• News

  • Singkap Sejarah

Mengenang Revolusi Kain-Timur di Papua Barat (1)

Pasukan Belanda bersama warga Jayapura tahun 1962
foto: Spaarnestad Photo
Pasukan Belanda bersama warga Jayapura tahun 1962

MAYBRAT, NETRALNEWS.COM – Catatan tentang "Revolusi Kain-Timur di Papua Barat" ini, ditulis pertama kali oleh Jan Massink, sekitar tahun 1953. Tulisan tersebut berjudul “Revolusi Kain-Timur di Ayamaru” dan dibukukan oleh Pim Schoorl dalam Belanda di Irian Jaya (2001: 471).

Kala itu, Jan Massink bertugas sebagai Kontrolir Wim van der Veen di Onderafdeling Ayamaru di Vogelkop (kini masuk Distrik Ayamaru, Maybrat, Papua Barat). Daerah ini adalah pos pertama yang dibangun Pemerintah Belanda ketika masih berusaha merebut Papua Barat.

Sejak dahulu, Distrik Ayamaru terkenal sebagai daerah yang menarik karena memiliki keragaman alam, keragaman penduduk, dan memiliki budaya yang unik. Daerah pantainya datar dengan sungai-sungai lebar, lengkap dengan banyak pohon sagu.

Banyak orang Papua di daerah itu sudah memeluk agama Kristen. Sementara tak jauh dari desa-desa di distrik tersebut, terdapat pegunungan karst, memiliki sungai berarus deras yang menyelinap di gua-gua pegunungan.

Pos Ayamaru didirikan tahun 1950 oleh Kontrolir Piet Merkelijn. Dahulu, untuk mencapai daerah ini tidaklah mudah. Perbekalan dan kebutuhan orang Belanda didatangkan harus dengan menggunakan pesawat Catalina dari Dinas Penerbangan Angkatan Laut.

Artikel terkait

Mengenang Revolusi Kain-Timur di Rumah Tengkorak Leluhur Papua (2)

1950-an: Jatidiri Papua Baru Bangkit Sesaat, Datanglah Tentara RI (3)


Cara lain adalah dengan diangkut dari Teminabuan melalui jalan setapak sepanjang 35 kilometer, melintasi perbukitan, dan melewati lembah-lembah yang sesudah hujan lebat kadang-kadang banjir hingga sebatas leher.

Satu hal yang menyita perhatian Jan Massink di masa itu adalah keberadaan "kain timur" (kadang ditulis "kain timor"), sebagai salah satu produk budaya dan sebagai simbol penting warga Papua yang sulit dijelaskan dengan sederhana.

Fungsi kain timur di tahun 1954

Selain Jan Massink, tentang kain timur, pernah juga diangkat dalam disertasi JM Schoorl tahun 1979, kajian J Miedema tahun 1984, dan PHW Haenen tahun 1991.

Kain timur, sejak dahulu sudah menjadi barang dagangan penting di Kepulauan Sunda Kecil dan Maluku. Konon, kain timur juga digunakan sebagai alat tukar budak belian, burung cenderawasih, dan hasil hutan, di masa Raja Temate dan Tidore sekitar abad ke-11.

Dalam perkembangannya, Distrik Ayamaru kemudian menjadi salah satu pusat peredaran kain timur. Kain tersebut memberikan dampak unik dalam sistem perkawinan yang berlaku bagi masyarakat Papua.


Sebelumnya, banyak perkawinan warga Papua dilakukan melalui pertukaran saudara perempuan. Sistem tersebut menyebabkan lelaki yang tidak mempunyai saudara perempuan sulit menikah.

Oleh karena itu, dulu, seperti dicatat Jan Massink, ada model perkawinan yang dilakukan dengan menculik seorang perempuan dari kelompok lain. Cara itu tentu saja rentan menimbulkan perkelahian dan pembunuhan.

Dengan adanya kain timur, warga Papua menjadikannya sebagai maskawin. Dengan cara itu, proses perkawinan bisa berlangsung dengan damai. Hanya saja, jangan disamakan model maskawin yang berlaku di Ayamaru  dengan daerah lain. Di Ayamaru, pertukaran maskawin jauh lebih rumit. 

Jenis kain timur

Model kain timur di Ayamaru terdiri dari dua jenis yakni kain yang bersifat sakral (erfdoeken: kain pusaka) dan yang profan (zwerfdoeken: kain jalan). Kain pusaka dalam bahasa Maybrat disebut “wan” dan dipercaya memiliki kekuatan bersifat magis-religius.

Kain timur yang dijadikan sebagai kain pusaka milik leluhur akan diwariskan turun-temurun (dari ayah sebagai anak laki-laki tertua turun kepada anak laki-lakinya tertua) dan dimanfaatkan untuk menjalin kontak dengan leluhur.

Kain pusaka disimpan di dalam “rumah tengkorak”, tempat penyimpanan tengkorak para leluhur.

“Kalau keadaan sulit, misalnya berjangkitnya penyakit atau kegagalan panen, perlu diadakan pertemuan di rumah tengkorak untuk menghubungi para leluhur di depan tengkorak-tengkorak tersebut seraya membentangkan wan,” tulis Jan Massink.

Warga akan berkata: "Ayah, jangan marah, wan ini milikmu. Saya telah membentangkannya, ada masalah, anak: kami sakit."  Acara serupa biasanya juga diadakan saat menjelang perkawinan dan sesudah kelahiran atau kematian.

Artikel terkait

Mengenang Revolusi Kain-Timur di Rumah Tengkorak Leluhur Papua (2)

1950-an: Jatidiri Papua Baru Bangkit Sesaat, Datanglah Tentara RI (3)


Sementara kain timur yang disebut sebagai “kain jalan” dalam bahasa Maybrat disebut “bo”, memiliki nilai sosial-ekonomis.

Biasanya, kain ini digunakan untuk membayar denda (misalnya atas perbuatan zinah), untuk tenaga yang disumbangkan oleh orang lain,misalnya kepada “wofle” (dukun) yang mengajarkan adat, pertanian, pengobatan kepada para pemuda, dan yang paling utama adalah untuk maskawin.

Sebelum melangsungkan perkawinan akan didirikan "rumah harta". Di rumah itulah sebagian besar dari hidup lelaki akan berlangsung. “Rumah harta dapat dibandingkan dengan bursa, lengkap dengan para hartawannya, pemegang saham, dan fluktuasi nilai tukar kain tersebut.” Tulis Jan Massink.

Karena keterbatasan kain timur di masa itu, transaksi pertukaran dengan menggunakan kain timur menyebabkan proses menuju perkawinan harus dipersiapkan selama bertahun-tahun.

Simbol kalangan elite

Tokoh penting masyarakat Maybrat adalah "bobot”. Ia adalah pemilik “wan”. Ia adalah pemegang monopoli hubungan dengan leluhur, dan karenanya ia menjadi pemilik banyak “bo”.

Seseorang yang memiliki “wan” (bobot) otomatis akan menempati posisi elite di masyarakat. Ia akan lebih mudah mendapatkan “bo” sehingga ia diidentikkan juga sebagai orang kaya.

Dalam pengertian tertentu, Haenen (1984: 208) seperti dikutip Jan Massink, menyebut bobot identik dengan istilah "bankir Papua", "kapitalis primitif”, atau "mak comblang perkawinan",  Mereka berperan sebagai perantara dan memanipulasi peredaran kain-kainnya.

Dalam persoalan seperti itu, tak ada aturan hukum produk Belanda bisa mengatur sosok bobot. Sementara itu, mengumpulkan kain malahan dianjurkan. Gengsi orang dapat menanjak oleh karenanya.

Namun, penumpukan “bo” di tangan segelintir orang rentan menimbulkan ketimpangan sosial. Bobot bisa menciptakan sekelompok pengutang, yang harus membayar dengan bekerja baginya, bahkan bisa sampai sepanjang hidup kalau utangnya tidak dapat dilunasi.

Dalam arti tertentu, bobot menjalankan model perbudakan terselubung. Kerawanan lain adalah terjadinya perkelahian ketika tidak terjadi kesepakatan saat berlangsung pertukaran maskawin. (Bersambung)

Editor : Taat Ujianto