• News

  • Singkap Sejarah

Tionghoa Sekali Lagi, Tak Tutup Mata saat Sumpah Pemuda

Koran Sin Po
foto: istimewa
Koran Sin Po

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Menjadi Indonesia dan Indonesia bisa merdeka tak bisa lepas dari keringat, darah, dan air mata banyak tokoh pejuang. Di antara para pejuang itu, tak sedikit yang beretnis Tionghoa.

Di era tahun 1928, tatkala berlangsung Kongres Pemuda II yang kemudian dikenang sebagai Hari Sumpah Pemuda, tercatat sejumlah etnis Tionghoa ikut berperan penting. Apalagi, saat itu, koran pertama yang mempublikasikan lagu “Indonesia Raya” adalah surat kabar Sin Po.

Wartawan Sin Po yang paling terkenal saat meliput Kongres Pemuda tak lain adalah Wage Rudolf Supratman. Saat Kongres berlansung, ia sekaligus untuk pertama kalinya memperkenalkan lagu yang ia cipta tersebut.

Direktur Sin Po sendiri adalah seorang Tionghoa bernama Ang Yan Goan. Kala itu, Sin Po masih berkantor di di Jalan Asemka 29, Batavia. Koran ini pula yang sejak awal ikut menyuarakan kaum pergerakan.

Dalam memoar Ang Yan Goan, ia mengisahkan momen-momen penting saat masih bekerjasama dengan Supratman. Ia juga mengaku terkesima dengan alunan biola Supratman yang memainkan lagu Indonesia Raya. Menurutnya, syair lagu itu sangat menggugah hati.

Saat WR Supratman mengajukan permintaan agar partitur dan teks lagu itu dimuat di koran Sin Po, Ang Yan Goan ternyata tidak keberatan. Ia sadar bahwa lagu itu penting artinya bagi pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia.

Partitur lagu “Indonesia Raya” akhirnya terbit pada Sin Po Wekelijksche Editie (Sin Po Edisi Mingguan) tanggal 10 November 1928. Mulanya berjudul "Indonesia", sementara syairnya tidak menyebut kata "merdeka" tetapi masih menggunakan kata "mulia". Tentu ada maksudnya yakni agar tidak “dicekal” oleh pemerintah kolonial.

Jadi, koran Sin Po itulah yang pertama kali mempublikasikan lagu kebangsaan Indonesia. Unik sebenarnya. Mengapa tidak dimuat di surat kabar kalangan bumiputra?

Rupanya, WR Supratman sebenarnya sempat mencoba agar lagunya dimuat di koran lainnya. Namun, konon tak satupun direktur surat kabar bumiputra yang berani memuatnya. Jelas, memuat lagu itu beresiko dan para direktur tidak mau kena bredel.

Penggantian judul lagu menjadi “Indonesia Raja” ternyata baru dilakukan Supratman pada tahun 1929. Ia juga menyematkan frasa "Lagu Kebangsaan Indonesia" di bawah partiturnya. Kembali koran Sin Po ikut menyebarluaskannya dalam bentuk selebaran.

Tak hanya itu, Supratman ternyata juga mencari cara agar bisa melakukan rekaman untuk lagu yang ia ciptakan. Ia berhasil menghubungi Odeon namun permohonannya ditolak. Ia lalu menemui Tio Tek Hong, namun juga ditolak. Semua mengaku tak mau berurusan dengan polisi Belanda.

Akhirnya, Supratman bertemu dengan Yo Kim Tjan, pemilik Roxi Cinema House dan Lido di Tanjung Priok. Yo Kim Tjan tertarik bahkan meminta Supratman memainkannya dalam dua versi yakni versi asli dan versi keroncong.

Singkat cerita, rekaman di kediaman Yo Kim Tjan di Jalan Gunung Sahari 37, Batavia, sukses dilakukan.  Untuk versi  keroncong kemudian dikirim ke Inggris untuk diperbanyak, lalu akan dikirim balik ke ke Batavia.

Sayangnya, “gerilya” Supratman tercium polisi Belanda. Malang, seluruh hasil rekaman kemudian disita. Master versi keroncong yang ada di rumah Yo Kim Tjan dihancurkan polisi Belanda.

Beruntung, setelah Belanda terusir Jepang, Yo Kim Tjan diam-diam sempat mengamankan satu-satunya master versi asli. Rekaman itu berhasil dievakuasi selama masa revolusi oleh putri tertua Yo Kim Tjan, Kartika Kertayasa (Yo Hoey Gwat).

Rekaman sempat dibawa berpindah-pindah dari Djakarta, menuju  menuju Karawang, Tasikmalaya, Garut, dan beberapa kota lainnya.

Suatu ketika, Yo Kim Tjan pergi ke Belanda sekitar tahun 1947. Di negeri itu, tanpa sengaja, Yo Kim Tjan mendengar musik keroncong lagu “Indonesia Raya” mengalun di sebuah restoran di Amsterdam. Yo Kim Tjan segera menghubungi pemilik restoran dan meyakinkan asal-usul lagu itu.

Dengan susah payah, Yo Kim Tjan  akhirnya berhasil memperoleh lagu itu walau ia harus kehilangan uang sebanyak 15 gulden untuk membayar rekaman yang sebenarnya hasil produknya sendiri.

Tahun 1953, Yo Kim Tjan sempat menemui Muladi yang kala itu menjabat sebagai Kepala Djawatan Radio Republik Indonesia. Yo Kim Tjan meminta izin memperbanyak rekaman asli “Indonesia Raya” agar bisa didengarkan khalayak banyak, namun usulnya ditolak.

Memasuki tahun 1957, Yo Kim Tjan bertemu dengan Kusbini. Kepada Yo Kim Tjan, Kusbini sempat mengatakan bahwa ia menjanjikan lisensi kepada Yo Kim Tjan  agar dapat memperbanyak rekaman "Indonesia Raya".

Ternyata, Kusbini justru menyerahkan rekaman versi asli miliknya ke pemerintah. Peristiwa itu terjadi pada 1958 di mana Yo Kim Tjan disodori surat yang menyatakan seolah  ia menyerahkan rekaman versi aslinya secara sukarela.

Sejak itulah versi asli dipegang langsung oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah  kemudian memperbanyak dan mendistribusikan lagu tersebut.

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1958, stanza pertama "Indonesia Raya" kemudian dijadikan sebagai lirik resmi lagu kebangsaan. Kebiasaan itu sempat berlangsung selama puluhan tahun hingga era reformasi muncul desakan banyak pihak untuk membiasakan menyanyikan 3 stanza.

Editor : taat ujianto
Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber