• News

  • Singkap Sejarah

Cinta Sehidup Semati Tempo Dulu

Ilustrasi mencintai sampai akhir hayat
Netralnews/Istimewa
Ilustrasi mencintai sampai akhir hayat

YOGYAKARTA, NNC - Lelaki berbeda dengan perempuan baik secara biologis (kelamin) maupun secara sosial budaya (gender). Organ tubuh perempuan mampu memproduksi sel telur, mengandung, dan melahirkan. Sedang lelaki memproduksi sel sperma, memiliki jakun, penis, dan sebagainya.

Mengutip pernyataan Budiman dalam Pembagian Kerja Secara Seksual (1985), secara sosial budaya, perbedaan pria dan wanita dikonstruksi sedemikian rupa oleh masyarakat sehingga seolah lelaki dianggap lebih kuat, agresif, rasional, dan lebih dominan. Sebaliknya, perempuan dipandang lebih lemah, pasif, emosional, dan dependen.

Sejak bayi, baik lelaki maupun perempuan akan belajar mengenali kodrat biologisnya dan perannya di masyarakat. Dengan proses itu, ia akan mampu bertindak apa yang pantas dilakukan oleh lelaki dan apa yang pantas dilakukan oleh perempuan.

Dalam proses tersebut, sebenarnya perbedaan secara biologis tidak ada sesuatu yang menjadi persoalan. Semua cukup jelas. Sudah kodratnya perempuan menyusui dan memelihara anak.

Namun,  persoalan muncul ketika faktor biologis dikonstruksi secara patriarki. Kedudukan perempuan menjadi subordinat di bawah kaum lelaki sehingga melahirkan ketidakadilan sosial dan budaya.

Relasi lelaki dan perempuan sudah kodratnya saling melengkapi. Mereka saling jatuh cinta, lalu membina hubungan suami istri secara intim untuk menghasilkan keturunan. Namun, dalam proses itu, tak jarang sarat dengan relasi yang cenderung menempatkan posisi istri lebih lemah dari suami.

Dalam sejarah peradaban Hindu-Budha di Nusantara, pernah terjadi budaya dimana kesetiaan istri akan diukur dengan ikut mati apabila suaminya meninggal terlebih dahulu.

Saat ritual pembakaran jasad suami berlangsung, istri akan ikut mati dengan terjun ke dalam api yang berkorbar. Ritual ini dinamakan sati. Dan sati direstui dan dianggap mulia sebagai wujud kesetiaan perempuan yang paling tinggi.

Sati di Jawa Kuno

Dalam catatan Ma Huan yang ditulis sekitar 1413-1415 Masehi berjudul Ying-yai Sheng-lan (1970: 95), mengisahkan kebiasaan sati yang dilakukan oleh orang Jawa Kuno dalam menghadapi  peristiwa kematian.

Apabila ada orang kaya atau kalangan bangsawan terhormat meninggal, jasadnya akan dibakar (kremasi). Para budak, pelayan, selir, dan istri yang paling disayangi (biasanya semua perempuan), juga akan ikut menyusul kematian dengan terjun ke dalam kobaran api.

Ma Huan tidak menyebutkan peristiwa sebaliknya. Jika istri atau selir tercinta meninggal kemudian jasadnya dibakar, tidak pernah ada keharusan bagi suami (pihak lelaki) kemudian ikut mati bersama di atas bara api. Hal ini menjadi salah satu bukti perbedaan gender di masa itu.

Memang, sudah menjadi tradisi di masa itu, para budak, istri, atau selir selalu mengucap sumpah setia kepada suami atau tuannya dengan mengatakan, “Dalam kematian, saya akan pergi menyertaimu.” Maka saat suami atau tuannya mati, mereka ikut menyusul. 

Saat api berkobar melahap jasad lelaki bangsawan atau hartawan yang meninggal, dengan mengenakan bunga di kepala dan berbalut kain lima warna, para budak, istri, dan selirnya  akan melompat ke dalam api tersebut. Tubuh mereka kemudian terbakar menjadi abu.

Catatan Ma Huan juga diperkuat oleh Tome Pires dalam The Suma Oriental yang ditulis sekitar tahun 1512-1515. Dalam kunjungannya ke Nusantara, ia juga menyaksikan tradisi kesetiaan istri yang diukur dengan ikut mati menyusul suami. 

Ia menyebutkan bahwa dalam tradisi kerajaan di Jawa, ketika raja wafat, “Sejumlah istri dan selirnya membakar dirinya dan juga ketika seorang tuan atau seorang laki-laki penting meninggal.”

Selain dengan membakar diri, perempuan yang memutuskan setia  ikut mati bersama suami atau tuannya adalah dengan menggunakan keris. Sebelumnya akan diadakan ritual “menenggelamkan diri” dengan diiringi musik dan jamuan makan.

Dalam kajian berjudul Kedudukan dan Peranan Perempuan dalam Masyarakat Jawa Kuno, Abad VIII-XV Masehi (2009), Titi Surti Nastiti menduga bahwa tiga dari keempat istri Sri Kertarajasa Jayawarddhana, raja Majapahit, yakni Tribhuwaneswari, Narendraduhita, dan Prajnaparamita, melakukan sati.

Kesimpulan itu diambil dari adanya data sejarah ketika Kertarajasa mangkat, ketiga istrinya tidak pernah disebut lagi dalam sumber tertulis, baik prasasti maupun teks.  Dan justru anak bungsu dan istri keempat Kertarajasa (Gayatri) yang berperan besar dalam mengurus putra mahkota dan menjadi rajapatni.

Selain itu, penting dicatat juga bahwa dalam berbagai sumber sejarah di era Jawa Kuno, sati lebih banyak terjadi dalam lingkup keraton. Dan ini menunjukkan bahwa sati lebih banyak berlaku di kerajaan dan bukan di lingkup pedesaan.

Sati sebagai ritual suci

Praktik sati di masa Jawa Kuno tak lepas dari pengaruh budaya Hindu yang berkembang di India sekitar abad ke-15. Sati memiliki makna tersendiri bagi umat Hindu di masa itu. Cinta sehidup semati kaum perempuan terhadap lelaki bukanlah dianggap sebagai cinta buta.

Di dalam Kitab Siva Purana (ditulis sekitar 300 SM), terdapat ajaran keagamaan tentang sati. Ada tokoh bernama Daksayani. Ia rela mati untuk menebus penghinaan Raja Daksa, ayahnya sendiri, terhadap suami Daksayani yang bernama Siva.

Dengan cara itu, Daksayani bisa meraih satya, yaitu wujud kesetiaan tertinggi untuk mencintai suami sehidup semati. Dalam ajaran satya wacana, salah satu kesetiaan yang dimuliakan adalah kesetiaan istri kepada suaminya. Maka tak heran apabila sati dianggap sebagai simbul suci dan mulia.

Namun, saat sati tersebar ke Nusantara khususnya Jawa dan Bali, modelnya sedikit berbeda dengan praktik sati di India. Di Jawa dan Bali, tak jarang diwarnai dengan penggunaan keris. Selain itu, istilah yang lebih sering digunakan adalah tradisi bela atau mabela.

Dalam catatan berjudul “Human Sacrifice in Bali: Sources, Notes, and Commentary” yang dimuat majalah Indonesia No 40 Oktober 1985, Alfons van der Kraan mengisahkan tentang upacara sati di Bali yang berlangsung pada Februari 1633.

Dua anak dan seorang istri Raja Bali meninggal. Saat proses kremasi berlangsung, sebanyak 22 budak perempuan ikut menceburkan dirinya dalam kobaran api. Namun sebelumnya, tubuh para budak perempuan itu  ditikam dengan keris baik oleh dirinya sendiri maupun oleh algojo.

Di Bali kala itu, bagi mereka yang ikut menjalani sati atau bela, akan menerima imbalan dari istana. Imbalan itu diberikan kepada kerabatnya yang ditinggalkan. Imbalan yang dimaksud bisa berupa sawah, harta, pangkat dan sebagainya.

Konon, baik istri, budak, maupun selir yang memutuskan menjalani sati atau mabela adalah tanpa paksaan atau atas kemauan sendiri (kehendak bebas). Namun benarkah demikian?

Apakah bukan karena konsep sosial budaya (gender) yang saat itu begitu kuat sehingga mencengkeram psikologis kaum perempuan? Dalam sistem kepercayaan atau agama, kaum perempuan yang dianggap mulia akan melakukan sati.

Dan syukurlah, kini tradisi sati atau bela sudah tidak berlaku lagi. Di Bali, praktik bela dihapuskan secara bertahap. Di Kerajaan Buleleng dan Jembrana, praktik bela masih sempat berlangsung hingga abad ke-19.

Dan praktik bela terakhir yang terjadi di Bali menurut catatan Alfons van der Kraan adalah terjadi pada 1903. Ketika itu, ada dua perempuan menjalani bela saat berlangsung proses kremasi Raja Ngurah Agung dari Tabanan.

Sementara di Jawa, tradisi sati berangsur-angsur menghilang ketika agama Islam semakin menguasai tanah Jawa. Pemakaman model kremasi yang diikuti ritual sati digantikan dengan model penguburan.

Dalam hal ini, Tome Pires memberikan catatan khusus, “Adat ini (sati, red) dilakukan oleh orang Jawa, bukan orang Jawa yang telah beragama Islam.”

Editor : Taat Ujianto