• News

  • Singkap Sejarah

Ketika Kaum Tani Disiksa dengan Organ Kelamin Sapi Jantan yang Dikeringkan

Lukisan sketsa Mardadi Untung yang menggambarkan pengalaman tapol menghadapi interogasi tim screening pasca tragedi 65.
foto: ypkp1965.0rg
Lukisan sketsa Mardadi Untung yang menggambarkan pengalaman tapol menghadapi interogasi tim screening pasca tragedi 65.

BOYOLALI, NETRALNEWS.COM - Ada saja, teknik bagaimana membuat orang menderita dan kesakitan. Seolah, menentukan alat dan cara penyiksaan, ada tingkatannya. Tingkat derita atau rasa sakit dengan metode yang satu, berbeda dengan metode lainnya.

Metode yang dipilih, mungkin juga menentukan seberapa besar kepuasan bagi para penyiksannya. Manusia yang beradab dan menjunjung tinggi kemanusiaan seringkali menjadi kabur ketika berubah menjadi sekelompok orang yang merasa nikmat melihat penderitaan orang lain.

Ada yang menyiksa dengan menggunakan setrum, menindih jempol kaki dengan ujung kursi, menyudut dengan api rokok, dan lain-lain. Dari sekian banyak model penyiksaan, salah satu yang pernah digunakan dalam sejarah tindak kekerasan di negeri  Indonesia adalah dengan menggunakan organ kelamin sapi jantan yang dikeringkan.

Panjang organ tersebut bisa mencapai satu meter dan ujungnya diberi logam. Alat ini ternyata paling ampuh untuk membuat orang kesakitan dan ditakuti oleh para petani yang menjadi anggota Barisan Tani Indonesia (BTI) di daerah Boyolali, Provinsi Jawa Tengah.

Pascaperistiwa Gerakan 30 September (G30S) yang terjadi di Jakarta, semua anggota BTI dan organisasi lain yang berafiliasi dalam Partai Komunis Indonesia (PKI), ditangkap dan ditahan. Tak ada angka pasti, berapa jumlah mereka, tetapi diperkirakan mencapai ratusan ribu hingga jutaan orang.

Setelah penangkapan dan penahanan secara besar-besaran, sebagian dari mereka dibunuh tanpa proses pengadilan, digunakan sebagai pekerja paksa pembangunan kota, dikirim ke Pulau Buru, dan tak sedikit pula yang kemudian dinyatakan hilang tak diketahui lagi keberadaannya, hingga kini.

Penyiksaan Tapol di Boyolali

Seperti diungkap oleh tim peneliti sejarah dari Elsam dan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), dalam buku berjudul Pulangkan Mereka! (2012), banyak petani Boyolali yang menjadi anggota BTI ditangkap kemudian mengalami beragam tindak kekerasan mulai dari penyiksaan, pembunuhan, hingga kerja paksa.

Para petani yang ditahan tentara Angkatan Darat di Boyolali, biasa disebut sebagai tahanan politik atau tapol. Menurut pengakuan Suratrimontro, seorang petani dan anggota BTI dari Desa Gondanglegi, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah,  jumlah tapol di Boyolali mencapai ribuan.

Bersama sekitar 90-an rekannya, Suratrimontro ditangkap pada 30 November 1965. Ia pertama kali ditahan di Desa Karang Gede, kemudian dipindahkan menuju kamp penahanan yaitu di Gedung Ta Tjung, di Kota Boyolali. Kian hari, kamp makin sesak dengan tahanan yang terus berdatangan.

Untuk mengendalikan jumlah tapol, ada kebijakan tertentu. Di malam hari, tanpa seleksi yang jelas, sebagian tapol diangkut dalam truk. Mereka kemudian dibunuh di sejumlah lokasi kuburan massal. Istilah pembunuhan dan penghilangan paksa para tapol pada masa itu adalah “dibon”.


Ribuan tahanan lain yang tidak ikut “dibon” mengalami beragam bentuk penyiksaan, termasuk Suratrimontro. Selama tiga bulan, ia merasakan siksaan para interogator yang selalu menanyakan keterlibatannya dengan PKI dan G30S.

Ia pernah merasakan pukulan bambu yang dibelah dan berkulit tajam, pukulan “kenut” atau potongan ban bekas mobil yang ujungnya diberi logam runcing, dan pukulan “alu” atau penumbuk padi. Namun, ada alat penyiksaan lainnya yang paling ia takuti dan juga ditakuti para tapol lainnya.

Alat itu berupa organ kelamin sapi jantan yang dikeringkan dan ujungnya diberi logam. Saat interogasi, alat itu sering diayunkan interogator ke arah belakang tubuh tapol yang diperiksa dan logam akan menghunjam ke ulu hati.

“Jika korban tidak mendekap dan melindung ulu hatinya, akibatnya akan fatal”, kata Suratrimontro . Kesaksian serupa juga diungkapkan oleh Hadiprayitno, paparnya “Tidak sedikit tahanan yang tewas karena alat penyiksaan ini”. (halaman 147-148).

Menjalani Kerja Paksa

Setelah menjalani penyiksaan selama sekitar tiga bulan, Suratrimontro, Hadiprayitno dan ribuan tahanan lainnya wajib menjadi pekerja proyek di bawah pengawasan tentara Angkatan Darat antara lain pembangunan sarana Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), sejumlah jembatan, dan Pembangunan Waduk Bade.

Mereka menjalani kerja tanpa upah dan hanya mendapatkan makanan ala kadarnya seperti tiwul dan bulgur (kerja paksa). Proyek pembangunan sarana di kota Boyolali dimulai pada awal 1966.

Bagi Suratrimontro, Hadiprayitno, dan para petani lainnya yang terpilih menjadi pekerja paksa, sebenarnya justru bernasib lebih lebih. Mereka yang tidak ditunjuk ikut kerja paksa, kebanyakan malah mati atau kemudian hilang tak diketahui rimbannya.

Menurut Margono, salah satu tapol yang ditunjuk memimpin para tapol dalam melaksanakan proyek pembangunan PDAM di Boyolali, “Kerja paksa di Boyolali meredakan ‘pengebonan’ atau penghilangan paksa para tapol di kamp-kamp Boyolali” (halaman 151).

Untuk proyek pembangunan PDAM, para tapol harus menyelesaikan pembangunan saluran air (pengecoran bis) sepanjang tujuh kilometer mulai dari Desa Tampir di kaki Gunung Merapi, sampai dengan Kota Boyolali.

Margono sebagai salah satu tapol yang ditunjuk memimpin proyek tersebut, meminta 2.000 orang tapol kepada Komandan Kodim Boyolali yaitu Kolonel Soeharjo. Dalam perhitungan Margono, jumlah tapol tersebut akan mampu menyelesaikan proyek selama setengah tahun.

Dengan cara itu, Margono berpikir bahwa 2.000 orang tapol tersebut akan relatif aman dan tidak terancam “dibon”. Mereka juga mudah diketahui keberadaannya serta bisa dijenguk oleh masing-masing keluarga mereka. Dan memang, taktik Margono ikut berperan menyelamatkan para tapol.

Selain pembangunan proyek PDAM, rombongan tapol Margono, juga berhasil menyelesaikan pembangunan sejumlah jembatan antara lain jembatan Bangak di Kecamatan Sambi, Jembatan Kali Apit, Jembatang Karang Boyo , dan Jembatan Guwo di Kecamatan Kemusu.

Untuk proyek besar lainnya, sebagai hasil kerja paksa ribuan tapol (di luar rombongan Margono) adalah penyelesaian Waduk Bade, di Desa Bade, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. Waduk hasil keringat para petani yang menjadi tapol tersebut, hingga kini masih menjadi salah satu sarana kebanggaan masyarakat di Boyolali.

Editor : Taat Ujianto