• News

  • Singkap Sejarah

Hadiah Natal yang Sadis! Bom Bertaburan, Yogyakarta Luluh Lantak

Asap mengepul akibat bombardir pasukan Belanda di Yogyakarta pada 19 Desember 1948
foto: historia
Asap mengepul akibat bombardir pasukan Belanda di Yogyakarta pada 19 Desember 1948

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Nama Kota Yogyakarta tak bisa diabaikan dalam catatan sejarah kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Sejak awal proklamasi, pemimpin kota ini yakni  Sri Sultan Hamengkubuwono IX  secara proaktif mensuport pemerintahan Soekarno-Hatta yang baru berdiri.

Belum satu tahun usia RI, pemerintahan Soekarno-Hatta di Jakarta mendapat ancaman dari pasukan Belanda. Dalam situasi itu, Sri Sultan tak mau tinggal diam.

Pada 2 Januari 1946, ia mengirim sepucuk surat ke Presiden Sukarno. Ia menawarkan agar Yogyakarta dijadikan sebagai ibu kota sementara di tengah kepungan tentara NICA. Sukarno-Hatta, menyambut baik tawaran itu.

Satu hari kemudian, 3 Januari 1946, Soekarno memutuskan memindahkan Ibu Kota RI ke Yogyakarta. Malam itu dengan menggunakan kereta api, secara diam-diam Sukarno, Hatta, dan beberapa menterinya berangkat menuju Yogyakarta.

Menukil catatan Jay Akbar dalam “Kado Natal untuk Yogyakarta” yang dirilis Historia disebutkan bahwa Yogyakarta diresmikan sebagai Ibu Kota RI sementara dua hari setelah rombongan tiba pejabat RI tiba.

Kala itu, Sukarno menempati rumah kediaman Gubernur Yogyakarta sebagai tempat tinggal pribadi sekaligus kantor presiden. Sementara itu Wakil Presiden Moh. Hatta, menempati sebuah rumah di Jalan Reksobajan, sebelah kiri Istana Presiden.

Dukungan yang telah dilakukan Sultan Hamengkubuwono IX menjadi bukti bahwa sebagai “Raja” Jawa, ia justru sangat prokemerdekaan dan sejak awal ikut memperkuat berdiri-tegaknya pemerintahan RI.

Maka wajar bila ia kemudian hari Sultan diangkat menjadi Menteri Negara dalam  Kabinet Sjahrir III.

Bukti dukungan lain juga bisa dilihat bagaimana ia langsung berkirim surat kepada Soekarno selang satu hari setelah proklamasi 17 Agustus 1945 digaungkan.

Surat itu berisi ucapan selamat atas terbentuknya negara RI. Setelah itu, Sultan juga mengeluarkan maklumat yakni pada 5 September 1945.

Isi maklumat menyatakan bahwa wilayah kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan Daerah Istimewa RI, segala kekuasaan dalam negeri dan urusan pemerintahan berada di tangan Hamengkubuwono IX, dan Sultan Hamengkubuwono IX bertanggung-jawab langsung kepada Presiden RI.

Ketika Yogyakarta menjadi ibu kota RI sementara, Sri Sultan  juga harus memikirkan pengamanan kota. Sewaktu-waktu tentara Belanda akan meyerbu Yogyakarta.

Oleh sebab itu, ia memimpin pasukan Laskar Rakyat di Yogyakarta untuk bersiaga menghadapi perang. Latihan perang pun digelar.

Selain mengantisipasi serangan Belanda, Sultan Hamengkubuwono IX juga tak tanggung-tanggung ikut membiayai perjuangan. Ia menyumbangkan dana tak sedikit.

Keraton juga menyumbangkan persenjataan. Setidaknya ada 1440 pucuk senjata api dan senjata lain disumbangkan untuk pasukan RI.

“Bantuan keuangan dari sultan tidak hanya diberikan kepada pejabat dan pegawai, tetapi juga untuk keperluan pasukan gerilya dan PMI.” Tulis Julius Pour dalam Doorstoot Naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer (2009).

Mengenai jumlah berapa dana yang disumbangkan, dalam buku Tahta Untuk Rakyat (1982) kepada M. Roem, Sultan suatu kali berkata, “Ah, nggak mungkin ingat, ngambilnya saja begini (sambil menirukan gerakan orang mengambil pasir dengan dua telapak tangan).”

Kembali pada persoalan ancaman serangan pasukan Belanda. Apa yang dikhawatirkan Sultan benar-benar terjadi. Pada 19 Desember 1948, Yogyakarta diserbu pasukan Belanda dengan kekuatan penuh.

Pesawat meraung-raung di atas langit Yogyakarta dan disusul peluru dan bom bertaburan meluluhlantakkan kota.

Padahal, baru saja diselenggarakan perundingan Renville namun ternyata  Belanda mengkhianati kesepakatan. Peristiwa ini kemudian biasa disebut sebagai tragedi “Aksi Polisionil” atau Agresi Militer II.

Dalam buku Bertarung Dalam Revolusi, Kemal Idris mencatat “… dari jauh terlihat sebuah pesawat terbang. Dalam hati saya timbul dugaan, bahwa hari itu akan ada latihan Angkatan Udara yang sebelumnya memang direncanakan.”

Namun ternyata, pesawat itu bukan pesawat milik pasukan RI melainkan pasukan Belanda. Mereka menyerang secara tiba-tiba.

Akibat serangan tak terperikan itu, Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman meminta para pemimpin sipil, khususnya Sukarno-Hatta untuk meninggalkan Yogyakarta dan mempertahankan kedaulatan kemerdekaan dengan jalan senjata. Sukarno menolak dan lebih memilih jalan diplomasi.

“Saya minta dengan sangat agar Bung Karno turut menyingkir. Rencana saya hendak meninggalkan kota ini dan masuk hutan. Ikutlah Bung Karno dengan saya,” pinta Sudirman.

“Dirman, engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan pertempuran dengan anak buahmu. Dan tempatmu bukanlah tempat pelarian bagi saya. Saya harus tinggal di sini, dan mungkin bisa berunding untuk kita dan memimpin rakyat kita semua,” kata Sukarno menolak Soedirman seperti dikutip Adam, sebagaimana ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (2007).

Yogyakarta akhirnya ditakhlukkan dan dikuasai pasukan Belanda setelah sekitar 128 tentara Indonesia tewas dalam pertempuran. Sore kira-kira pukul 17.00 kolonel Van Langen, penguasa militer Belanda untuk wilayah Yogyakarta berhasil menduduki istana.

Beberapa hari berikutnya para pemimpin republik: Sukarno, Hatta, Sjarir, dan Agus Salim diterbangkan ke pengasingan di Berastagi.

Di kemudian hari Sukarno mengenang serangan itu: “Desember 1948, Belanda menjatuhkan hadiah Natal tepat di atas cerobong asap dapurku. Jam 5.30 di pagi hari Minggu, tanggal 19, mereka membom Yogyakarta.”

Editor : Taat Ujianto