• News

  • Singkap Sejarah

Ketika Mahasiswa UI Suka Melacur, Demo, dan Protes HAM

Pembongkaran kuburan massal eks PKI di Jembrana, Bali
foto: liputan6.com
Pembongkaran kuburan massal eks PKI di Jembrana, Bali

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pelacuran dalam dunia kampus bukan barang baru. Di penghujung era Orde Lama, kisah tentang mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang menyewa pelacur cukup terang benderang digambarkan dalam film berjudul Gie (2005) besutan Riri Reza.

Di dalam film tersebut, ada adegan dimana Soe Hok Gie (1942-1969) yang diperankan Nicholas Saputra dijebak oleh teman-temannya untuk “menggauli” seorang pelacur (diperankan Happy Salma) yang biasa menjual jasanya di sebuah hotel di Jakarta. Tindakan kurang ajar itu ternyata justru membuat Soe Hok Gie marah.

Di mata kawan-kawannya, Gie dianggap sebagai intelektual yang “berhati batu” dalam pandangan politik tetapi gagal dalam soal asmara. Perempuan penghibur yang disodorkan teman-temannya pun tak mempan untuk membuat Gie mau mencicipi perbuatan haram.

Hingga meninggalnya di Gunung Semeru akibat menghirup gas beracun, Gie tetap menjadi pria lajang. Bisa jadi, melajang adalah salah satu pilihan hidupnya.

Sebelum meninggal, Gie juga pernah mengritik tentang praktik seweanang-wenang yang dilakukan oleh TNI AD saat membasmi mereka yang dituduh terlibat peristiwa malam berdarah yang dilakukan gerombolan Gerakan 30 September (G-30-S) tahun 1965.

Pelacuran di Kampus

Dalam bukunya yang berjudul Catatan Seorang Demonstran, ia pernah menyatakan bahwa “pernikahan hanyalah pelacuran yang dilegalkan.” Menurut Gie, pernikahan bukanlah hal terpenting dan hidup manusia bukan hanya untuk sekadar mengurus pernikahan.

Gie memang unik. Kritik terhadap dunia pelacuran bahkan tidak hanya ditujukan pada dunia mahasiswa. Ketika ia sudah menjadi dosen di Universitas Indonesia, ia bahkan pernah mengritik pejabat publik yang gemar menyewa pelacur bule dengan menggunakan uang rakyat.

Suatu ketika pada bulan Oktober 1968 hingga Januari 1969, Gie mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Amerika Serikat (AS) atas undangan pejabat Departemen Luar Negeri, dalam rangka studi banding kampus-kampus terkemuka di sana.

Gie lantas bertemu dengan para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di AS. Dari para mahasiswa itu, Gie memperoleh kisah bahwa para pejabat Indonesia yang berkunjung ke Amerika ternyata doyan kencan dengan pelacur-pelacur bule.

Istilah yang populer dalam bahasa gaul kala itu adalah pejabat Indonesia doyan “naik kuda putih”. Bagi Gie, informasi ini tentu saja membuatnya terusik.

Ia kemudian menulis cerita itu dalam artikel berjudul “Orang-Orang Indonesia di Amerika Serikat” yang diterbitkan Sinar Harapan tanggal 13 Maret 1969.

Seperti yang sudah-sudah, tulisannya sangat tajam dan dipastikan akan memerahkan telinga pihak yang dituju. Gie menganggap mereka sebagai para pejabat bejat sekaligus korup.

Ia jabarkan secara terang-terangan bagaimana pejabat itu meminta bantuan para mahasiswa yang sedang belajar di Amerika untuk dicarikan “kuda putih”. Tak mau rugi, para mahasiswa sering mempermainkan mereka sehingga memperoleh keuntungan cukup lumayan.

Dicarikanlah pelacur-pelacur bule rendahan dengan tarif USD 15. "Lalu kami bilang tarifnya USD 100. Bagi mereka tidak jadi soal karena yang mereka pakai adalah uang negara. Yang USD 85 kami tilep," tulis Gie.

Pelacuran Intelektual

Tulisan Gie lainnya yang tak kalah keras adalah tulisan berjudul “Pelacuran Intelektual” yang diterbitkan di harian Sinar Harapan pada 21 April 1969.

Istilah pelacur disini tidak menunjuk wanita penghibur yang sesungguhnya tetapi bermakna kiasan untuk menunjuk kaum terpelajar yang di mata Gie adalah para intelektual brengsek.

Soe Hok Gie adalah seorang demonstran yang ikut ambil bagian dalam menumbangkan rezim Orde Lama dan melahirkan rezim Orde Baru. Ia bisa saja menikmati jerih payahnya dengan menjadi pejabat publik seperti teman-temannya yang duduk di kursi DPR.

Namun pilihannya ternyata tetap menggeluti dunia akademis. Ia tetap berusaha menjadi seorang intelektual sejati yang tidak “melacurkan dirinya” Dalam konteks inilah, tulisan “Pelacuran Intelektual” ditujukan untuk menelanjangi para intelektual di Indonesia.

“Ketika Rektor UI, Prof. Dr. Sumantri Brodjonegoro diangkat menjadi Menteri Pertambangan, saya datang padanya. Saya tanyakan mengapa ia mau diangkat menjadi menteri dan bekerja dengan bajingan-bajingan minyak, calo-calo modal asing dan pejabat yang korup dan sloganistis,” tulis Gie.

Apa jawaban Rektor atas pertanyaan Gie? “Kita punya dua pilihan, jika kita melihat keburukan-keburukan yang terjadi di kalangan pemerintahan. Terjun ke dalam berusaha (dan belum tentu berhasil) memperbaikinya atau tinggal di luar sambil menantikan aparat tadi ambruk. Saya memilih yang pertama dengan segala konsekuensinya.”

Tulisan itu bisa menjadi gambaran bagaimana kaum intelektual di mata Gie kemudian melakukan pilihan sadar “melacurkan” intelektualitasnya. Dengan terjun menjadi pejabat, di mata Gie maka ia telah memilih untuk menjadi “pelacur intelektual”.

Gie adalah sosok yang berbeda. Baginya, konsep seorang intelektual (termasuk mahasiswa) adalah seseorang yang hanya terjun dalam politik ketika situasi krisis sedang mencapai puncaknya. Ia wajib terlibat mengatasi krisis tersebut. Setelah krisis terselesaikan, ia harus kembali ke dunia kampus.

Ia tidak setuju dan tidak suka dengan teman-teman seangkatannya yang terlibat demonstrasi kemudian menjadi anggota dewan rakyat. Ia khawatir bahwa dunia politik akan membuat kaum intelektual tercemar dan memang terbukti di kemudian hari.

Teman-temannya yang menduduki kursi legislatif terbukti hanya wara-wiri keluar negeri tanpa kejelasan. Sementara saat di luar negeri, banyak pejabat yang gemar menyewa pelacur bule dengan menggunakan uang rakyat. Perilaku busuk lainnya adalah berlomba-lomba kredit mobil mewah.

Dalam tulisan berjudul “Menaklukkan Gunung Slamet” yang dimuat dalam Kompas, 14 September 1967, Gie menyebut teman-temannya itu adalah maling. “Mereka korupsi, mereka berebut kursi, ribut-ribut pesan mobil dan tukang kecap pula.”

Puncaknya, Gie meledek para "pelacur intelektual" dengan memberikan bingkisan “Lebaran-Natal” kepada wakil-wakil mahasiswa di parlemen. Sebelum ia naik Gunung Semeru dan wafat, ia sempat mengirim gincu, bedak pupur, cermin, jarum, dan benang.

Bingkisan itu dilengkapi pesan, “Bersama surat ini kami kirimkan kepada anda hadiah kecil kosmetik dan sebuah cermin kecil, sehingga anda, saudara kami yang terhormat, dapat membuat diri kalian lebih menarik di mata penguasa dan rekan-rekan sejawat anda di DPR-GR.”

Protes atas Pelanggaran HAM

Sebelum ada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan sebelum ada begitu banyak orang (aktivis) menyerukan penegakan HAM, Gie sudah jauh-jauh hari menyuarakan protesnya kepada negara yang telah menginjak-injak kemanusiaan.

Gie pernah menulis artikel berjudul "Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Pulau Bali." Artikel itu dipublikasikan pada bulan Desember 1967. Tulisan itu ditujukan untuk menegakan hukum, keadilan, dan kemanusiaan.

Soe Hok Gie paham bahwa di Bali ada banyak sekali pendukung Soekarno dan anggota PKI. Bahkan, Gubernur Bali, Suteja, merupakan salah satu kepala daerah yang loyalis kepada Soekarno. Maka tak heran bila, konsepsi Nasakom mengalami penetrasi sangat masif di Bali.

Sayangnya, aksi petualangan perwira menengah dalam TNI AD dini hari, 1 Oktober 1965, merubah situasi di Bali. PKI dianggap menjadi dalang G-30-S oleh Jenderal Soeharto dan kawan-kawan.

RPKAD bergerak dan memantik pembantaian terhadap mereka yang dituduh anggota PKI di Jawa Tengah. Pembantaian tersebut kemudian menjalar hingga ke Bali.

Sekitar tiga bulan, Bali yang indah dilanda aksi penyembelihan. Bali berubah menjadi neraka. Soe Hok Gie memperkirakan  secara konservatif, pembunuhan-pembunuhan di Bali telah menelan korban jiwa 80 ribu.

Selain itu, rumah-rumah mereka dibakar, harta benda dijarah, dan banyak terjadi kasus pemerkosaan-pemerkosaan terhadap mereka yang dituduh Gerwani. Ironisnya, perbuatan terkutuk itu dicontohi pemuka partai setempat.

Contoh paling miris ditunjukkan melalui kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh tokoh PNI di Negara yang bernama Widagda. Ia adalah adik dari Wedastra Suyasa, seorang tokoh PNI Bali yang menjadi anggoat DPR GR pusat. Belasan wanita yang dituduh Gerwani telah dijinahinya.

Di kemudian hari, tiga korban pemerkosaan melaporkan apa yang dialaminya ke meja hijau. Widagda kemudian diseret ke muka sidang, dan dijatuhi vonis penjara tiga tahun oleh Pengadilan Negeri di Negara.

Kisah tragis di Bali pascaperistiwa G-30-S, ternyata pertama kali justru diungkap oleh orang yang mulanya mendukung aksi menjatuhkan Presiden Soekarno. Mengapa? Karena Soe Hok Gie tetap berpijak pada “Gerakan mahasiswa adalah gerakan moral dan bukan gerakan politik untuk merebut kekuasaan”. 

Editor : Taat Ujianto