• News

  • Singkap Sejarah

Pria Aceh Gemar Candu, Pedofil, dan Menghilangkan Kelamin Musuh?

Laskar raktay saat Perang Aceh meletus di abad ke-19
foto: istimewa
Laskar raktay saat Perang Aceh meletus di abad ke-19

BANDA ACEH, NETRALNEWS.COM - Di mana dan kapan pun, perang selalu tragis. Kemanusian diinjak-injak. Demikian halnya dengan Perang Aceh yang terjadi  sekitar tahun 1873-1904.

Aceh kaya akan sumber daya alam. Kekayaan itulah yang dicari bangsa Belanda sejak menancapkan cakarnya di Nusantara. Dan agar terlaksana, rakyat Aceh harus ditundukkan terlebih dahulu.

Dalam catatan sejarah Paul Van’t Veer berjudul Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje (1985: 51-57), jumlah ekspor merica dari Aceh setiap tahun sekitar 140.000 pikul atau sekitar 9.000 ton. Jumlah ini merupakan bagian terbesar dari keseluruhan perdagangan merica di dunia.

Selain rempah-rempah, di Aceh kala itu juga terkenal sebagai pusat transaksi perdagangan candu, tekstil, dan senjata. Jenis barang perdagangan seperti itu dahulu disebut sebagai "barang-barang kelontong".

Sementara taksiran kasar jumlah penduduk Aceh adalah sekitar setengah juta orang. Jumlah itu masih tergolong sedikit dibanding penduduk Jawa yang mencapai sekitar 20 juta jiwa.

Namun, Kolonial Belanda harus mengakui walaupun jumlah penduduknya lebih sedikit, rakyat Aceh tidak mudah ditaklukkan. Rakyat Aceh benar-benar sangat berbeda dengan Jawa.

Perang Aceh terbukti telah menyita banyak energi dan biaya. Psikologis orang Belanda dibuat lelah. Perlawanan berlangsung begitu lama dan tidak henti-hentinya. Cara penyerangannya sering diluar perkiraan dan dilakukan baik laki-laki maupun perempuan.

Berbagai cara pun ditempuh. Salah satunya adalah melalui propaganda buruk tentang "kebejatan" rakyat Aceh. Mengingat terdapat perdagangan candu di Aceh, maka salah satu propaganda itu adalah “kebejatan” rakyat Aceh dalam mengonsumsi candu.

Konon, jumlah impor candu untuk penduduk Aceh mencapai 1.400 peti. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari jumlah candu yang dikonsumsi penduduk Jawa. Bahkan lebih tinggi dari rata-rata pengguna candu di Cina.

Namun anehnya, data itu tidak sebanding dengan dampak buruk yang biasanya dialami oleh masyarakat yang sudah menjadi pecandu. Tenaga para pemuda Aceh tidak loyo dan tetap kuat..

Bahkan, ada pendapat orang Aceh yang mengatakan, “Lebih celaka mana antara orang Aceh yang mengisap candu dengan minum alkohol yang biasa dilakukan oleh anggota pasukan Belanda?”

Dalam catatan Belanda, sering dikabarkan juga bahwa orang Aceh memiliki tabiat mengerikan. Orang Aceh akan “mengudung” setiap anggota pasukan Belanda yang berhasil ditangkap dan dibunuh. “Mengudung” adalah memotong atau menghilangkan alat kelamin.

Maka tak heran bila dalam perang Aceh, ditemukan mayat pasukan Belanda dalam kondisi tanpa organ kelamin. Dan kebiasaan ini tidak pernah terjadi di daerah lain di Nusantara.

Di negeri-negeri yang penduduknya kebanyakan beragama Islam, praktik seperti ini merupakan kebiasaan kuno. Dan tidak hanya dilakukan bagi orang atau pihak yang dianggap "kafir". Praktik ini juga dilakukan untuk sesama mukmin.

Memotong anggota kemaluan bertujuan untuk merenggutkan musuh yang tewas dari salah satu kenikmatan di surga. Artinya, seandainya orang yang tewas itu mati dan masuk surga, maka orang itu tidak lagi bisa merasakan kenikmatan seksual.

Sementara dalam buku-buku sejarah tentang Aceh, kebiasaan itu sebenarnya telah digolongkan sebagai “sifat kebinatangan”. Tidak pernah secara saksama diuraikan mengapa praktik seperti itu masih terjadi.

Namun, bagi orang Belanda, cerita itu justru berdampak buruk bagi orang-orang yang ingin masuk menjadi tentara Belanda.

Padahal, kala itu, salah satu faktor menarik bagi pemuda mau direkrut oleh kolonial Belanda adalah tentang ketersediaan kehidupan seksual yang nikmat di Nusantara, melalui praktik pernyaian dan pelacuran di tangsi militer.

Dan memang benar. Dalam tangsi dan perkemahan militer Belanda, berlaku hubungan seksual liar dengan wanita-wanita setempat (pribumi) atau nyai. Banyak anggota militer Eropa yang memiliki nyai sebagai teman tidur.

Sementara itu, ada juga propaganda buruk yang menyatakan bahwa orang Aceh memiliki kebiasaan pedofilia dan suka berbuat mesum dengan anak-anak. Memang ada satu atau dua pemuka feodal yang berbuat seperti itu, tetapi sebenarnya tidak berarti berlaku untuk semua orang Aceh.

Sejauh mana segala kebiasaan buruk itu tersebar? Tentu saja tidak dapat diselidiki. Yang pasti, ajaran Islam yang dianut penduduk Aceh,  sangat menentang semua praktik buruk tersebut (candu, pedofilia, homofil, dan lain-lain).

Para pemuka agama lebih banyak menganjurkan untuk melakukan perang suci dan perang jihad terhadap pasukan Belanda sebagai kaum “kafir”.

Para ulama Aceh sering menjelaskan bahwa jika terjadi kekalahan, hal ini adalah akibat dari pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum Islam dan ajaran-ajaran Alquran. “Perang Aceh merupakan siksaan Tuhan!” 

Sementara bagi Belanda, seruan jihad justru dianggap sebagai sifat jahat, yaitu fanatisme. Orang Belanda “memimpikan” agar orang Aceh berlaku sopan, tidak mengisap candu, tidak mesum, tidak mengudung, dan tidak fanatis.

Mereka juga memimpikan agar rakyat Aceh tidak  perlu melawan Belanda. Dan hal itu tak pernah terwujud. Propaganda perang tak lain adalah perang juga.

Syair di bawah ini ditulis penyair Belanda P. Haagsma. Dengan caranya, ia ikut melakukan propaganda seolah bangsa Belanda datang untuk berperang melawan orang Aceh yang bejat dan tak berperikemanusiaan. Padahal, semua itu adalah kemunafikan.

Ke Aceh, keraton! sarang segala kejahatan,
Persekongkolan, pembajakan, dan khianat berkecamuk;
Tumpas semua selingkuh, hajar si laknat:
Dengan sang Tiga Warna Belanda "peradaban" tumbuh
 
Ke Aceh! Keraton! itulah semboyan kita kini.
Kita gugur atau hidup, terserah Tuhan;
Tapi Aceh pasti jatuh, atau kami tak kembali lagi.
Menang atau mati, demi kehormatan  Belanda.

Editor : Taat Ujianto