• News

  • Singkap Sejarah

Mengenang ‘Kuntilanak Wangi‘ di Malam Jahanam

Ilstrasi mitos keterlibatan Gerwani dalam peristiwa G-30-S
Netralnews/Istimewa
Ilstrasi mitos keterlibatan Gerwani dalam peristiwa G-30-S

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Istilah “Kuntilanak Wangi” dalam catatan ini diadopsi dari tulisan asli karya Saskia Wieringa berjudul The Perfumed Nightmare (The Hague: Institute of Social Studies, 1988), dan diterjemahkan oleh Hersri Setiawan.

Istilah “kuntilanak wangi” terasa tepat untuk menggambarkan bagaimana Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) pernah disematkan julukan sebagai organisasi berkonotasi mengerikan, sadis, bengis, liar, haus seks, laksana hantu gentayangan.

Tentu saja, citra itu muncul sejak terjadi peristiwa malam jahanam yang terjadi pada malam Jumat/Jumat dini hari, 1 Oktober 1965. Kesatuan Cakrabirawa dibantu massa Pemuda Rakyat melakukan operasi dengan nama Gerakan 30 September (G-30-S).

Dalam sejarah  versi  resmi selama pemerintah Orde Baru berkuasa, koran milik militer yakni Angkatan Bersenjata  dan Berita Yudha secara gencar memberitakan bahwa sebelum para jenderal dibunuh, mereka disiksa dan dijadikan sebagai bagian pesta mesum kader Gerwani.

Tak hanya koran militer, Kompas pun kala itu juga memberitakan bahwa para Gerwani sebagai melakukan tindakan asusila. Dengan tarian bunga, sejumlah perempuan menyayat kemaluan para jenderal dan mencungkil mata para jenderal.

Kader Gerwani berkeliling menyiksa sambil menari-nari dan menyanyikan lagu-lagu rakyat yang sedang populer masa itu, seperti Ganyang Kabir atau Ganyang Tiga Setan Kota, dan Genjer-Genjer, salah satu lagu yang sedang hit kala itu.

Dalam suasana yang semakin panas, beberapa wanita menanggalkan busananya, dan tenggelam dalam ritual pesta. Pesta ini disebut-sebut sebagai pesta puncak dari rangkaian pesta yang sebelumnya digelar untuk menandai berakhirnya latihan militer yang sedang mereka jalani.

Berita lain juga membumbui imajinasi mengerikan di mana menyebutkan bahwa dalam pesta itu, mereka melakukan hubungan seks liar. Anggota Gerwani diisukan telah menenggak pil-pil perangsang syahwat yang diberikan seorang dokter prokomunis.


Seluruh mitos kekejian Gerwani itu terjadi di Lubang Buaya. Nama “Lubang Buaya” terasa semakin melengkapi betapa seramnya malam jahanam itu. Kesadisannya kemudian dikombinasikan dengan bayang-bayang menakutkan dari paham yang bernama komunis (laksana hantu).

Dengan pemberitaan yang begitu masif, segera saja kisah siksa keji dan liarnya Gerwani merebak dan mengundang amuk di seantero negeri. Oleh Saskia Eleonora Wieringa, peristiwa kekejian Gerwani yang dikampanyekan tersebut menandai proses dimulainya "Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia."

Politik Seksual yang dicitrakan begitu buruk di kemudian hari mengubur gerakan politik kaum perempuan yang revolusioner dan didesak kembali ke dalam ranah "hanya mengurus persoalan rumah tangga/pelengkap laki-laki".

Seiring runtuhnya kekuatan komunis di Indonesia, perempuan masuk ke dalam “kerangkeng” pembatasan ala Orde Baru.

Sementara itu, kampanye tentang citra sadis dan liarnya Gerwani ikut memberi andil besar bagi lahirnya gelombang amarah massal. Mereka mengamuk tanpa melakukan konfirmasi atas kejadian di Lubang Buaya (karena memang itu sulit dilakukan mengingat media seluruhnya sudah dikuasai TNI AD).

Gerwani menjadi sasaran amuk massa. Sepanjang 12 Oktober 1965, kantor-kantor Gerwani dibakar. Gelombang demostrasi semakin besar meneriakkan “Bubarkan PKI, Hidup Bung Karno!”

Namun siapa sangka, mitos itu akhirnya terkuak. Disembunyikan seperti apapun, namanya "tahi kucing tetap saja bau adanya".

Tanpa sengaja, seorang peneliti Indonesianis bernama Benedict Anderson asal Cornell University, berhasil membongkar mitos Lubang Buaya yang bertahun-tahun dianggap sebagai kebenaran.

Saat membongkar ribuan lembar dokumen laporan stenografi pengadilan Letkol Penerbangan Heru Atmodjo di hadapan Mahkamah Militer Luar Biasa, ia menemukan dokumen sangat penting.

Ia menemukan dokumen pengadilan berupa laporan forensik medis jenazah enam jenderal dan satu letnan muda darai para dokter yang telah melakukan visum et repertum.

Dokumen itu ditulis tim autopsi yang terdiri dari dua dokter Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), dr. Brigjen Roebiono Kertapati dan dr. Kolonel Frans Pattiasina, serta tiga dokter sipil spesialisasi forensik medis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), terdiri dari dr. Sutomo Tjokronegoro, dr. Liau Yan Siang, dan dr. Lim Joe Thay.

Tim forensik medis dibentuk pada hari Senin, 4 Oktober 1965, berdasar perintah tertulis Mayjen Soeharto, Panglima KOSTRAD, kepada kepala RSPAD.

Dari hasil laporan autopsi tersebut, Ben lantas menerbitkan publikasi bertajuk “How Did The Generals Die” terbit di Jurnal Indonesia, April 1987, dengan memuat laporan autopsi lengkap jenazah enam jendral dan satu letnan muda, dengan rincian:

1. Achmad Yani

Di tubuh Achmad Yani terdapat 10 luka tembak baru dan 3 luka tembak lama. Luka tembak masuk, 2 di dada kiri, 1 di dada kanan bawah, 1 di lengan kanan atas, 1 di garis pertengahan perut, 1 di perut bagian kiri bawah, 1 di perut kanan bawah, 1 di paha kiri depan, 1 di punggung kiri, dan 1 di pinggul garis pertengahan.

Luka tembak keluar, 1 di dada kanan bawah, 1 di lengan kanan atas, 1 di punggung kiri bagian dalam. Kondisi lain, sebelah kanan bawah garis pertahanan perut ditemukan kancing dan peluru sepanjang 13mm pada punggung kanan.

2. DI Panjaitan

Di tubuh Panjaitan terdapat tiga tembakan di kepala dan luka iris di tangan. Luka tembak masuk, 1 di alis kanan, 1 di kepala atas kanan, 1 di kepala kanan belakang, dan 1 di kepala belakang kiri.

Luka tembak keluar, 1 di pangkal telinga kiri dan kondisi lain, punggung tangan kanan kiri terdapat luka iris.

3. R Soeprapto

R Soeprapto meregang nyawa akibat 11 tembakan di tubuhnya. Luka tembak masuk, 1 di punggung pada ruas tulang punggung keempat, 3 di pinggul kanan, 1 di pinggul kiri belakang, 1 di bokong sebelah kanan, 1 di pinggang kiri belakang, 1 di pantat sebelah kanan, dan 1 di pertengahan paha kanan.
Luka tembak luar, 1 di bokong kanan, 1 di paha kanan belakang, sementara terdapat luka tidak teratur, 1 di kepala kanan, atas telinga, 1 di pelipis kanan, 1 di dahi kiri, 1 di bawah kuping kiri, dan kondisi lain, tulang hidung patah, dan tulang pipi kiri lecet.

4. MT Haryono

Pada laporan autopsi MT Haryono, menurut Ben Anderson sangat mencurigakan karena tidak ditemukan luka tembakan sebagaimana termut di harian Berita Yudha edisi 28, tentang kematian MT Haryono lantaran ditembak secara langsung dan mendadak.

Menurut hasil visum kematian MT Haryono karena luka tusukan panjang dan dalam di bagian perut.
Luka tidak teratur, 1 tusukan di perut, 1 di punggung tangan kiri, 1 di pergelangan tangan kiri, dan 1 di punggung kiri tembus dari depan.

5. Soetojo Siswomihardjo

Luka tembak masuk di tubuh Soetojo, 2 di tungkai kanan bawah, 1 di atas telinga kanan, sementara luka tembak luar, 2 di betis kanan, da 1 di telinga kanan.

Luka tidak teratur, berupa 1 di dahi kiri, 1 di pelipis kiri, 1 di tulang ubun-ubun kiri, dan di dahi kiri tengkorak remuk.

6. S Parman

S Parman terkena lima luka tembakan, termasuk dua tembakan mematikan di kepala. Luka tembak masuk, 1 di dahi kanan, 1 di tepi lekuk mata kanan, 1 di kelopak atas mata kiri, 1 di bokong kiri, dan 1 di paha kanan depan.

Luka tembak keluar, 1 di tulang ubun-ubun kiri, 1 di perut kiri, 1 di paha kanan belakang. Sementara luka tidak teratur, berupa 2 luka di belakang daun telinga kiri, 1 di kepala belakang, 1 di tungkai kiri bawah bagian luar, dan 1 di tulang kering kiri.

7. Pierre Tendean

Kapten Pierre Tendean tewas akibat luka tembak. Luka tembak masuk, 1 di leher belakang sebelah kiri, 2 di punggung kanan, 1 di pinggul kanan. Luka tembak keluar, 2 di dada kanan, sementara luka tidak teratur, 1 di kepala kanan, 1 di tulang ubun-ubun kiri, 1 di puncak kepala.

Dari hasil visum et repertum tersebut, tidak ditemukan laporan mengenai luka pada bagian testis, anus, testis, mata, kuku, telinga, dan lidah.

Sempat ada kekhawatiran dari tim dokter FKUI ketika menyelesaikan autopsi korban G30S di Lubang Buaya, karena di luar santer diberitakan para jendral disiksa dengan biadab.

“Kami sampai waswas karena setelah selesai memeriksa, kami tidak menemukan penis dipotong,” ungkap dr. Lim Joe Thay (Arif Budianto) dalam “Meluruskan Sejarah Penyiksaan Pahlawan Revolusi,” dimuat majalah D&R, 3 Oktober 1998.

“Kami periksa penis-penis korban dengan teliti. Jangankan terpotong, bahkan luka iris saja tidak ada,” kata dr. Lim.

Terlepas dari mitos tari harum bunga dan penyiksaan biadab yang dituduhkan kepada kader Gerwani, bagaimanapun juga, aksi penculikan dan pembunuhan terhadap 6 jenderal dan 1 letnan muda tetap harus dikutuk.  Jangan sampai peristiwa jahanam itu terulang kembali.

Editor : Taat Ujianto