• News

  • Singkap Sejarah

Asul Usul Mitos Pribumi Gauli Gadis Tionghoa Datangkan Malapetaka

Parade budaya di Pecinan Ketandan, Yogyakarta
foto: panduanwisata.id
Parade budaya di Pecinan Ketandan, Yogyakarta

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Bukan hanya sekali atau dua kali, etnis Tionghoa di Nusantara menjadi korban kebijakan diskriminatif para penguasa dan korban amuk massa. Di masa awal Perang Jawa (1825-1830), mereka pun menjadi korban kekerasan oleh praktik diskriminatif.

Bahkan, selain mengalami kekejaman, di era ini muncul mitos bahwa seorang pria pribumi yang menggauli atau menggundik gadis Tionghoa, akan mendatangkan celaka. Tak tanggung-tanggung, mitos itu justru dihembuskan oleh tokoh terpenting di era tersebut.

Praktik diskriminatif

“Pada 23 September 1825, pasukan berkuda yang dipimpin Raden Ayu Yudakusuma, Puteri Sultan Hamengku Buwono I, menyerbu kota Ngawi,” tulis Benny G. Setiono dalam bukunya Tionghoa dalam Pusaran Politik (2003: 171).

Ngawi adalah kota kecil yang terletak di pinggir Bengawan Solo yang kini menjadi tapal batas wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Mengapa kota ini diluluhlantakkan oleh Raden Ayu Yudakusuma?

Kota ini terkenal sebagai salah satu pos perdagangan yang sangat penting. Mayoritas penghuninya adalah kaum pedagang beras, kuli, dan tukang yang beretnis Tionghoa.

Akibat serangan pasukan Raden Ayu Yudakusuma, di kota ini terjadi banjir darah. Tanpa memedulikan jerit tangisan dan permohonan ampun, pasukan Raden Ayu Yudakusuma membantai baik laki-laki, wanita, maupun anak-anak.

Tubuh yang dipotong-potong bergelimpangan di depan pintu, di dalam rumah, dan di jalan-jalan. Kota Ngawi berubah menjadi kota yang mengenaskan. Sayangnya tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan berapa jumlah mereka yang menjadi korban.

Sebagian kecil berhasil kabur dan bersembunyi di wilayah yang dikuasai pasukan Belanda. Mereka berharap pasukan Belanda bisa memberikan perlindungan. Mereka memang selamat dari pembantaian, walau mungkin hanya untuk sementara.

Kabar pembantaian itu kemudian tersebar. Komunitas Tionghoa di tempat lain ikut mengalami kepanikan. Wilayah Jana di Timur Bagelen, tempat bermukim lebih dari 800 penenun tampak lengang. Semua penghuninya mengungsi.

Penjagaan gerbang tol tempat pemungutan pajak bagi semua orang yang ingin mengirimkan barang dagangan, juga dikosongkan. Bahkan banyak dari petugas yang juga beretnis Tionghoa mati dibunuh.

Bara kebencian terhadap etnis Tionghoa merebak di tahun itu. Padahal, sebelumnya orang-orang Tionghoa hidup rukun dan damai dengan penduduk Jawa.

Sebelum kekacauan itu, Raden Ayu Yudakusuma juga memiliki hubungan harmonis dengan kalangan etnis Tionghoa. Lewat mereka, Raden Ayu Yudakusuma sering memperoleh pinjaman uang.

Larangan menggauli gadis Tionghoa

Saat ipar Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Tumenggung Sasradilaga berperang melawan Belanda di Rembang, Lasem, dan Bojonegoro selama tahun 1827-1828, Tionghoa yang telah menganut Islam sebenarnya membantu pihak Sasradilaga.

Namun, akibat bantuan tersebut, kaum etnis Tionghoa justru menjadi sasaran balas dendam pasukan Belanda yang kemudian membantai etnis Tionghoa secara kejam, begitu perlawanan Sasradilaga bisa dikalahkan.

Orang Tionghoa juga banyak yang ikut mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro yang mengibarkan Perang Jawa melawan kolonial Belanda. Melalui orang Tionghoa, Pangeran Diponegoro bisa memperoleh uang perak, senjata, candu, hingga menyediakan wanita penghibur.

Memang diakui, etnis Tionghoa di tanah Jawa ada beragam. Banyak dari mereka yang telah menganut agama Islam dimanfaatkan oleh penguasa Mataram untuk menjadi penarik pajak. Melalui mereka, para Sultan bisa memperoleh sumber dana untuk menjalankan roda pemerintahan. 

Orang-orang Tionghoa juga dipercaya menjadi bandar-bandar pemungut pajak di jembatan, pelabuhan, pangkalan sungai, dan jalan-jalan utama (dahulu sudah ada istilah jalan tol).

Orang-orang Tionghoa ini berlomba-lomba mengumpulkan hasil pajak untuk mengincar konsesi yang diberikan Sultan. Alhasil, banyak orang Tionghoa yang berebut meraih profesi itu, termasuk dengan cara menyogok penguasa dengan uang berkali-kali lipat.

Kaum Tionghoa ternyata juga mendapat kepercayaan dari bangsa Belanda. Perannya salah satunya juga sebagai perantara dan pemungut pajak di daerah-daerah yang mereka kuasai.

Malahan, banyak orang Tionghoa juga dipercaya untuk mengelola rumah candu, mengimpor candu, memonopoli peredaran candu, mengelola rumah judi, hingga rumah-rumah pelacuran (bordil) yang sering juga menyediakan perempuan segar dan cantik untuk para pangeran dan pejabat Belanda.

Orang Tionghoa dipercaya pula untuk menjadi pedagang tekstil yang monopolinya juga dipegang oleh orang Belanda. Mereka menjadi perantara pengumpulan kapas, garam, nila, tembakau, sutera, hingga senjata.

Dalam setiap proses interaksi antara orang Jawa dengan orang Belanda, orang Tionghoa relatif diuntungkan sebagai perantara. Di mata masyarakat Jawa umumnya, hal ini menjadi awal lahirnya stereotipe negatif yang disematkan kepada etnis Tionghoa.

Kondisi inilah yang kemungkinan besar menjadi pemicu lahirnya bibit kebencian rasial. Setiap kali muncul kerusuhan, para pemungut pajak dan pengelola usaha “haram” itu selalu menjadi sasaran amuk massa.

Etnis Tionghoa yang menjadi penarik pajak di gerbang tol, seringkali diserang oleh para bandit di sekitar pos jaga. Tak jarang pula ditemukan tewas mengenaskan.

Akibatnya, orang Tionghoa yang menjadi penarik pajak mengorganisir diri dengan membentuk barisan pengawal yang terdiri dari orang-orang Jawa yang dipercaya bisa menghadapi para bandit. Hal ini justru semakin memicu konflik antar penduduk setempat.

Rasa benci kepada etnis Tionghoa semakin merebak dari mulut ke mulut. Dalam sumpah serapah yang mengandung sentimen politik, sosial, dan ekonomi, orang Tionghoa dianggap sebagai kaum pemeras, pembawa sial, dan menjadi sumber kesengsaraan kaum pribumi.

Malangnya, para penguasa di tanah Jawa, ternyata juga dijangkiti oleh perasaan tersebut. Ketika Perang Jawa meletus, banyak orang Tionghoa memilih melebur dengan masyarakat sekitar dengan mendukung Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro kemudian mengeluarkan instruksi bahwa orang Tionghoa yang ingin membantu perjuangannya agar “masuk Islam terlebih dahulu dan memotong kuncirnya,” tulis Benny G Setiono (2003: 176).

Sikap khawatir dan curiga terhadap orang Tionghoa begitu kentara. Pangeran Diponegoro melarang para komandannya melakukan hubungan akrab dengan orang Tionghoa. “Ia juga melarang mengambil gadis-gadis Tionghoa,” tambah Benny.

Para pejabat dilarang menjadikan gadis Tionghoa sebagai gundik walau kebiasaan itu sudah menjadi kelaziman di masa-masa sebelumnya. Pangeran Diponegoro menyerukan bahwa menggundik gadis Tionghoa akan membawa sial dan malapetaka.

Anggapan ini diperkuat dengan pengalaman yang ia alami. Ia yang selama ini merasa kebal terhadap peluru dan belum pernah terkalahkan dalam pertempuran melawan Belanda, suatu ketika saat perang meletus di daerah Gowok, pada 15 Oktober 1826, tiba-tiba terserempet peluru Belanda.

Pangeran Diponegoro marah. Sesuai apa yang ditulis dalam Babad Dipanagara, ia mengaku telah terjebak dan “dihancurkan” oleh kecantikan seorang gadis Tionghoa yang tertangkap di daerah Panjang dan kemudian dijadikan sebagai “tukang pijitnya”.

Pangeran Dipanegara juga mengait-ngaitkan pengalaman buruknya dengan pengalaman kekalahan yang dialami iparnya, Sasradilaga. Dalam pertempuran di daerah Lasem, Sasradilaga telah menggauli perempuan Tionghoa. Setelah itu, kekalahan harus ia tanggung.

Rupanya, menggauli perempuan Tionghoa yang diulangi oleh Pangeran Diponegoro  dianggap pula menyebabkan dirinya mendapat sial. Hal ini seolah mempertegas misteri dan mitos tentang “gadis Tionghoa sebagai pembawa sial”.

Padahal, kenyataan yang benar adalah bahwa moralitas pasukan perang, termasuk pasukan Diponegoro, akan memburuk jika sering mendatangi perempuan Tionghoa, khususnya mereka yang berada di rumah pelacuran. Apalagi dilakukan sambil mengisap candu.

Hanya saja, mitos tentang orang Tionghoa sebagai penyebab sial dan menyebabkan malapetaka ternyata tetap saja dihembuskan. Apabila sedang terjadi kepincangan sosial, konflik, dan kerusuhan. Mitos ini biasanya kembali tumbuh subur.

Berlanjut di era kemerdekaan

Di masa setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, banyak orang Tionghoa juga menjadi korban amuk massa. Kebencian dan balas dendam masyarakat yang seharusnya diarahkan kepada penjajah, ternyata diarahkan  kepada komunitas Tionghoa.

Di penghujung kekuasaan rezim Orde Baru, kembali terulang. Tuntutan mahasiswa agar Presiden Soeharto lengser, ternyata ditunggangi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab dengan menghembuskan kebencian rasial kepada etnis Tionghoa.

Penjarahan, penganiayaan, dan seruan anti rasial mewarnai sudut-sudut kota Jakarta dan sekitarnya selama 12-15 Mei 1998. Banyak korban berjatuhan dan patut disesalkan.

Bahkan hingga sekarang pun, masih ada saja pihak-pihak yang menghembus-hembuskan kebencian untuk memojokkan etnis Tionghoa. Hal ini patut dikikis. Rasialisme adalah pemahaman kuno yang harus segera ditanggalkan.

Editor : Taat Ujianto