• News

  • Singkap Sejarah

Melacak Manusia Purba di Papua

Arca yang ditemukan sejak zaman prasejarah berada di Situs Gunung Srobu, Jayapura, Papua.
foto: Balai Arkeologi Papua
Arca yang ditemukan sejak zaman prasejarah berada di Situs Gunung Srobu, Jayapura, Papua.

JAYAPURA, NETRALNEWS.COM - Balai Arkeologi Papua dalam penelitian di perairan Danau Sentani bagian barat, Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua kembali menemukan tiang rumah prasejarah.

Hari Suroto, salah satu peneliti senior dari Balai Arkeologi Papua saat berada di Kota Jayapura, Minggu (20/10/2019) mengatakan penelitian tersebut merupakan penelitian lanjutan di Situs Ayauge.

Pada penelitian sebelumnya, tahun 2018, kata dia, tim peneliti dari Balai Arkeologi Papua berhasil menemukan tiang-tiang rumah dari pohon soang (Xanthostemon sp) di Situs Ayauge.

Tiang-tiang ini merupakan bekas hunian prasejarah berupa rumah panggung di atas permukaan air. Pada penelitian 2018, hanya dilakukan survei permukaan air saja, sehingga hanya diketahui adanya bekas-bekas tiang rumah.

"Dalam penelitian Oktober 2019, lebih difokuskan pada peninggalan yang berada di bawah air, penelitian ini melibatkan nelayan tradisional Sentani yang terbiasa dengan molo, yaitu menangkap ikan dengan menyelam," katanya.

Para nelayan tradisional Sentani ini, ungkap dia, mampu menyelam cukup lama tanpa menggunakan alat selam. Eksplorasi bawah air di Situs Ayauge, berhasil mendapatkan pecahan gerabah berdinding tebal, alat tulang, dan mata panah terbuat dari kayu soang.

"Kayu soang dikenal sebagai kayu keras dan mampu bertahan lama hingga ratusan tahun sehingga secara tradisional oleh masyarakat Sentani dijadikan sebagai tiang rumah dan peralatan hidup lainnya," katanya.

Berdasarkan pengamatan terhadap pecahan gerabah Situs Ayauge, memiliki ketebalan yang sama dengan gerabah yang ditemukan di Situs Megalitik Tutari, Doyo Lama. Hal ini diperkirakan berasal dari tempat yang sama.

Secara tradisional, gerabah di Sentani diproduksi di Kampung Abaar, Sentani Tengah. Namun hasil analisis X-Ray Diffraction (XRD) terhadap gerabah Abar dan gerabah Situs Megalitik Tutari, kandungan mineral pada tanah liat kedua gerabah tersebut tidak sama.

"Hal ini membuktikan bahwa gerabah Situs Megalitik Tutari dan Situs Ayauge tidak dibuat di Abaar," katanya.

Lalu, kata Hari, berdasarkan temuan terbaru berupa gerabah motif buaya di Situs Yope, maka diperkirakan gerabah Situs Megalitik Tutari dan gerabah Situs Ayauge dibuat di Yope, Danau Sentani bagian barat.

Secara terpisah terkait temuan tersebut, Kepala Bidang Kebudayaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura Elvis Kabey mengatakan pihaknya akan terus bekerja sama dengan Balai Arkeologi Papua untuk melakukan penelitian di kawasan Danau Sentani.

"Kerja sama ini selain menemukan situs arkeologi baru juga untuk melakukan kajian berkaitan dengan pelestarian dan pengembangan situs arkeologi yang ditemukan," katanya dilansir Antara.

Temuan di situs Yomokho

Sementara itu, penelitian dari Balai Arkeologi Papua di Situs Yomokho, Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, berhasil menemukan gigi manusia purba.

"Gigi manusia prasejarah ini didapatkan dalam ekskavasi pada kedalaman 110 cm," kata Hari Suroto, salah satu arkeolog senior dari Balai Arkeologi Papua, di Kota Jayapura.

Berdasarkan analisis Marlin Tolla dari Max Planck Institute Jerman, kata Hari, yang merupakan almunus Universitas Udayana Bali itu, gigi yang ditemukan berdasarkan bentuk mahkota dan akarnya merupakan gigi manusia prasejarah.

"Dari susunan sedikit enamel hingga ke dentin, lebih ke molar bagian atas. Tapi dari sisa mahkotanya menunjukkan ukuran mahkota tidak terlalu tinggi serta ukuran bagian akar yang pendek, hal ini adalah molar ketiga bagian atas," katanya.

Situs Yomokho, kata dia,  merupakan situs hunian neolitik di tepi Danau Sentani, Kabupaten Jayapura. Dalam penelitian ini, selain ditemukan gigi manusia, juga ditemukan pecahan gerabah, tulang, gigi babi, tulang ikan, arang, kapak batu, dan alat batu tokok sagu.

"Berdasarkan data arkeologi yang ditemukan menunjukkan bahwa pada masa lalu, manusia yang tinggal di Situs Yomokho mengolah dan mengonsumsi sagu," katanya.

Kapak batu, kata dia, untuk menebang pohon sagu, alat batu untuk menokok sagu, dan gerabah digunakan sebagai wadah untuk mengolah sagu menjadi papeda.

"Sedangkan sebagai sumber protein, mereka hidup berburu babi di hutan dan menangkap ikan di Danau Sentani," kata Hari Suroto.

Kepala Balai Arkeologi Papua Gusti Made Sudarmika mengaku bahwa baru sebagian wilayah Danau Sentani yang sudah diteliti.

"Pada tahun-tahun selanjutnya akan dilakukan penelitian yang lebih intensif dan menjangkau wilayah Danau Sentani yang lebih luas, terutama wilayah yang belum dijangkau penelitian," katanya.

Selain itu, kata Gusti, situs-situs yang pernah disurvei, untuk interpretasi yang lebih luas maka akan dilakukan ekskavasi atau penggalian, terutama di situs-situs hunian awal prasejarah di Danau Sentani.

Temuan-temuan baru ini sangat berharga bagi pengungkapan sejarah Papua di masa silam, mengingat penelitian era prasejarah di Papua masih sangat minim.

Editor : Taat Ujianto