• News

  • Singkap Sejarah

Melongok HD Setengah Ton yang ‘Gilas’ ABG, Artis, hingga Dirut Garuda

Harley Davidson dan menabrak tiang dan trotoar di Jl Proklamasi, Menteng, 13 November 2013
foto: istimewa
Harley Davidson dan menabrak tiang dan trotoar di Jl Proklamasi, Menteng, 13 November 2013

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Rabu, 13 November 2013 silam, Imam Rusydi (17) nekat mengendarai sepeda motor Harley-Davidson (HD) dan menabrak tiang dan trotoar di Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, hingga akhirnya tewas.

Peristiwa itu menyita banyak perhatian publik, pasalnya Harley-Davidson Ultra Classic Electra Glide, milik ayahnya, dikendarai tanpa izin, dan berujung petaka.

HD bukanlah mainan. Motor dengan berat hampir setengah ton dekendarai oleh remaja tanggung tanpa pengalaman cukup. Maka, jangan harap ia bisa mengendalikan “kegalakkannya”.

Mengendarai HD Ultra Classic Electra Glide yang berbobot sekitar 414 kilogram tanpa pengalaman cukup, bisa-bisa pengendaranya “tergilas” oleh motornya sendiri.

Kecelakaan maut lain yang pernah terjadi saat mengendarai HD adalah artis senior Sophan Sophiaan yakni pada 17 Mei 2008 silam. Peristiwa itu juga menyita perhatian publik.

Sophan Sophiaan bernasib nahas setelah terjatuh dari motor Harley-Davidson yang ditungganginya di jalur Alas Mantingan yang dilalui Rombongan Jalur Merah Putih (JMP) 2008. Padahal, yang memimpin rombongan adalah ia sendiri.

Road show JMP diadakan dalam rangka merayakan 100 tahun hari Kebangkitan Nasional.

Menurut saksi mata, salah satu penyebab kecelakaan tunggal itu adalah karena kondisi tubuh Sophan Sophiaan saat itu yang tidak terlalu fit sementara motor HD terkenal sangat berat.

Saat melintas jalur alas Mantingan, tiba-tiba motor Sophan Sophiaan yang berada di tengah-tengah rombongan terjatuh. Tubuh Sophan terlempar dengan posisi tertelungkup.

“Tak terlihat adanya luka, kakinya patah dan dari mulutnya keluar darah. Sepertinya luka dalam," ujar peserta JMP 2008 yang saat itu berada di mobil pengawal.

Istri Sophan Sophiaan, Widyawati, ikut dalam rombongan touring tersebut, namun ketika peristiwa ini terjadi, Widyawati ada di dalam mobil pengawal.

Ternyata baru-baru ini, motor HD kembali menjadi perbincangan, tapi bukan karena kecelakaan melainkan karena aksi penyelundupan HD yang meyeret-nyeret Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara atau Ari Askhara. Tampaknya, HD akan “menggilas” korban lagi.

Sekilas Sejarah HD

Motor Harley-Davidson mulai dirancang sejak  tahun 1903 di kota Milwaukee, Amerika Serikat. Ada dua  tokoh penting yang mengawali sepeda motor gede ini, yakni Bill Harley dan Arthur Walter Davidson.

Dua tahun berikutnya produk kedua orang itu dibeli oleh seorang yang tertarik dengan produk mereka. Motor tersebut diperbanyak sehingga pada tahun 1908, Bill dan Arthur berhasil menjual kurang lebih 154 motor. Di tahun-tahun berikutnya, motor tersebut menjadi semakin diminati. 

Tahun 1912, terjadi perkembangan pesat. Di Amerika saja sudah ada 200 dealer dan penjualan Harley. Motor jenis ini juga sudah mulai di ekspor ke Jepang.

Namun, di tahun 1918, HD mengalami fase surut karena kalah bersaing dengan produsen mobil yakni T-Ford. Mobil ini dijual relatif murah sehingga menggeser sepeda motor yang dianggap mulai ketinggalan jaman.

Memasuki tahun 1930, walaupun produksinya sangat terbatas, HD mulai menggunakan logo khasnya (sayap terbang) pada tangki motor.

Di tahun ini, HD juga mulai mengenalkan motor trike (roda tiga) atau dikenal juga sebagai motor service-car. Motor tiga roda ini banyak digunakan baik untuk komersil maupun untuk  kepentingan militer.

Di tahun 1950, kembali datang masa-masa suram HD. Kali ini, HD kalah saing dengan motor pabrikan inggris (Triumph) yang saat itu berhasil menguasai 40% pangsa pasar.

HD bisa keluar dari masa sulit pada 1957. Kala itu HD meluncurkan Sportster yakni motor Harley tercepat pada waktu itu. Sampai pada saat ini, motor Harley adalah motor yang sangat didambakan oleh para pria.

Antara tahun 1950 hingga 1970-an, Harley sering tampil di film-film Hollywood. HD digambarkan selalu dikendarai oleh gerombolan pengendara motor illegal.  Mungkin inilah yang menyebabkan HD identik dengan geng pengendara sepeda motor atau geng pemberontak.

Hingga kini, citra itu belum hilang. Justru oleh citra itu, produsen HD tampaknya sengaja menekankan penjualannya sebagai 'gaya hidup' saat para pesaingnya berfokus pada penjualan sepeda motor.

Harley menjual sepeda motor mewah kelas berat yang dirancang untuk menjelajahi jalan raya. Harley memiliki desain retro khas yang terinspirasi oleh model HD klasik dengan suara knalpot yang unik dan bisa langsung dikenali.

Di Indonesia, citra itu diperkuat juga dengan kesan sebagai motor orang kaya yang sedang touring atau lakukan road show seperti dilakukan rombongan Sophan Sophiaan.

Sayangnya, tak sedikit warga masyarakat juga menganggap motor kelas atas itu diidentikkan dengan “kesombongan sosial”.  Saat rombongan melintas jalan raya, seolah merekalah pemilik jalan raya.

Editor : Taat Ujianto