• News

  • Singkap Sejarah

Runtuh-Bangunnya Kepingan Relasi Sosial Eks-Tapol’65 di Tiga Kota (2)

Ilustrasi eksekusi mati tanpa pengadilan kepada mereka yang dituduh komunis di Jembatan Bacem, Solo
Netralnews/Istimewa
Ilustrasi eksekusi mati tanpa pengadilan kepada mereka yang dituduh komunis di Jembatan Bacem, Solo

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Sebelum penulis memaparkan kisah bagaimana para mantan tahanan politik (ekstapol) Tragedi 1965 berusaha membangun kembali relasi sosial mereka yang sempat hancur, penting untuk melihat kembali bagaimana relasi sosial mereka hancur pascakekerasan G-30-S.

Semua narasumber yang diwawancarai peneliti Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) pernah dipenjara, dibuang ke Pulau Buru. Mereka adalah segelintir orang yang selamat dari pembunuhan brutal dan stigma sebagai orang kafir dan tidak berguna (dianggap komunis).

Selama di penjara, mereka tidak pernah mendapatkan pasokan makanan yang memadai dan berkualitas. Lambat laun kondisi fisik mereka mengalami penurunan yang kronis. Banyak yang tewas dan tak sedikit berhasil keluar dari lubang jarum.

Bagi mereka yang dibunuh, tentu saja meninggalkan anak-anak yang tidak terurus, putus sekolah, dan kehidupan keluarga yang terlunta-lunta. Tak sedikit anak tapol ikut bersama ibunya di penjara.

Artikel terkait: Menggarami Mayoritas, Kiprah Para Mantan Pengikut ‘Hantu-Komunisme‘ (1)

Contoh anak yang pernah ikut di penjara bersama ibunya adalah Mayun di Bali. Pasca peristiwa berdarah tahun 1965 (G-30-S), ia masih berumur 8 tahun. Ayahnya adalah seorang guru sekolah dasar (SD) yang ikut dibunuh.

Mayun bersama dua saudara laki-laki hidup tercerai-berai selama bertahun-tahun. Namun, mereka termasuk “beruntung” karena kemudian masih bisa berkumpul kembali.

Bangun dari kehancuran

Kekerasan terhadap mereka yang dianggap komunis juga mengakibatkan kehancuran ekonomi keluarga. Di Solo, mayoritas yang dituduh komunis menyisakan kaum ibu yang mendadak menjadi kepala keluarga.

Salah satunya adalah Kitri. Ia ditinggal suaminya yang dipenjara dan harus menghidupi semua anak-anaknya. Ia “beruntung” karena bisa menjahit. Dengan keahlian itu, ia berhasil bertahan dan menghidupi anak-anaknya.

Tak jauh berbeda dengan di Pati. Sumini adalah salah satu perempuan yang dituduh sebagai perempuan kader komunis. Ia sempat dipenjara selama enam setengah tahun.


Saat di penjara, ia belajar menjahit. Saat bebas dari penjara, ia hidup dengan mengandalkan keterampilan itu. Pola bertahan hidup seperti ini juga dialami Mimin di Bali yang bertahan dengan bertani di Desa Guang, Gianyar. Keahlian sebagai petani ternyata diperoleh saat ia ikut menysusul suaminya yang menjadi tahanan di Pulau Buru.

Di sisi lain, tak sedikit tapol 1965 yang saat terbebas dari penjara tetap mengalami kesulitan memperoleh nafkah. Mereka sulit mendapat kerja di perusahaan akibat status ET (ekstapol dan dianggap komunis).

Supeno, suami Kitri di Solo, walaupun sebelum ditahan adalah seorang kepala sekolah, namun setelah bebas dari penjara, selalu ditolak lamaran kerjanya.

Karena ia memiliki keahlian di bidang industri mesin, ia memutuskan membuka usaha sendiri. Ia membuka bengkel bubut dan sukses. Dengan usahanya itu, ia kemudian mampu menyekolahkan putra-putrinya hingga lulus perguruan tinggi.

Menariknya, Supeno setelah bebas juga mampu melebur dan berproses di tengah masyarakat di mana ia tinggal. Ia berhasil diterima masyarakat karena ketulusannya bergaul dan “melayani” dengan mulai menjadi bendahara rukun tetangga (RT) selama puluhan tahun.

Ia sangat aktif di lingkungan RT. Demikian halnya istrinya, Kitri. Selain menjahit dan mengurus putra-putrinya, ia juga aktif di kalangan ibu-ibu di tingkat rukun warga (RW).

Karena keaktifannya, tahun 1980-an, Kitri bahkan terpilih secara aklamasi oleh belasan ketua RT untuk menjabat ketua Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di tingkat RW.

Ketika Kitri diketahui memiliki KTP berlabel “ET”, ia sempat akan diturunkan oleh kepala desa setempat. Walaupun ia diturunkan sebagai ketua, ia tetap aktif di PKK selama puluhan tahun terutama di bidang peningkatan gizi balita.

Selain aktif di lingkungan RT dan RW, Supeno dan Kitri juga aktif di lingkungan gereja. Supeno adalah anggota Majelis Gereja Kristen Indonesia untuk zona Surakarta dan Yogyakarta.

Uniknya, walaupun ia adalah seorang penganut Kristiani, saat Lebaran/Idul Fitri, rumah Supeno dan Kitri selalu ramai didatangi warga RT dan RW. Kedatangan mereka disambut hangat karena hal itu dianggap sebagai wujud silaturahmi.

Padahal, mayoritas wara di sekitar tempat tinggal Supeno adalah keturunan Arab. Namun demikian, suasana Idul Fitri maupun Natal di rumah Supeno, mencerminkan toleransi yang terjaga di lingkungan mereka.

Sementara itu, sejumlah korban yang ada di Bali, juga mampu melebur, berbaur, dan mengabdikan dirinya di tengah masyarakat sekitar. Mereka berhasil menjadi “pemimpin” di tingkat lokal.

Natar adalah salah satunya. Di tahun 1990an, ia berhasil terpilih sebagai salah seorang Saba Desa yang tugasnya mencari jalan yang sesuai dengan adat (sastra) Bali bagi warga.

Artikel terkait: Menggarami Mayoritas, Kiprah Para Mantan Pengikut ‘Hantu-Komunisme‘ (1)

Ia pula yang memopulerkan konsep ngaben massal bagi masyarakat Bali yang mengalami bkesulitan biaya. Dengan ngaben massal, biaya yang ditanggung menjadi jauh lebih murah daripada sebelumnya.

Bila model ngaben sebelumnya harus mengeluarkan biaya hingga Rp30 juta, konsep ngaben massal hanya dikenakan pengeluaran Rp2,5 juta per keluaga.

Natar sempat menjabat Saba Desa selama dua periode. Setelah dua periode, ia mengundurkan diri agar terjadi regenerasi yang baik.

Tak jauh berbeda dengan Rentang, ekstapol dari Desa Guang, Gianyar. Setelah kembali dari pembuangan di Pulau Buru, ia tekun menggeluti dunia pertanian. Dengan pertanian itu pula, ia dikenal di masyarakat.

Dia kemudian diangkat sebagai kepala pertanian desa (subak) oleh warga sekitar. Tugasnya adalah mengatur sistem pengairan untuk lahan pertanian di desanya. Tugas itu sangat menentukan keberhasilan panen.

Karena jabatannya itu, suatu ketika ia pernah dicurigai komandan Koramil akan mempengarui warga dengan menyebarkan paham komunis, sama seperti di tahun 1965. Ia diminta berhenti sebagai subak.


Uniknya, warga sekitar justru membela dan mempertahankan Rentang untuk terus mengabdi bagi kepentingan pertanian desa.

Pengalaman Rentang di Bali, persis seperti yang dialami oleh ekstapol di Pati, yakni Supardi. Ia mengabdi dirinya setelah bebas dari Pulau Buru dengan menekuni bidang pertanian.

Supardi bergabung dalam organisasi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Mulanya, Supardi menjadi pengurus sistem pengairan. Ia kemudian terpilih menjadi ketua Gapoktan. Ia juga menjadi ketua RT.

Di masa selanjutnya, Supardi bahkan berhasil menjadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Menggeluti budaya setempat

Yang terakhir, para ekstapol di Pati, Solo, dan Bali, juga menggeluti dan mengembangkan budaya setempat. Gerakan membangun kebudayaan, tradisi, dan adat setempat ikut membuat mereka diterima warga sekitar.

Di Solo, para ekstapol yang tergabung dalam Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba), pada tahun 2005 berhasil menyelenggarakan nyadran, atau upacara menghormati para korban dibunuh di atas Jembatan Bacem.

Di Jembatan tersebut, para korban dan masyarakat yang diundang berdoa bersama untuk arwah korban yang meninggal secara tidak semestinya. Dengan doa tersebut, diharapkan para arwah mencapai kesempurnaan.

Nyadran adalah simbol bahwa masyarakat ekstapol tidak ingin memelihara “dendam” akibat tindak kekerasan yang pernah mereka alami.

Mereka menaburkan bunga dan menabur benih ikan ke Bengawan Solo, dan melepaskan burung ke udara di tempat Nyadran diselenggarakan, sebagai wujud menabur benih perdamaian.

Artikel terkait: Menggarami Mayoritas, Kiprah Para Mantan Pengikut ‘Hantu-Komunisme‘ (1)

Nyadran atau peringatan kirim doa di Jembatan Bacem sempat dilakukan setiap tahun. Bahkan pada tahun 2005, sempat dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit meskipun tidak mencapai semalam suntuk.

Demikian pula dengan Natar di Bali. Ia membangun komunitas kesenian gong Bali bagi generasi muda di sekitar desanya. Setiap pekan, puluhan perempuan dan para pemuda berlatih drama musik gong Bali di rumahnya. 

Dengan caranya, ia berhasil menghimpun generasi muda untuk mencintai kesenian dan budaya Bali bagi generasi muda. Ia menanamkan jiwa gotong-royong dan kemandirian.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Agung Alit dan Mayun di Kesiman, Denpasar. Mereka membangun ruang publik berupa perpustakaan bagi pemuda-pemudi di Bali. Perpustakaan itu diberi nama Taman Baca Kesiman.

Dengan cara itu, Agung Alit berusaha mensosialisasikan gagasan-gagasan tentang perdamaian, anti kekerasan, kepada generasi muda di Kesiman.

Tak ketinggalan juga Supardi di Pati. Sebagai ketua RT, ketua koperasi, dan ketua Gapoktan, di rumahnya juga tersedia seperangkat alat musik gamelan.  Selain melayani koperasi pupuk bagi para petani, ia juga giat dalam musik karawitan.

Setiap pertemuan diselenggarakan di rumahnya, para penabuh gamelan yang terdiri dari warga sekitar tempat tinggalnya, segera dengan lincah dan gembira mengiringi acara silaturahmi warga. 

Editor : Taat Ujianto