• News

  • Singkap Sejarah

Kenangan Pilu Tiga Perempuan Aktivis Gereja Diperkosa Tentara Belanda

Monumen Peniwen di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang
foto: kumparan
Monumen Peniwen di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Perang selamannya akan menyisakan tragedi. Demikian halnya dengan perang di era kemerdekaan. Ada satu peristiwa tragis berupa pembantaian warga sipil dan pemerkosaan terhadap tiga aktivis gereja di Indonesia yang dilakukan tentara Belanda.

Peristiwa ini terjadi di salah satu desa di Malang, Jawa Timur. Sebagai tanda peristiwa pilu itu, dibangunlah Monumen Peniwen yang terletak di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bagaimanakah detail kisahnya?

Tentara Kerajaan Belanda masuk ke Desa Peniwen pada 19 Februari 1949. Kebetulan, mayoritas warga desa tersebut beragama Kristen Protestan.

Pasukan Belanda saat itu sedang terdesak oleh serbuan pasukan KCKS (Kesatuan Comando Kawi Selatan) yang dipimpin Letkol J.F. Warrouw. Sekitar 12 orang pasukan Belanda tewas terbunuh.

Mungkin karena dendam melihat belasan rekannya tewas terbunuh, sejumlah pasukan Belanda melakukan aksi nekat. Mereka menerobos masuk ke rumah sakit kecil bernama Panti Husodho yang ada di desa tersebut kemudian mengambil acak 12 orang pasien yang sedang dirawat.

“Kedua belas pasien yang semuanya sipil orang sipil itu dijajar di tembok Rumah Sakit dan semuanya ditembak mati,” tulis Hario Kecik dalam Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia (2009).

Saat peristiwa tragis itu terjadi, Hario Kecik yang bernama asli Soehario K. Padmodiwirio masih berpangkat mayor dan sedang menjabat sebagai Kepala Staf Security KCKS.

Dalih pasukan Belanda melakukan aksi biadab tersebut adalah karena mereka menuduh bahwa rumah sakit itu adalah markas tentara Republik.

Sementara menurut catatan Wim Banu, seorang saksi hidup dalam peristiwa itu, kepada Historia, menyebutkan bahwa 12 orang yang dibantai pasukan Belanda adalah anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan lima orang pasien dari warga sipil.

Dua di antara para korban adalah kakak kandung Wim Banu, Suyono Inswihardjo dan iparnya, Slamet Ponidjo.

Oleh sebab itu, di monumen peringatan Peniwen Affairs disebutkanlah nama-nama korban dengan keterangan: “Telah gugur di sini para pahlawan remaja PMI: Matsaid, Slamet Ponidjo, Suyono Inswihardjo, Sugiyanto, JW Paindono, Roby Andris, Wiyarno, Kodori, Said, Sowan, Nakrowi, Soedono. Rakyat yang gugur: Wagimo, Rantiman, Twiandoyo, Sriadji, Pak Kemis.”

Masih menurut Wim, sebenarnya korban rakyat enam orang. “Ada satu warga lainnya yang ditembak begitu saja oleh tentara Belanda. Jadi jumlahnya enam yang dikuburkan bersama-sama.”

Usai aksi keji dilakukan, pasukan Belanda kemudian beristirahat di rumah orangtua Wim Banu. “Tentara Belanda datangi rumah saya. Sebentar bicara dengan ayah saya yang memang bisa berbahasa Belanda. Masih ingat betul saya. Sempat disuruh-suruh dengan teriakan cari kayu bakar buat mereka masak,” kata Wim yang kini sudah berusia 82 tahun.

Keesokan harinya, sebelum pasukan Belanda angkat kaki dari Desa Peniwen, mereka masih melanjutkan aksi bejatnya. Keperluan medis di rumah sakit itu dirampok. Tak hanya itu,sejumlah pasukan juga sempat melakukan pemerkosaan.

“Tiga wanita anggota (perempuan) gereja diperkosa, sedangkan para suami dan tunangan korban ditembak mati di tempat,” tulis Julius Pour dalam Doorstoot naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer, seperti dikutip Historia.

Perlu dicatat, asal-usul rumah sakit yang diduduki pasukan Belanda itu dahulu didirikan oleh para zending Kristen Protestan. Karena tidak terima atas kesewenang-wenangan pasukan Belanda, para pendeta di Kota Malang melaporkan kejadian keji itu ke para petinggi Misi Gereja Pembaharuan.

Laporan kemudian diteruskan ke pembesar mereka di Oestgeest, Belanda, dengan tembusan ke pimpinan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) di Jakarta, Komisi Tiga Negara bentukan PBB, dan Dewan Gereja Dunia di Swiss.

Peristiwa itu segera tersiar di berbagai daerah berkat suratkabar yang ada di Malang dan Surabaya. Bahkan tersiar pula hingga ke luar negeri, yakni Amerika dan Inggris sebagai “Skandal Pembunuhan Peniwen yang dilakukan oleh tentara Belanda usai Perang Dunia II,” tulis Hario Kecik.

Laporan juga sampai ke pihak para petinggi Gereja Pembaharuan di Belanda. “Sehingga disimpulkan, jika kepada saudara-saudara seiman saja tentara Belanda tega memperkosa dan melakukan pembunuhan, tidak bisa dibayangkan bagaimana tindakan mereka kepada orang lain,” tulis Julius Pour.

Akibat peristiwa tersebut, pimpinan Tentara Kerajaan (KL) meminta maaf dan mengirim tim penyelidik. Ia berjanji akan menghukum mereka yang terbukti bersalah dan memastikan kejadian seperti itu tidak akan terulang.

Sayangnya, permintaan maaf tersebut berlarut-larut dan secara resmi baru dilakukan pada 2011 berbarengan dengan permintaan maaf terhadap tragedi pembantaian Rawagede. Sementara permintaan maaf dari Palang Merah Belanda baru dilakukan pada 5 April 2016.

Permintaan maaf secara pribadi juga disampaikan pada Wim Banu beserta keluarga yang ikut menjadi korban. Palang Merah Belanda juga menyatakan akan bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia cabang Kabupaten Malang untuk memugar monumen pembantaian di Peniwen.

Editor : Taat Ujianto