasi. Selain itu, Yogyakarta juga merupakan daerah strategis dan memiliki lapangan udara.

Namun, perpindahan tersebut tidak membuat rakyat sekitar Jakarta ikut pindah ke Yogyakarta. Warga Jakarta menghadapi situasi yang paling rentan dipengaruhi karena berhadapan langsung dengan kekuatan militer Belanda. Kala itu pemerintah Kotapraja Jakarta Raya disebut juga Balai Agung.

Balai Agung dahulu terletak di sisi Selatan Lapangan Gambir. Seperti diterangkan oleh Moeffreni Moe’min dalam Jakarta-Karawang-Bekasi Gejolak Revolusi: Moeffreni Moe’min (1999: 270), Balai Agung adalah simbol pemerintahan kotapraja bagi orang-orang Indonesia yang berada di Jakarta.

Balai Agung dipimpin oleh Soewirjo, mantan anggota Poetra, Jawahokokai, dan anggota PPKI. Tugas Soewiryo cukup berat. Selain harus bekerjasama dengan Sekutu, ia juga harus memastikan warganya aman sementara pascakemerdekaan terjadi pergolakan anti-Tionghoa dan anti-Eropa.

Kekacauan terjadi di berbagai sisi kota sementara pihak Sekutu (pasukan Inggris) kerap abai sementara pasukan Belanda mulai menghasut warga agar tidak mempercayai Pemerintah RI. Di masa itu, komunikasi sulit dilakukan, transportasi banyak penghalang, dan keuangan pun serba terbatas.

Singkat cerita, sebulan setelah proklamasi, yakni memasuki bulan Oktober  I945, Jakarta mengalami krisis beras. Harga beras segera meroket. Dalam Kisah-Kisah Jakarta Menjelang Clash ke I (1979: 95), Rosihan Anwar menyebutkan bahwa selama bulan Okotober, harga beras di Jakarta mencapai 60 gulden.

Untuk menanggulangi masalah tersebut, Komite Nasional Indonesia (KNI) di Jakarta bersidang dan terbentuklah BOMA (Badan Oeroesan Makanan) yakni pada 19 Desember 1945. Tugas BOMA adalah untuk mengisi kekosongan dalam kegiatan Departemen Perekonomian.

BOMA memperoleh wewenang untuk monopoli pasokan beras ke Jakarta. Beras berusaha dikumpulkan dari daerah pelosok antara lain dari Keresidenan Subang dan Karawang. Masalahnya, di masa itu, untuk menuju daerah itu, keamanan sangatlah rawan.

Pengangkutan beras baik melalui kereta api maupun truk terhalang banyak kendala mulai dari pembegalan hingga kesimpangsiuran berita pascakemerdekaan. Sedikit saja terjadi kesalahpahaman, antara sesama bangsa bisa saling menyerang.

Pasokan beras dari Subang sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan warga di Jakarta. Masalahnya, stok tersebut juga mengalir ke Karawang, yakni daerah yang dikuasai pasukan prokemerdekaan. Sementara di Jakarta, selain untuk warga, juga untuk memenuhi kebutuhan pasukan Sekutu.

Karena target stok beras belum tercapai, BOMA kemudian berusaha menghubungi tentara RI (anggota TKR) dan anggota laskar rakyat (massa rakyat bersenjata prokemerdekaan) yang menguasai daerah dataran rendah Karawang-Bekasi-Cikampek, Jawa Barat. Di daerah tersebut, terdapat kantong-kantong sumber beras yang cukup melimpah.

Tugas BOMA tidak gampang sebab, sejak pejuang prokemerdekaan meninggalkan daerah Jakarta dan berkumpul di kawasan Karawang-Bekasi-Cikampek, semua jalan menuju daerah tersebut diblokade oleh para pejuang prokemerdekaan.

Di sisi lain, tugas Balai Agung memenuhi stok beras di Jakarta juga bagian dari upaya agara warga Jakarta tetap setia dan yakin dengan pemerintahan bentukan proklamasi. Jika warga Jakarta kelaparan, kepercayaan mereka kepada pemerintah RI pasti akan tergerus.

Salah satu strategi yang digunakan oleh Soewiryo adalah menugaskan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Wanita Indonesia (WANI) meluncur ke Karawang-Bekasi-Cikampek dan menemui komandan Resimen V Cikampek beserta pemerintah sipil yang ada di sana.

Organisasi WANI yang diketuai lbu Ema Djajadiningrat ini, sudah dikenal pasukan RI dan pernah berjasa memberikan logistik kepada mereka pada pertempuran-pertempuran sebelumnya di Jakarta.

"Mereka sudah berjasa pada kami waktu pertempuran di Jakarta memberi makan, nasi bungkus dan sebagainya. Kini saatnya kami balas jasa. Ini sudah merupakan more obligation,” tutur Moefreini.

Namun, sejak Resimen V pindah ke Cikampek, kala itu sudah ada satu organisasi bentukan laskar rakyat yang khusus menangani masalah beras di seluruh wilayah Karawang yaitu BERI (Badan Ekonomi Rakyat Indonesia) di bawah pimpinan Sofyan Tanjung dan Haji Agil.

Dengan modal sebesar 20.000 yen pinjaman dari Bank Rakyat, BERI dibentuk dengan tugas menanggung dan memenuhi biaya hidup (makan) anggota Laskar Rakyat Jakarta Raya di Karawang.

Mungkin karena dalam kondisi pascakemerdekaan yang serba minim komunikasi dan koordinasi, keberadaan BOMA di Jakarta ternyata dianggap saingan oleh BERI. Oleh sebab itu, BERI melakukan sabotase-sabotase agar beras tidak mengalir ke Jakarta.

Di sisi lain, masalah peredaran beras, kala itu juga diwarnai keberadaan oknum-oknya tak bertanggung-jawab. Motif dagang dan catut-mencatut sangat  mencolok ketimbang upaya melayani perjuangan. Dalam hal ini, BERI sempat kehilangan simpatik rakyat Karawang-Bekasi-Cikampek.

Perekonomian di Karawang-Bekasi-Cikampek tak terkendali. BOMA yang ingin memperoleh beras untuk atasi krisis di Jakarta dianggap dianggap sebagai suatu ancaman dan mendatangkan bahaya kelaparan bagi masyarakat Karawang-Bekasi-Cikampek.

Tanpa diduga, munculah kampanye anti pemerintah RI. Kampanye itu semakin menggelora karena ternyata juga dipengaruhi adanya propaganda busuk pihak Belanda. Segala usaha yang bersifat baik dari pemerintah, selalu dianggap sebagai ancaman dan merugikan rakyat jelata.

Dalam kekacauan tersebut, Moeffreni sebagai komandan Resimen V di Karawang turun tangan dan berusaha mengatasi kesimpangsiuran dan miskomunikasi yang terjadi di antara rakyat.

Kepada Sofyan Tanjung (pengurus  BERI), Moeffreni menjelaskan tugas PMI, WANI, dan BOMA. Resimen V pun bersedia turut membantu menjaga keamanan dalam pengiriman beras ke Jakarta.

Dengan jaminan tersebut, BERI akhirnya mau membantu pengumpulan dan pendistribusian beras ke Jakarta. Namun, respons baik dari BERI masih terkendala masalah lain. Sejumlah laskar rakyat menentang rencana tersebut dengan alasan semua itu hanyalah permainan dagang segelintir orang.

Hal ini menambah kemarahan laskar rakyat yang kemudian menyatakan tidak mau lagi dilayani oleh BERI. Perselisihan antara BERI dengan laskar pun telah tersebar, bahkan sampai dimuat dalam surat kabar Jakarta 24 Januari 1946.

Sofyan Tanjung atas nama BERI berupaya meluruskan kesimpangsiuran tersebut dan memberikan pengumuman yang dimuat dalam Berita ANTARA 26 Januari 1946.

Sementara itu, Moeffreni menugaskan Drachman untuk mengawal pengiriman beras ke Jakarta. Tugas tersebut berhasil setelah mengalami berbagai rintangan yang datangnya justru dari sesama pejuang, yakni dari kelompok laskar rakyat.

Walau dikawal tentara republik (TKR), pengiriman beras sering dihadang oleh laskar rakyat. Moeffreni berada di pihak tentara republik, sementara mereka yang menghadang berada di dalam laskar rakyat. Moeffreni  harus turun tangan memberikan penjelasan.

"Saudara-saudara mengerti bahwa di dalam kota Jakarta banyak rakyat yang prorepublik. Sekarang kalau mereka tidak ada makanan bagaimana mungkin mereka dapat melakukan perlawanan terhadap Belanda, NICA dan Sekutu. Mereka adalah kawan, sahabat kita rakyat Indonesia".

Dalam kesaksiannya, Kapten Soewardjono  juga membenarkan tentang tugas Resimen V untuk mengawal pengiriman beras ke Jakarta. "Tugas ini datang dari Perdana Menteri Syahrir langsung sebagai penguasa tertinggi pemerintah di Jakarta".

Pada saat mengirim beras itu, Resimen V sering menghadapi tantangan dari laskar yang liar. Mereka suka curiga "Jangan-jangan beras itu tidak sampai tujuan karena dirampas NICA". Begitulah pendapat dan kecurigaan mereka.

Tak jarang, pistol pun nyaris menyalak ketika ketegangan terjadi saat proses mpengiriman beras. Namun Moeffreni, ternyata berhasil mengawal pengiriman berasa dari daerah Karawang hingga sampai ke Jakarta.

Dengan beras tersebut, Resimen V berhasil menyelamatkan wajah pemerintah Indonesia. Beras tersedia di Jakarta menjadi kunci eksistensi Pemerintahan RI yang baru berusia beberapa bulan.

Editor : Taat Ujianto