• News

  • Singkap Sejarah

Menggarami Mayoritas, Kiprah Para Mantan Pengikut ‘Hantu-Komunisme‘ (1)

Saat ada pertemuan RT, gamelan di rumah Pak Supardi, penyintas Tragedi 1965 ikut mengiringi pertemuan
Netralnews/Dok.ISSI
Saat ada pertemuan RT, gamelan di rumah Pak Supardi, penyintas Tragedi 1965 ikut mengiringi pertemuan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Catatan ini disusun berdasarkan hasil kajian para peneliti sejarah di Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI). Sepanjang tahun 2000-an hingga 2017, mereka melakukan kajian Oral History Project (OHP) di sejumlah tempat.

Mereka telah mewawancarai ratusan orang yakni mereka yang pernah menjadi anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mereka yang dianggap atau dituduh terlibat Gerakan 30 September (G-30-S) tahun 1965.

Dari hasil penelitian tersebut, setidaknya ada beberapa yang sudah diterbitkan, antara lain tahun 2000, yakni buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir (TYTPB) dan buku Rekonstruksi Sosial Korban Tragedi Nasional 1965 di Solo, Pati, dan Bali yang dicetak terbatas pada tahun 2017 .

Dalam TYTPB, fokus utama kajian ISSI menitikberatkan pada kisah pengalaman bagaimana korban, penyintas, dan keluarganya menghadapi berbagai tindak kekerasan akibat dari pascaperistiwa Gerakan 30 September (G-30-S) 1965.

Dalam TYTPB, lebih didominasi kisah pilu penuh gelimang air mata karena memang mereka yang akhirnya dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) atau dianggap terlibat G30S mengalami masa-masa paling gelap.

Seluruh relasi sosial mereka hancur lebur. Relasi antara anak, bapak, ibu, sanak-saudara, dan teman-temannya yang ada sebelum G30S, seluruhnya tercerai berai. 

Situasi itu berlangsung selama bertahun-tahun mereka lewati baik di dalam penjara maupun di tengah masyarakat yang memperlakukan mereka penuh diskriminatif dan di bawah stigma “komunis” bak setan gentayangan.

Kendati komunisme sudah mengalami kebangkrutan, banyak mantan anggota PKI sepanjang hidupnya berada di bawah pengawasan dan kecurigaan seolah akan menghidupkan kembali “hantu-komunisme”.

Artikel terkait: Runtuh-Bangunnya Kepingan Relasi Sosial Eks-Tapol’65 di Tiga Kota (2)

Sementara itu, Rekonstruksi Sosial Korban Tragedi Nasional 1965 di Solo, Pati, dan Bali (2017), lebih banyak mengungkap tentang bagaimana pengalaman korban/penyintas bangkit dari keterpurukan.

Dengan susah payah mereka kembali menjalin dan membangun relasi sosial mereka yang sebelumnya sudah hancur berkeping-keping. Uniknya, banyak di atara mereka setelah melewati proses menyakitkan memperoleh simpatik masyarakat sekitar.

Saat mereka mampu menunjukkan pengabdian yang tulus kepada masyarakat sekitar, mereka yang sebelumnya mendapat stigma penganut hantu-komunisme dapat diterima kembali secara penuh, bahkan ada yang menjadi sosok pemimpin.

Lalu apa yang menarik dari fenomena tersebut? Tulisan ini ingin menggaris bawahi tentang pentingnya pengalaman mereka sebagai strategi membangun kerukunan bangsa demi persatuan dan kesatuan.

Layak menjadi catatan bagi rakyat Indonesia, apa yang dilakukan oleh mantan tahanan politik (tapol) 1965 atau mereka yang dituduh komunis ini, tak lain adalah wujud bagaimana kaum “minoritas” mampu “menggarami” masyarakat sekitar atau “mayoritas”.

Apa yang dilakukan oleh mereka yang sebenarnya sudah berada dalam posisi yang serba lemah, namun bisa kembali dipercaya masyarakat? Ada banyak hal telah dilakukan oleh mereka dan itu semua menarik untuk disimak.

Para tapol dan mantan anggota PKI itu ternyata memiliki semangat mengabdi kepada masyarakat (baca: ke-Indonesi-an) yang tak pernah padam.

Semangat mereka terus berkobar untuk membangun budaya bangsa Indonesia yang terkenal beragam atau berbhineka tunggal ika.

Melalui pemahaman yang utuh terhadap apa saja yang telah mereka alami dan mereka lakukan, diharapkan bisa menjadi referensi dalam merumuskan strategi membangun relasi “minoritas” dengan “mayoritas” secara baik.

Selama ini, seolah, bila ada tindak kekerasan kepada pihak minoritas, maka pihak mayoritas lebih banyak dituntut untuk berubah dengan segala macam tetek bengek dan teorinya.

Padahal, pihak minoritas pun semestinya harus mampu melakukan gebrakan dan upaya positif demi terjalinnya hubungan mesra antara minoritas dan mayoritas. Kemesraan itu otomatis akan berujung pada persatuan dan kesatuan.

Agar penjabaran bagaimana para korban/ penyintas mengabdikan hidupnya kepada masyarakat bisa terlihat jelas perubahannya, maka penting untuk tetap menengok ulang seperti apa kerusakan relasi sosial akibat peristiwa kekerasan 1965.

Untuk selanjutnya, penulis akan memaparkan bagaimana kerusakan relasi sosial tersebut kembali ditata. Disajikan pula kisah rekonstruksi di tiga daerah agar bisa menjadi bahan bersifat komparatif dan objektif.

Artikel terkait: Runtuh-Bangunnya Kepingan Relasi Sosial Eks-Tapol’65 di Tiga Kota (2)

Tiga daerah yang dimaksud adalah di Pati, Solo, dan Bali. Pati dipilih karena daerah ini boleh dikata hingga kini, tekanan militer terhadap unsur yang berbau komunisme masih sangat kuat.

Entah, karena kepentingan apa yang melandasinya, hingga kini masih berupa pertanyaan yang memerlukan kajian.

Namun bukan hal itu yang mau dijawab dalam tulisan ini. Yang mau dijabarkan di sini adalah, walaupun di bawah tekanan, para penyintas/korban mampu bangkit dan dipercaya masyarakat sekitar.

Demikian halnya dengan kisah pengalaman sejumlah korban di Solo dan Bali. Kedua daerah itu juga memiliki kekhususan bila dilihat betapa masifnya kekerasan yang terjadi di kedua daerah tersebut.
 
Yang lebih menarik daripada itu adalah bahwa hasil kajian ISSI, menemukan sejumlah bukti bahwa mereka yang dianggap komunis dan bersaksi itu, tidak merasa dendam terhadap para pelaku.

Setelah berhasil melalui perjalanan pahit, mereka tetap mencintai Indonesia dan tetap mengabdikan hidup mereka sebagai ketua RT, pengurus PKK, penggerak seni, dan sebagainya.

Mereka sebenarnya sudah mampu melampaui batas-batas “rekonsiliasi”.  Dengan kata lain, mencermati hasil kajian ini, diharapkan bisa memberikan sumbangsih bagi perumusan rekonsiliasi bangsa terkait Tragedi 1965.

Para penyintas atau korban itu adalah kaum minoritas yang telah menjadi "garam" bagi masyarakat luas.

(Bersambung)

Editor : Taat Ujianto