• News

  • Singkap Sejarah

Melongok Jejak Sejarah Penajam Paser Utara, Bakal Ibu Kota Baru

Meriam peninggalan zaman perang di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim
foto: helloborneo.com
Meriam peninggalan zaman perang di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Nama Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur  langsung naik daun setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan daerah tersebut sebagai salah satu wilayah yang akan dijadikan sebagai ibu kota pemerintahan yang baru.

Bila pembangunan dimulai, dipastikan daerah ini akan berubah wujud dengan cepat. Oleh sebab itu, alangkah baiknya bila semua pihak melakukan “perekaman” jejak sejarah kota Penajam.  Ini adalah sepenggal kisah tentang asal-usul daerah tersebut berdasar penelusuran Netralnews.com.

Di sebelah Utara, Kabupaten Penajam Paser Utara berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Sebelah timur, berbatasan dengan Selat Makassar, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Paser, serta sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Kutai Barat.

Daerah Penajam Paser Utara, sejak dahulu kala merupakan wilayah hunian Suku Paser Tunan dan Suku Paser Balik. Kedua suku ini merupakan bagian subsuku Paser yang mayoritas tinggal di daerah lain yakni di Kabupaten Paser.

Sebelum tersentuh peradaban Hindu-Budha (abad ke-4), peradaban Islam, dan kolonial, semua suku di wilayah tersebut hidup berpencar dan masing-masing memiliki sistem budaya sendiri-sendiri. Di masa selanjutnya, munculah sistem kerajaan kecil yang biasa disebut sebagai Kerajaan Adat.

Sistem pemerintahan hingga sistem adat yang berlaku merupakan hasil dari tradisi yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur mereka.

Mereka kebanyakan bekerja sebagai nelayan dan petani. Oleh sebab itu, tak mengherankan bila kerajaan yang didirikan selalu berdekatan dengan sungai atau teluk.

Setiap kerajaan adat terdapat seorang yang dituakan atau ketua adat. Di kemudian hari, ia dianggap sebagai sosok raja. Salah satu suku yang pernah membentuk kerajaan di wilayah ini adalah Suku Adang dan suku Lolo yang tinggal di muara Sungai Lolo.

Sementara yang lainnya, seperti suku Kali membangun sistem pemerintahan di daerah Long Kali, Paser. Kemudian suku Tunan berada di muara Sungai Tunan, Penajam. Juga, suku Balik yang membangun kerajaan adat di sekitar teluk Balikpapan.

Di masa selanjutnya, suku Balik ternyata menjadi bagian wilayah dari kerajaan besar yang bernama Kutai Kartanegara. Sementara kerajaan adat suku Adang, Lolo, Kali, dan Tunan ditaklukkan dan menjadi wilayah Kerajaan Paser.

Secara perlahan, kerajaan adat dari suku-suku terbut menghilang seiring bertambahnya pendatang dan banyaknya warga yang pindah ke pusat pemerintahan Kerajaan Paser dan Kutai Kartanegara. Sementara lainnya memilih masuk ke pedalaman.

Sayangnya, hingga kini belum ada kajian mendalam tentang keberadaan kerajaan-kerajaan adat yang pernah berdiri di wilayah Kalimantan Timur. Konon, sebagain mengalami kepunahan ketika tidak mampu bersaing dengan peradaban dari luar.

Dalam catatan sejarah Kerajaan Paser abad ke-13 atau pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Alamsyah, untuk kerajaan adat Tunan (Penajam) sering disebut-sebut dengan nama Tanjung Jumlai.

Wilayah ini dianggap sangat penting sehingga dibangunlah sistem pertahanan lengkap dengan armada perang untuk mengamankan wilayah kerajaan di bagian Utara (Penajam Paser Utara). 

Di wilayah ini juga diperkuat dengan armada angkatan laut. Tokoh yang berperan penting dalam sistem pertahanan itu adalah seorang bangsawan Bugis dari Sulawesi Selatan yang bernama Petta Saiye. 

Petta Saiye memiliki 4 orang tenaga ahli, tukang, dan pekerja biasa berjumlah 50 orang.  Peran mereka sangat penting dalam memodernisasi kapal-kapal perang. Tak hanya dalam membuat kapal, Petta Saiye juga dipercaya Sultan Sulaiman Alamsyah untuk mencari persenjataan.

Untuk mendapatkannya, Petta Saiye melakukan sistem barter yakni menukar rotan, getah wangkang, getah ketiau, dan emas. Ia berangkat ke perairan Sulawesi Selatan untuk menukarnya dengan senjata milik orang Belanda, Spanyol, dan Portugis. 

Sayangnya, saat Petta Saiye tiba di lokasi yang dimaksud, kapal Portugis yang biasanya membawa persenjataan sudah jarang masuk ke wilayah Sulawesi Selatan. Ia tidak patah arang dan mencoba melanjutkan pencariannya ke Pulau Timor yaitu di Negeri Delly.

Di pulau tersebut, Petta Saiye berhasil menemui orang Portugis yang bernama Dacosta. Ia kemudian menawarkan pertukaran. Tawaran itu diterima Dacosta tapi dengan satu syarat, yakni pertukaran harus dilakukan di Negeri Delly untuk menghindari gangguan pasukan Belanda.

Petta Saiye setuju. Ia segera mengangkut hasil bumi dari Kerajaan Paser menuju lokasi yang ditentukan. Sebagai gantinya, Petta Saiye berhasil mendapatkan meriam, senapan, dan mesiu.

Persenjataan itu diangkut ke Kerajaan Paser. Sebagian senjata ditempatkan pula di pelabuhan Tanjung Jumlai  (kini masuk wilayah Desa Tanjung, Penajam Paser Utara).

Kisah tersebut menjadi salah satu bukti bahwa Kerajaan Paser memiliki kedekatan dengan bangsawan bugis dari Sulawesi Selatan. Dengan persenjataan itu, Kerajaan Paser menjadi lebih berpengaruh dan disegani.

Sekitar tahun 1970-an, di daerah ini juga ditemukan banyak sekali peninggalan perang berupa meriam, bekas jembatan, jalan penghubung, dan sejumlah bunker.

Sayang sekali, hingga kini, peninggalan tersebut belum diteliti secara mendalam. Diduga itu adalah jejak peninggalan era Perang Dunia II dan perang kemerdekaan.

Di era kemerdekaan, Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan Kabupaten ke-13 di Provinsi Kalimantan Timur. Secara yuridis formal terbentuk baru pada tahun 2002 seperti tertuang dalam UU No. 7 tahun 2002 yang berisi tentang Pembentukan Kabupaten Penajam Paser Utara.

Daerah cakupanya meliputi empat kecamatan, yakni Kecamatan Penajam, Waru, Babulu, dan Sepaku.  Semboyan daerah ini adalah “Benuo Taka” yang artinya “Kampung Halaman Kita”.

Semboyan ini berasal dari bahasa Suku Paser yang ingin menyatakan bahwa Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan daerah bagi beragam suku, ras, agama, dan budaya, namun tetap memiliki kesatuan ikatan kekeluargaan.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber