• News

  • Singkap Sejarah

Dayak Berburu Kepala di Era Kolonial, Ubah Roh Musuh Jadi Kawan

Suku Dayak dalam potret tempo dulu
foto: brilio.net
Suku Dayak dalam potret tempo dulu

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Keunikan dan kekhasan suku Dayak di Kalimantan, ternyata sudah menjadi perbincangan menarik orang-orang Eropa sejak era Kolonial mencengkeram Nusantara. Para penjelajah (kolonial) dan kaum terpelajar di era Orde Baru telah membentuk konstruksi Barat tentang orang Dayak.

Sadar atau tidak, konstruksi tersebut di masa selanjutnya ikut mempengaruhi pandangan dan sikap bangsa dan negara Indonesia. Salah satu konstruksi yang melekat hingga kini adalah citra suku Dayak yang dianggap memiliki tradisi berburu kepala (penggal kepala musuh).

“Orang-orang Barat menggambarkan orang Dayak sebagai pemburu kepala dan sebagai orang-orang yang hidup secara komunal dari berburu dan mengumpulkan, dan tinggal di rumah-rumah panjang,” tulis DR Yekti Maunati dalam Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan (2006: 6).

Tuduhan tersebut bukan berarti menyatakan bahwa semua orang Eropa dan orang Idnonesia memiliki pandangan yang sama dan otomatis mengamininya. Pernyataan itu hanyalah salah satu petunjuk untuk melacak secara lebih jauh, mengapa ada orang Eropa berpendapat seperti itu.

Selain sebagai pemburu kepala, stereotip lain yang disematkan orang Eropa kepada suku Dayak di masa Kolonial adalah "primitif". Orang Dayak dianggap sangat berbeda  dengan pandangan masyarakat lain yang mengaku dirinya sebagai masyarakat yang beradab.

Penilaian sebagai suku yang memiliki adat dan kebiasaan eksotik, berburu kepala, hidup berkelompok di rumah-rumah panjang, berburu binatang di hutan, meramu, serta ritual-ritual kematian, di era Orde Baru diungkap oleh peneliti Barat antara lain Hoffman (1986); Freeman (1979); McKinley (1976); dan Hertz (1960).

Pemerintah Orde Baru, tampaknya banyak mengadopsi penilaian para ilmuwan tersebut. Dengan menyebut sebagai suku primitif dan terasing, Pemerintah tampil dan berupaya memberadabkan mereka. Padahal, representasi  seperti itu cenderung mengabaikan sisi keragaman budaya Dayak.

Suku Dayak sebenarnya memiliki lebih dari 400 sub suku, termasuk suku-suku Iban, Kayan, Molah, Kendayan, Kenyah, Punan, Ngajul dan Dusun. Masing-masing subsuku memiliki bahasa dan adat istiadatnya sendiri.

Keberagaman itu sering diabaikan dan dianggap sebagai suku yang tunggal. Sementara orang Dayak, mengidentifikasikan dirinya dengan sukunya berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, walau tetap memiliki kemiripan.

Bila ditelusuri asal-usulnya, istilah "Dayak" paling umum digunakan untuk menyebut “orang-orang asli non-Muslim, non-Melayu" yang tinggal di pulau Kalimantan. Menurut Lindblad (1993), kata Dayak berasal dari kata "daya" yang dalam bahasa Kenyah berarti hulu sungai atau wilayah pedalaman.

Citra "klasik" tentang suku Dayak yang dianggap sebagai  "orang-orang asli yang masih primitif" pada mulanya berasal dari tulisan-tulisan para pelancong Eropa sejak abad ke-19. 

Dalam catatan Saunders (1993), disebutkan ada sejumlah penulis Barat (Belcher, Keppel, Hugh Low, Frank Marryat) ikut menciptakan semacam citra “Barat” terhadap orang-orang di Kalimantan ini. Kehidupan mereka disebut-sebut penuh warna, terbiasa berburu kepala musuh dan menyukai rajah.

"Pelancong-pelancong paling dahulu [datang ke Kalimantan] bukanlah para wisatawan. Tujuan mereka bersifat penjelajahan, ilmiah, diplomatis, komersial, dan religius, tetapi tulisan-tulisan dan laporan-laporan mereka menambah pengetahuan orang Eropa," tulis Saunders.

Tulisan itulah yang kemudian melahirkan pandangan tertentu terhadap suku Dayak. Padahal, menurut Saunders, kebanyakan pelancong menulis bukan untuk tujuan ilmiah dan bukan untuk tujuan yang serius.

Citra yang paling populer tentang suku Dayak di Kalimantan adalah yang berkaitan dengan perburuan kepala, karya Bock yang berjudul  The Head-hunters of Borneo. Buku itu yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1881.

Tulisan seperti itu langsung mendapat banyak perhatian karena “dianggap sangat cocok dengan khayalan-khayalan dunia Barat tentang biadabnya kehidupan primitif” tulis McKinley (1976: 92).

Dijelaskan pula bahwa praktik berburu kepala dilakukan dalam kerangka untuk mendapatkan kekuatan supernatural. Orang Dayak disebut memiliki kepercayaan bahwa kekuatan supernatural terletak di dalam kepala manusia.

Orang Dayak disebut-sebut meyakini bahwa tengkorak kepala manusia yang sudah dikeringkan adalah sihir yang paling kuat di dunia. Sebuah kepala yang baru dipenggal  dari lehemya, cukup kuat untuk menyelamatkan seantero kampung dari wabah penyakit.

Sebuah kepala yang sudah dibubuhi ramu-ramuan, bila dimanipulasi dengan tepat, cukup kuat untuk menghasilkan hujan, meningkatkan hasil panen padi, mengusir roh-roh jahat, dan membagikan pengetahuan dari orang-orang pintar suku itu.

Kepercayaan seperti itu dianggap sebagai pemicu dorongan untuk terus melakukan perburuan kepala. Semakin banyak tengkorak kering yang ada, semakin besar kekuatan yang dihasilkan oleh gabungan dari kekuatan-kekuatannya.

"Suku yang tak memiliki kepala, atau ulu, alas namanya tidak akan mampu melawan mandau-mandau dan panah-panah beracun milik suku tetangga mereka yang lebih lengkap peralatannya," tulis Miller (1946: 121).

Sementara McKinley (1976:95) menyebutkan bahwa kepala-kepala yang dipenggal berasal dari pihak musuh. "Orang-orang yang dulu menjadi musuh-musuh kita, dengan ini menjadi pelindung, sahabat, dan pemberi rezeki bagi kita."

Dengan demikian, McKinley menggambarkan ritual perburuan kepala itu sebagai sebuah proses transisi. Orang-orang yang sebelumnya merupakan musuh, setelah dipenggal, rohnya (kekuatan gaibnya) diubah menjadi sahabat dengan cara mamadukan mereka ke dalam dunia keseharian.

"Kepala dipilih sebagai simbol yang pas untuk ritus-ritus ini karena kepala mengandung unsur wajah, yang dengan cara yang serupa dengan nilai sosial tentang nama-nama personal, merupakan simbol yang paling konkret dari jati diri sosial (social personhood)," imbuh  McKinley.

Kepala musuh yang telah telah dipenggal memiliki fungsi jati diri sosial yang pada akhirnya merupakan atribut paling manusiawi milik si musuh dan kini telah menjadi atribut yang diklaim oleh komunitas pemburu (pemenggal) kepala.

Editor : Taat Ujianto