• News

  • Singkap Sejarah

Mengenang Teror ‘Hantu Komunisme‘ dan Komunis Ganyang Santri

Ilustrasi Peristiwa Kanigoro
foto: kanigoro.com
Ilustrasi Peristiwa Kanigoro

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Suatu malam di bulan Januari 1965, tepatnya pada tanggal 13, terjadi peristiwa menggemparkan yang hingga kini tetap dikenang sebagai teror subuh. Teror tersebut ditujukan kepada pemuda pelajar Islam yang tengah berkumpul di Desa Kanigoro Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Hari itu, umat muslim masih menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1384. Sekitar pukul 04.30 pagi, ketika para pelajar sedang menunaikan salat Subuh, seperti dikisahkan Anis Abiyoso bersama ‎Ahmadun Yosi Herfanda dalam Teror Subuh di Kanigoro (1995), terjadilah apa yang dinamakan Peristiwa Kanigoro.

“Karena agak kelelahan, saya dan beberapa teman bersembahyang di asrama. Dingin udara dan air wudhu yang menggigilkan tubuh tak mengurangi kekhusyukan salat kami,” tulis Anis (hlm. 1). Sayang sekali, kekhusyukan itu kemudian terganti dengan suasana mencekam.

“Ketika saya sedang dalam posisi duduk tasyahud, tiba-tiba terdengar suara gebrakan keras. Pintu kamar saya didobrak, diiringi teriakan-teriakan 'Bunuuuh! Bunuuuh! Ganyanggg!'” lanjut Anis yang kemudian menerima sebuah tendangan dan hantaman di punggungnya.

Belum sadar apa yang tengah terjadi, Anis diteriaki, “Bangun, ayo! Bangun!” teriak penggruduk. Mereka berpakaian lusuh dan bersenjata tajam.” Anis yakin, gerombolan yang berjumlah ratusan orang itu sebagian masuk ke masjid tanpa lepas alas kaki.

Mereka sengaja ingin membubarkan kegiatan Mental Training (Mantra) yang digelar oleh organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII).

Anis masih teringat teriakan para penggeruduk, “Bunuh! Ganyang! Hidup PKI! Hidup BTI! Balas Peristiwa Madiun! Ganyang antek Nekolim! Ganyang antek Malaysia! Ganyang santri!”

Selama era Orde Baru, peristiwa Kanigoro tercatat sebagai bagian cerita keji Partai Komunis Indonesia (PKI) kepada umat Islam. Peristiwa itu selalu dikenang sebagai bagian merawat semangat untuk memerangi “hantu komunisme”.

Sementara dalam catatan Sari Emingahayu berjudul Sisi Senyap Politik Bising (2007: 84-86), disebutkan bahwa peristiwa itu tak lepas dari latar belakang Kanigoro sebagai basis massa PKI, yakni Barisan Tani Indonesia (BTI), namun mengapa, Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Timur, mengadakan kegiatan di tengah-tengah mereka?

Di masa itu, ketegangan antara massa PKI dengan kaum muslimin sedang tinggi-tingginya.  Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Timur tentunya memiliki alasan tertentu sehingga nekat menyelenggarakan kegiatan Mental Training (Mantra) di desa itu.

Padahal, PII dikenal sebagai organisasi yang mendukung Partai Masyumi. Sementara sejak 1960, Partai Masyumi dianggap sebagai partai terlarang.

Namun, penyebab mengapa PII berani nekat berbuat seperti itu, tak ada penjelasan lebih. Sari Emingahayu  menulis, “Pertanyaan yang sulit terjawab adalah mengapa PII mengadakan kegiatan dengan kapasitas kegiatan yang cukup besar di tengah-tengah basis PKI?” 

Apakah ada konspirasi seperti yang disebut Sari Emingahayu, yakni “elit-elit PII telah dapat perintah dari Jenderal Nasution agar mengintensifkan kegiatan-kegiatan mantra di daerah-daerah basis PKI”?

Sayangnya, dugaan seperti itu tak pernah terbuktikan, sementara kegiatan PPI jelas memiliki izin resmi seperti tercantum dalam Surat Izin berkegiatan Nomor Sek.77/U/28/A.A.

Surat itu diterbitkan oleh Kantor Kabupaten lengkap dengan jaminan dari Camat Kras, Kepala Sektor Polisi, Komandan Urusan Teritorial Perlawan Rakyat (Koramil) Kras. Tokoh Nahdlatul Ulama H. Said jadi penasehat acara. Kegiatan Mantra disebutkan menempati area sekitar langgar (musala) K.H. Jauhari.

Kegiatan Mantra dimulai tanggal 9 Januari 1965. Jumlah peserta yang ikut acara berjumlah 127 orang dan 36 orang panitia.

Penyebab massa PKI menggeruduk kegiatan Mantra diduga karena dipicu oleh adanya ceramah M Samelan, seorang mantan aktivis Masyumi. Sebenarnya, ia sudah dilarang Komandan Kodim Kediri, namun karena ulah seorang panita acara bernama Anis Abiyoso, M Samelan diizinkan mengisi ceramah.

Aktivis Masyumi itu dianggap sebagai lambang organisasi Masyumi yang sangat dimusuhi kaum kiri. Akibatnya, pada 13 Januari 1965, pukul 4.30 WIB, saat sebagian peserta sedang melaksanakan Salat Subuh, massa yang diduga dari pendukung PKI menggeruduk tempat itu.

Dalam buku Pusjarah TNI berjudul Pemberontakan G30S/PKI dan Penumpasannya (2009), disebutkan bahwa massa diperkirakan mencapai 2.000 orang. Massa membawa senjata tajam, sambil berteriak-teriak, “Hidup PKI!” Kemudian mereka mengamuk, merusak apa yang ada.

Bahkan, ada saksi yang mengaku melihat massa penggeruduk merobek-robek dan menginjak-injak Alquran.  Kabar perusakan Kitab Suci Alquran itu kemudian merebak dan menimbulkan amarah umat Islam di Jawa Timur.

Kabar itu dengan cepat menyebar. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU di Kediri tak mau tinggal diam. Gus Maksum, putra K.H. Jauhari, pegang komando.

Lima hari kemudian, delapan truk Banser dikerahkan menyerang desa Kanigoro. Kini giliran BTI dan Pemuda Rakyat jadi sasaran. Mereka diburu karena dianggap sebagai pelaku penggerudukan dan pembubaran acara Mantra.

Polisi lalu mengambil langkah untuk meredam keadaan dengan menangkap anggota BTI, di antaranya Suryadi dan Harmono.

Selain itu, Anis Abiyoso selaku panitia Mantra tak luput jadi buronan polisi. Ia baru menyerahkan diri ke polisi pada 12 Februari 1965 di Malang, Jawa Timur.

Kasus Kanigoro kemudian reda. Namun, sebenarnya belum selesai. Beberapa bulan berikutnya, kedua kekuatan kembali bebenturan usai terjadi peristiwa Gerakan 30 September (G-30-S). Kali ini, massa PKI yang mengalami pembantaian.

Editor : Taat Ujianto