• News

  • Singkap Sejarah

Satu Tokoh Pemicu Rasisme Ternyata Pangeran Diponegoro

Ilustrasi  Perang Jawa
Netralnews/Istimewa
Ilustrasi Perang Jawa

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Mengutip catatan Didi Kwartanada dalam buku Peter Cerey berjudul Orang Cina, Bandar Tol, Candu, dan Perang Jawa (2007), golongan etnis Tionghoa (sering pula ditulis Cina) di era Kolonial selalu dimanfaatkan sebagai "minoritas perantara" (middlemen minorities) sekaligus "mesin pencetak uang".

Yang perlu diperhatikan, peran tersebut bukan hanya disematkan oleh pemerintah Kolonial, tetapi juga oleh raja-raja di Jawa. Sebelum Belanda bercokol, orang Tionghoa sudah bekerja bagi raja, misalnya sebagai kepala syahbandar.

Sementara itu, di era Kolonial tak hanya sebagai perantara dagang, tetapi juga dimanfaatkan sebagai petugas penarik pajak gerbang “tol” (jalur transportasi untuk perdagangan di era itu). Salah satunya adalah To In, Kapitan Cina pertama (1755-1764).

Dari hasil pajak gerbang tol yang dikumpulkan To In beserta penerusnya, tercatat berhasil menyumbang f.128.000 atau naik tiga kali lipat dari jumlah yang dikumpulkan pada tahun 1755. Hasil pajak tersebut diserahkan saat Sultan Hamengku Buwono I mangkat (1792).

Untuk melihat bagaimana asal-usul paham rasisme merebak di Jawa, kita bisa menengok rangkaian pertistiwa di balik Perang Jawa yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro (kadang ditulis Dipanegara) tahun 1825-1830. Di periode tersebut, marak pula praktik rasisme anti-Tionghoa.

Tionghoa sebagai minoritas perantara

Memang, di masa itu, pihak Kolonial mutlak membutuhkan tenaga yang loyal kepada mereka. Keterbatasan sumber daya manusia dipenuhi oleh etnis Tionghoa yang menurut orang Belanda memiliki perangai yang sesuai.

Singkat cerita, etnis Tionghoa identik menjadi "perantara" antara golongan pribumi dengan pihak penguasa. Karena posisi inilah, berbagai tindak kekerasan sering dialami etnis Tionghoa.

Setiapkali terjadi huru-hara, etnis Tionghoa dari dulu sampai sekarang, rentang menjadi kambing hitam. Mengapa bisa demikian?

Kaum "minoritas perantara" biasanya memainkan peran seperti pemilik toko, pembunga uang (mindring), dan penarik pajak profesional independen, pengepul yang memainkan harga, dan sebagainya. Peran Tionghoa sering dianggap kurang bermartabat oleh kaum pribumi.

Akibatnya, mereka rentan dimusuhi. Saat kekacauan terjadi, etnis Tionghoa sering menjadi kambing hitam alami (natural scapegoat). Ketika tak berdaya, mereka memohon perlindungan kepada kelompok dominan yang bisa memberikan keamanan yang dibutuhkan.

Seperti dicatat Peter Carey, "sebagai akibat dari peristiwa-peristiwa pada tahun-tahun 1810-an dan 1820-an, orang-orang Cina sendiri menjadi semakin sadar akan kedudukannya yang terbuka dan mudah diserang di dalam masyarakat Jawa".

Loyalitas akan mereka berikan kepada siapapun yang bisa menjamin keselamatan mereka. “Ironisnya, bahkan apabila musuh mampu memberikan jaminan keamanan, mereka pun tidak segan-segan mengalihkan loyalitasnya kepada sang Musuh,” tulis Didi Kwartanada.

Dampak ikutannya, muncul pula anggapan bahwa etnis Tionghoa memiliki sifat oportunis. Mereka yang berpikiran demikian, sebenarnya hanya terjebak pada konsepsi secara hitam-putih (pahlawan atau pengkhianat), tanpa memahami hakekat mereka sebagai "minoritas perantara".

Bak makan buah simalakama, orang Tionghoa serba sulit dan rentan menjadi korban di segala sisi. Jika terlibat dalam kalangan oposisi, mereka dicap subversif. Bila mendukung penguasa, mereka dicap oportunis. Menjauh dari politik, pun dicap hanya peduli mengeruk untung belaka (ekonomi).

Perang Jawa

Bicara mengenai Perang Jawa, sebenarnya bukan hanya kisah perlawanan antara kaum pribumi melawan pihak kolonial tetapi juga ada kisah bagaimana relasi Tionghoa-Jawa. Kala itu, etnis Tionghoa memiliki posisi hukum yang istimewa seperti termuat dalam undang-undang (1798).

Dalam undang-undang tersebut, salah satunya memuat bahwa jumlah diyat (uang darah), apabila seorang Cina terbunuh akan memperoleh 200 reyal. Jumlah itu adalah dua kali lipat dibanding orang Jawa.

Karena hal ini, oleh pujangga Mesir, Abdullah bin Muhammad Al-Misri (1810), digambarkan bahwa orang Jawa di Jawa Timur senang sekali apabila dapat menikah dengan orang Cina. Artinya, sebelum perang Jawa berkecamuk, ada kecenderungan biasa orang Jawa menikah dengan orang Cina.

Namun, saat Perang Diponegoro meletus, terjadi perubahan drastis. Sang Pangeran pernah mengumumkan bahwa orang Cina adalah salah satu target "Perang Suci" yang akan dikobarkannya. Mereka juga layak dibinasakan bila tidak bersedia memeluk agama Islam.

Seruan itu terekam dalam Babad Diponegoro. “Saya yang akan mempertahankan (mereka) dalam perang (dan) para ulama (akan memberi) semangat sebagai pendeta untuk membinasakan Belanda dan Cina yang tinggal di Tanah Jawa, apabila mereka tidak menganut agama Paduka Nabi Sinelir.”

Secara khusus, saat Diponegoro mengalami kekalahan, ia juga menimpakan kekesalannya kepada seorang perempuan Cina sebagai kambing hitam. Padahal, suatu malam sebelum perang, ia menggauli perempuan tersebut.

Ia menyamakan kesialan yang dialaminya dengan iparnya, Sasradilaga, yang dalam dua pertempuran berbeda, mengalami kekalahan setelah melakukan hubungan serong dengan nyonya Cina.

Ironisnya, Pangeran Diponegoro tidak bisa menerima kekalahan, sehingga menyalahkan putri-putri Cina itu sebagai biang keladi kekalahan. Dalam catatan Denys Lombard, seperti dikutip Didi Kwartanada, memberikan komentar itulah contoh "gagasan yang sepenuhnya rasialis."

Yang lebih parah lagi, pembantaian yang dilakukan orang Jawa terhadap orang Tionghoa yang terjadi selama perang Jawa, ternyata dipicu oleh pandangan Dipanegoro yang menyuarakan semacam "ideologi" rasisme kepada pengikutnya.

“Orang Cina tidak sekadar dimasukkan dalam kategori orang kafir, tetapi pengikut Dipanegoro juga dilarang secara resmi bergaul dengan wanita Cina maupun untuk mengambil wanita peranakan sebagai selir,” tulis Didi.

Jadi, bila era sebelum Perang Jawa meletus pernah ada kecenderungan perkawinan alamiah antara orang Jawa dengan etnis Tionghoa, berubah menjadi musnah. Seperti diceritakan Carey, maka muncullah mitos untuk membuat lelaki Jawa takut menikahi perempuan Cina.

Ada mitos bahwa "abu" orang Cina lebih tua sehingga nanti anak-anak hasil percampuran itu akan lebih dominan sifat Cina-nya. Dampak lebih jauh, orang Tionghoa didorong semakin jauh menjadi "orang asing" (outsider).

Editor : Taat Ujianto