• News

  • Singkap Sejarah

Mengenang Revolusi Kain-Timur di Rumah Tengkorak Leluhur Papua (2)

Kunjungan anggota Parlemen Belanda ke Papua tahun 1957
Netralnews/Istimewa
Kunjungan anggota Parlemen Belanda ke Papua tahun 1957

MAYBRAT, NETRALNEWS.COM – Penelitian Jan Massink tentang keberadaan kain timur di Papua  sekitar tahun 1953 ditulis dengan judul “Revolusi Kain-Timur di Yamaru”. Kajiannya kemudian  dibukukan oleh Pim Schoorl dalam Belanda di Irian Jaya (2001: 471).

Jan Massink menemukan fakta bahwa sistem kain timur di Papua jauh lebih kompleks daripada yang ia sangka. Pesta-pesta di sekitar kelahiran, perkawinan, dan kematian, hanyalah sebagian bidang sosial yang berhubungan dengan pertukaran kain timur.

Dalam catatan JE Elmberg seperti dikutip Jan Massink, kain tersebut disebut sebagai "pendamping siklus hidup dari ranjang bayi hingga kubur". Di daerah Kebar, kain tersebut berfungsi sebagai maskawin, tetapi istilah "maskawin" itu menyesatkan.

Meskipun perkawinan dilaksanakan dan mahar telah diserahkan, tetapi sesudah itu masih ada "sejumlah pembayaran" tambahan pada waktu kelahiran seorang anak, atau kalau kerabat istri minta bantuan kepada menantunya. Orang Kebar sendiri punya istilah “bayar sampai mati” tulis Miedema (1984: 97).

Di daerah lain, fungsi kain timur itu jauh lebih rumit. Ada sederet ganti rugi melalui pemberian kain timur di luar maskawin, misalnya terkait hubungan seksual sebelum kawin, bunuh diri, serta ganti rugi terkait kerugian atas kebun atau tanaman.

“Itu semua adalah keadaan yang dapat dimintakan ganti rugi dalam bentuk kain” tulis Schoorl (1979: 191).  Kain timur digunakan untuk pesta akhir inisiasi. Pada waktu sakit, sehelai kain timur sebagai bantal si sakit untuk menyembuhkannya.

Bila ada kematian, sehelai atau sesobek kain kadang-kadang diletakkan di dekat jenazah orang yang selama hidupnya terpandang dalam masyarakat.

Artikel terkait

Mengenang Revolusi Kain-Timur di Papua Barat (1)

1950-an: Jatidiri Papua Baru Bangkit Sesaat, Datanglah Tentara RI (3)

Di Meybrat, juga ada sistem klasifikasi kain yang jauh lebih terdiferensiasi. Menurut catatan Haenen (1984:212), ada dua belas kategori yang dibagi lagi menjadi 550 jenis. Kain-kain tersebut semakin berkembang menjadi simbol dan daya hidup masyarakat Papua.

Sementara itu, keberadaan Bobot (kalangan elite dalam masyarakat Papua, pemilik kain pusaka yang disimpan di rumah tengkorak leluhur dan memiki banyak kain profan) adalah orang yang dalam peredaran kain menduduki posisi kunci yang kokoh.

Dengan gaya murah hati ia dapat memberikan kain kepada orang miskin yang tergantung kepadanya. Sebab, orang yang memiliki ban yak kain dapat meminjarnkan banyak sehingga orang berutang (budi) kepadanya, bahkan berpeluang menunda-nunda pelunasannya.

Bobot berkuasa karena ia pemegang kunci untuk berhubungan dengan para leluhur. Dengan kain timur pusaka yang dimikinya, ia dianggap memiliki kekuatan supranatural.

Schoorl mengisahkan mitos tentang seorang wanita yang tengah istirahat berban-talkan batu. "Ia tertidur dan bermimpi ada ular di bawah batu. Ia bang-kit meloncat, meraih parangnya, tetapi ketika ia menggelundungkan batu, di situ tidak ada ular melainkan kain yang pertama" (Schoorl 1979:165).

Sementara Haenen membeberkan enam legenda yang mengungkapkan asal-usul mitologisnya. Di situ yang menarik ialah peran wanita sebagai dewi, ratu, atau bidadari.


Unsur mitologis ini menggambarkan jalannya perputaran kain yang sebenarnya, di mana wanita memainkan peranan perantara sebagai ibu, saudara perempuan, mempelai perempuan, dan anak perempuan.

“Sebagai saudara dan anak perempuan, mereka menjadi perantara untuk menghadirkan, sebagai ibu dan mempelai perempuan untuk ‘mengeluarkan’ kain timur,” tulis Haenen (1991:31).

Juga dari segi lain, wanita temyata menempati kedudukan penting dalam tukar-menukar kain timur; termasuk pembayaran untuk daya bagian-bagian tubuh wanita waktu bersanggama.

Haenen dan narasum-bemya berkesimpulan bahwa fungsi kain timur itu beragam; kain timur memungkinkan orang (laki-laki) mendapat jodoh, melambangkan (bagian-bagian) tubuh wanita, serta memberi keabsahan sosial pada pelayanan seksualnya (Haenen 1991:29).

Sekitar tahun 1954, berkembang sesuatu yang baru. Kegiatan kaum zending (misionaris Kristen) dan pemerintah Belanda di Ayamaru, melihat relasi  antar masyarakat di Papua lebih rukun.

Hubungan perkawinan dan pertukaran kain timur semakin luas dan intensif. Maka, ramailah pertukaran kain timur sampai ke pelosok daerah.

Artikel terkait

Mengenang Revolusi Kain-Timur di Papua Barat (1)

1950-an: Jatidiri Papua Baru Bangkit Sesaat, Datanglah Tentara RI (3)


Uniknya, kebiasaan perang antar kelompok laki-laki, mulai digantikan dengan perselisihan terkait hutang, dan pertengkaran soal kain timur. Keanehan lainnya, harga calon istri naik bersama-sama dengan harga barang-barang lain.

Angka pernikahan turun, dan usia pernikahan naik. Hanya sedikit orang yang menikah sebelum umur dua puluh lima. Pertengkaran rumah tangga bertambah serius.

“Beberap a pernikahan yang janggal, di antaranya ada yang dianggap incest menurut aturan klen, direkayasa demi kepentingan penyandang keuangannya,” tulis Haenen (1991:89).

Kesenjangan sosial semakin tajam. Para bobot menjadi lebih kaya sementara rakyat biasa menjadi bertambah miskin.

Menurut Elmberg (1965:79), nasib orang yang berhutang sangat dikuasai oleh bobot yang cerdik sehingga secara ekonomi kedudukan mereka itu merosot menjadi seperti anak-anak yang tidak bisa apa-apa.

Bobot mulai menyebut para pengikutnya "tawanan perang", dan dengan demikian mengingatkan pada kedudukan lamanya sebagai panglima perang. Hubungan semula antara bobot dan pengikutnya berubah dari saling tergantung menjadi suatu bentuk pemerasan.

Bobot selalu bepergian, meskipun hanya untuk tunjuk muka dan mengingatkan orang yang berutang. Fungsi bobot dan dukun semakin sering digabungkan di satu tangan sehingga kekuasaannya sebagai bobot menjadi semakin besar. (Bersambung)

Editor : Taat Ujianto