• News

  • Singkap Sejarah

Ketika ‘Tumpah Darah’ di Gedung Indonesische Clubgebouw Hantui Kolonial Belanda

Suasana sewaktu Kongres Pemuda II dalam diorama
foto: Majalah Hai edisi 1992
Suasana sewaktu Kongres Pemuda II dalam diorama

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - “Saya hanya mau memperdengarkan dengan permainan biola,” kata WR Supratman dalam buku Sejarah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (1982) karya B. Sularto.

WR Supratman rupanya khawatir jika syair lagu itu dinyanyikan akan mendatangkan masalah bagi acara penting yang sedang  berlangsung.  Hari itu, 28 Oktober 1928, polisi rahasia Belanda semakin meningkatkan pengawasannya terhadap jalannya Kongres Pemuda II yang berlangsung di Gedung Indonesische Clubgebouw, Batavia.

Polisi Belanda sedang memastikan bahwa kongres tidak disusupi oleh aksi-aksi yang bisa membuat kongres menjadi gerakan politik yang mengancam rust en orde di Batavia.

WR Supratman kala itu datang sekaligus sebagai wartawan Sin Po. Sambil menenteng kotak berisi biola, ia kemudian mendekati Ketua Panitia Kongres Soegondo Djojopoespito.

“Bung Gondo, apakah saya dapat memperdengarkannya sekarang,” tanya Supratman sambil berbisik dan menyodorkan naskah lagu “Indonesia Raya” kepada Soegondo. Dalam teks tersebut, terdapat kata “Indonesia Raya” yang dikhawatirkan akan menimbulkan masalah.

Soegondo kemudian mendekai petinggi pemerintah kolonial yang hadir dalam acara tersebut yakni Charles van der Plas. Ternyata, Van der Plas menyarankan agar Soegondo meminta izin terlebih dahulu ke perwira polisi Belanda bila paniti ingin menyanyikan lagi itu.

Soegondo segan untuk menjalankan saran tersebut mengingat dipastikan akan dipersulit. Tak ingin buang waktu, ia pun kemudian sepakat dengan Supratman agar lagu itu hanya dinyanyikan dengan iringan biola tanpa menyebutkan syairnya.

Walaupun hanya dengan instrumen, ternyata lagu itu membuat darah yang mengalir dalam tubuh para pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda II menjadi berdesir seperti kena sihir. Lagu itu mewakili para pemuda yang mengimpikan Indonesia merdeka.

Begitu suara biola yang dimainkan Supratman berhenti, suara tepuk tangan langsung bergemuruh. Semua setuju agar lagu itu diperdengarkan kembali. Terbukti, ketika kongres berakhir, di acara penutupan, lagu itu dimainkan Supratman kembali.

Soegondo Djohopoespito menulis dalam buku  45 Tahun Sumpah Pemuda (1974), katanya “Saya ingat, rapat penutupan Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 waktu Indonesia Raya diperdengarkan untuk pertama kali. Lagu itu dinyanyikan bersama-sama oleh hadirin.”

Saat itu, tampilah seorang gadis bernama Dolly Salim, putri Haji Agus Salim. Ia memandu hadirin menyanyikan lagu itu. Setelah peristiwa itu, lagu Indonesia Raya semakin dikenal. Apalagi, WR Suparatman juga mempublikasikannya dalam Sin Po.

Sesudah Kongres Pemuda II, lagu itu sempat dianggap membahayakan Kolonial Belanda. Karena dilarang, di berbagai pertemuan resmi, lagu itu hanya disenandungkan atau hanya sekedar bersiul. Itu pun sudah membuat polisi Belanda khawatir akan membakar semangat dalam melawan pemerintah.

Darah Tertumpah

Kongres Pemuda II adalah salah satu tonggak penting dalam proses menjadi “Indonesia”. Peristiwa itu kemudian dikenang sebagai Hari Sumpah Pemuda. Peristiwa berlangsung pada 27-28 Oktober 1928 di Gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Nomor 106, Weltevreden, Batavia.

Kongres Pemuda II berhasil merumuskan tekad kawula muda untuk berbahasa, bertanah air, dan berbangsa yang satu (Sumpah Pemuda). Ketiga janji tersebut menjadi simbol zaman baru untuk meruntuhkan tembok atau sekat pimordial dan feodalisme berlebihan yang sebelumnya justru dimanfaatkan pihak kolonial melalui strategi devide et impera (adu domba).

Dalam peristiwa bersejarah tersebut, ada satu falsafah Jawa yang ikut mewarnai konsep nasionalisme Indonesia yang ingin dibangun. Falsafah tersebut bernama “wutah getih” atau darah tertumpah.

Dalam pergaulan remaja, ada mitologi klasik bila dua orang pemuda dan pemudi berjanji, keduanya akan menggoreskan jari kelingking sehingga keluar darah. Mereka kemudian mempertemukan jari mereka yang luka dan sedikit berdarah sambil mengucapkan janjinya.

Namun, dalam Kongres Pemuda II bukan dilakukan dengan cara seperti itu. Sumpah Pemuda ternyata dilandasi oleh filosofi Jawa yang mengandung arti lebih dalam. Falsafah “wutah getih” mengandung pesan yang bisa menjadi salah satu fondasi semangat nasionalisme.

Falsafah “wutah getih” mengilhami frasa “tanah airku, tanah tumpah darahku” yang digunakan dalam berbagai semboyan perjuangan, terutama dalam syair lagu kebangsaan “Indonesia Raya” gubahan WR Soepratman. Dapat dipastikan, WR Soepratman memilih frasa “tanah airku, tanah tumpah darahku” karena falsafah tersebut.

Jadi apa arti falsafah “wutah getih”? Dalam kajian Dirdho Adithyo dan I Gusti Agung Anom Astika yang berjudul Bunyi Merdeka, Sejarah Sosial dan Tinjauan Musikologi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (2017: 91), disebutkan bahwa kata “wutah getih” sebenarnya berasal dari tembang mocopat dari Jawa.

Bunyi tembang mocopat tersebut, “Lamun sira dumadi prajurit, nganggo we-waton. Kang sepisan, labuh negarane. Kaping pindho sira kudu eling. Duk nalika lahir. Wutah getihipun.” (Jika engkau menjadi prajurit, pakailah dasar-dasar etikanya. Yang pertama, membela negaramu. Yang kedua, engkau harus ingat. Ketika engkau lahir, darahnya tumpah).

Tembang mocopat tersebut berisi suatu pesan mendalam yang ditujukan kepada semua orang, khususnya generasi muda, agar selalu ingat kepada ibu yang telah menumpahkan darahnya bagi kelahiran anak-anak Indonesia. Darah itu tumpah di bumi, tempat dimana anak dilahirkan.

Bumi sebagai ruang dan tempat hidup itu bernama Indonesia. Di sana terdapat deretan gunung, lautan, lembah, sungai, dengan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya. Seluruhnya kemudian dilambangkan dengan istilah ”tanah air”.

Dalam perjalanannya, falsafah “wutah getih” diadopsi dan disederhanakan dalam Bahasa Indonesia menjadi frase “tanah air, tanah tumpah darah”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kemudian diubah lagi menjadi “tanah tempat kelahiran” atau “kampung halaman”.

Jadi, di balik “wutah getih” ternyata kita semua diajak untuk memuliakan sosok ibu yang lahir dan darahnya tertumpah. Maka tepat pula apabila tanah air juga disebut sebagai ibu pertiwi.

Bila ditelaah lebih jauh, istilah ibu pertiwi, ibu yang darahnya tertumpah, tanah air, ternyata juga ada hubungannya dengan unsur ajaran Hindu, yaitu simbol lingga dan yoni. Simbol tersebut selalu berhubungan dengan mitologi memuliakan dewi kesuburan (Dewi Sri) sebagai sosok ibu pertiwi yang memberikan sumber penghidupan.

“Wutah getih” juga memuliakan perempuan

Seperti digambarkan Dirdho Adithyo dan I Gusti Agung Anom Astika pada saat Kongres Pemuda memasuki hari kedua, suasana berubah menjadi tegang. Masing-masing peserta tampak tertegun dalam pikirannya masing-masing.

“Bahkan tidak sedikit dari mereka yang biasanya bercengkerama, pagi itu diam dan membisu. Semua sedang memikirkan masa depan bangsa Indonesia,” demikian bunyi kutipan dalam buku tersebut.

Bisa jadi, peserta berdebar-debar dengan hasil yang akan dirumuskan kongres. Sementara di sisi lain, ada kekawatiran dan pesimisme, mengingat sehari sebelum kongres digelar, Patih atau Residen Batavia saat itu, GJ ter Poorten Batavia melarang penggunaan istilah “kemerdekaan”.

Memang, kata itu kemudian tidak muncul dalam rumusan Sumpah Pemuda. Namun, kata itu ternyata keluar dalam bentuk lain. Kata itu berhasil diubah dalam alunan musik berjudul “Indonesia Raya” yang dimainkan WR Soepratman dengan alat musik biola.

Sekitar pukul 23.00, sebelum kongres ditutup, gesekan biola yang dimainkan WR Soepratman membuat seluruh peserta kongres terdiam. Semua tenggelam dalam perasaan kolektif yang sudah selama ini dipendam sejak dari nenek moyang mereka. Itulah kali pertama “Indonesia Raya” diperdengarkan di khalayak umum.

Walau tidak terucap, di dalam sanubari setiap peserta kongres mendaraskan seruan “Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku, Indonesia, merdeka, merdeka...“ Walau lagu “Indonesia Raya” tiga stanza tidak dinyanyikan dengan kata-kata, namun syairnya menggema di hati para pemuda dan pemudi yang hadir di tempat itu.

Darah yang tertumpah oleh ibu telah melahirkan anak bernama nasionalisme Indonesia yang siap membakar semangat juang menuju kemerdekaan. Oleh sebab itulah, Sumpah Pemuda menjadi sangat penting untuk direnungkan bersama.

Perlu diperhatikan juga, walaupun peristiwa bersejarah tersebut disebut sebagai Kongres Pemuda atau Sumpah Pemuda dan tidak menyebut “pemudi”, namun bukan berarti meniadakan citra kaum perempuan. Sosok ibu sebagai kaum perempuan melalui falsafah “wutah getih” sebenarnya mempunyai arti yang sangat mendalam.

Selain itu, dalam tiga butir hasil kongres atau isi Sumpah Pemuda juga disebutkan “Kami putera dan puteri Indonesia...” bukan hanya disebutkan “putera” saja. Hanya saja, di era itu masih belum banyak kaum perempuan yang ikut aktif dalam dunia politik.

Dari total peserta yang mencapai sekitar 750 orang, jumlah peserta dari kaum perempuan memang sedikit sekali. Namun paling tidak, jumlahnya tak kurang dari 10 tokoh penting, antara lain Nona Poernomowulan, Siti Sundari, Emma Poeradiredja, Suwarni Pringgodigdo, Johanna Masdani Tumbuan, Dien Pantouw, dan Nona Tumbel.

Merekalah sosok-sosok yang mewakili ibu atau kaum perempuan lainnya. Mereka menjadi sosok peletak kebangkitan kaum perempuan di masa selanjutnya. Sekitar dua bulan setelah Kongres Pemuda II, tepatnya 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, diselenggarakan Kongres Perempuan Pertama.

Dalam kongres perempuan itu, ada sekitar 1.000 perempuan hadir dalam pembukaan kongres. Mereka mengawali perjuangan menegakkan hak-hak mereka yang sebelumnya terkekang melalui sistem perkawinan, poligami, dan pendidikan. Hingga kini, perjuangan kaum perempuan menuntut hak-haknya belum berakhir.

Editor : Taat Ujianto