• News

  • Singkap Sejarah

Gemar Meniduri Istri Orang, Aib Dua Raja Ini Berakhir Tragis

Relief Kamadhatu di kaki Candi Borobudur yang menggambarkan hubungan seks di era kerajaan
foto: istimewa
Relief Kamadhatu di kaki Candi Borobudur yang menggambarkan hubungan seks di era kerajaan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kisah skandal dan terkuaknya kebejatan yang dilakukan oleh raja dalam sejarah Nusantara, sebenarnya ada cukup banyak. Dua di antaranya dilakukan oleh Jayanegara, Raja Kerajaan Majapahit abad ke- 14 dan La Pateddungi, Raja Kerajaan Wajo di abad ke-15. 

Perilaku tak bermoral kedua raja tersebut tercatat dalam berbagai sumber sejarah dan menyisakan aib yang tak bisa dihapuskan. Penyebab perilaku bejat mereka sama, yakni suka meniduri istri orang lain.

Meskipun seorang raja, rakyat yang lemah pun tak akan mau tinggal diam ketika harga diri ternodai. Demikianlah terjadi, kedua raja tersebut di kemudian hari mati mengenaskan akibat dendam para suami yang istrinya diperlakukan secara biadab.

Nasib tragis Raja Jayanegara terjadi ketika Ra Tanca di tahun 1328 Masehi datang ke istana karena diminta mengobati Sang Raja. Raja Jayanegara kala itu sedang mengidap penyakit bisul. Saat mengobati itulah, Ra Tanca menikam Jayanegara berulang kali dengan taji, pusakanya hingga tewas.

Ra Tanca dendam karena Raja Majapahit itu telah melecehkan istrinya. Walaupun akhirnya Ra Tanca menyusul mati karena keris Gajah Mada, namun tuntas sudah dendam kesumatnya.

Menurut Slamet Muljana dalam bukunya Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya (1979), pembunuhan tersebut adalah skenario Gajah Mada karena ia pun diduga sudah geram dengan perilaku Jayanegara. Ia menggunakan Ra Tanca sebagai eksekutor yang kemudian sengaja dibungkam dengan kerisnya.

Berdasar Kitab Kutaramanawa Ddharmasastra (peraturan hukum) Majapahit, hukuman mengganggu perempuan yang bersuami adalah mati. Dengan sedikit tipu daya, Gajah Mada berusaha tegakkan hukum itu.

Di Nusantara, ternyata ada juga sosok raja lain yang berkelakuan seperti Jayanegara. Raja ini mirip, tapi beda waktu dan tempatnya. Dia adalah La Pateddungi Tosamallangi, Raja Kerajaan Wajo (1466-1469 Masehi) dengan gelar Batara Wajo III.

Kerajaan Wajo adalah kelanjutan dari Kerajaan Cinnotabi. Berdiri sekitar tahun 1399 Masehi, berlokasi di daerah Wajo yang kini masuk Propinsi Sulawesi Selatan. Kerajaan ini sangat khas yaitu berbudaya Bugis.

La Pateddungi Tosamallangi hanya tiga tahun memerintah. Dalam masyarakat Bugis, ia adalah aib sejarah. Ia adalah simbol penguasa bejat, tak tahu malu, dan telah mencoreng budaya siri’ (harga diri).

Bangsa Bugis menjunjung tinggi kehormatan dan harga diri. Sementara Batara Wajo III berulang kali dipergoki menggauli istri orang-orang Wajo. Bahkan pernah, dipergoki sedang menggauli paksa seorang perempuan dan anaknya sekaligus.

Berdasarkan penelitian Lontara Wajo (tulisan dengan aksara tradisional Bugis) yang dilakukan Prof Mr Andi Zainal Abidin dalam bukunya Wajo Abad XV-XVII (1985)  dikisahkan secara kronologis bagaimana perilaku tak pantas itu berlangsung selama tiga tahun.

Awalnya, La Pateddungi Tosamallangi suka berkeliling daerah sambil menggagahi istri-istri orang Wajo. Warga Wajo pun mengadukan perilaku raja kepada paman dari La Pateddungi Tosamallangi yang bernama Arung Saotanre (pejabat kerajaan). Karena malu, pamannya pun memberi teguran keras.

Di hadapan orang banyak, katanya, "Jangan engkau lakukan perbuatan yang tidak disukai orang-orang Wajo dan dibenci oleh Dewata! Bila engkau hendak mengambil perempuan, yang gadis saja, engkau ambil untuk diperistrikan!"

La Pateddungi Tosamallangi kemudian mengeluarkan peraturan untuk membedakan mana perempuan bersuami dan mana yang gadis. Yang sudah bersuami wajib mengenakan topi bila berpergian.

Namun, peraturan yang ia buat, ternyata ia langgar juga. Tak peduli ia bertopi atau tidak, asal dia suka, perempuan itu ia bawa ke istananya secara paksa. Kembali, rakyat Wajo menahan diri dari amarah.

Karena Arung Saotanre, pamannya, tak juga didengarkan, dilakukanlah musyawarah besar masyarakat Wajo. Musyawarah memutuskan agar La Taddangpare Rimaggalatung mewakili warga untuk menasehati Batara Wajo.

Teguran pertama, La Pateddungi Tosamallangi mengaku siap mengubah sikapnya. Agar tak tergoda, Ia mengeluarkan aturan agar kaum perempuan yang bersuami tidak keluar rumah. Namun, selang beberapa lama, La Pateddungi Tosamallangi justru melampiaskan syahwatnya dengan mendatangi rumah-rumah saat suaminya pergi bekerja.

Setiap teguran diberikan, La Pateddungi Tosamallangi mengaku mau bersedia mengubah diri. Ia juga keluarkan aturan baru. Namun tak lama, La Pateddungi Tosamallangi  kembali mengulangi kelakuan amoralnya.

Puncaknya, suatu ketika, La Taddampare menerima pengaduan seorang warga Wajo bahwa istri dan anaknya dibawa sang Batara Wajo. Ternyata benar, La Taddampare memergoki anak dan istri orang itu sedang digagahi sang Batara Wajo.

Musyawarah besar kembali digelar. Kali ini warga sudah tidak memberikan toleransi. Dalam suasana tegang dan riuh menahan amarah, diputuskanlah La Pateddungi harus diturunkan jabatannya sebagai Batara Wajo. Rakyat juga bulat memutuskan agar ia dijatuhi hukuman mati.

Konon, penghakiman dan eksekusi pembunuhan dilakukan di tengah sawah. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1469 Masehi. Setelah itu, Kerajaan Wajo sempat mengalami kekosongan kekuasaan selama lima tahun.

Tahun 1474, rakyat Wajo menobatkan La Palewo To Palippu menjadi Arung Matowa Wajo pertama. Gelar Batara Wajo sudah tidak digunakan lagi untuk menutup buku masa gelap sebelumnya. Budaya siri’ ditegakkan dan dipulihkan kembali.

Editor : Taat Ujianto