• News

  • Singkap Sejarah

Yesus Lahir pada Tanggal 25 Desember, Mitos atau Fakta?

Ilustrasi perayaan Natal tempo dulu
foto: istimewa
Ilustrasi perayaan Natal tempo dulu

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Umat Kristiani merayakan Natal sebagai salah satu bagian dari ritual menghormati kelahiran Sang Juru Selamat atau Yesus Kristus di kandang Betlehem.

Namun, mayoritas umat Kristiani paham dan sadar bahwa kapan pastinya Yesus Kristus dilahirkan tidak disebutkan secara vulgar di dalam Kitab Suci. Akibatnya, muncul banyak pendapat tentang kapan kelahiran Yesus.

Bahkan ada yang berpendapat bahwa Natal sesungguhnya adalah perayaan yang salah kaprah sebab dahulu tanggal 25 Desember digunakan sebagai perayaan kelahiran Dewa Matahari kaum pagan di era Kekaisaran Romawi.

Bagi mayoritas umat Kristiani, Natal dipercaya sebagai simbol dan sarana untuk merenungkan cinta kasih Tuhan. Hal terpenting bukan soal tanggalnya tetapi penghayatan betapa cinta Tuhan begitu nyata sehingga mau menjadikan dirinya setara dengan manusia.

Mengenai kapan Yesus lahir, fakta yang benar sesungguhnya bagaimana?  Pertanyaan lainnya, sejak kapan Natal menjadi tradisi yang dirayakan umat Kristiani?

Menyitir Catholic Encyclopedia edisi 1911, yang berjudul "Christmas", disebutkan bahwa "Natal bukanlah upacara gereja yang pertama, melainkan ia diyakini berasal dari Mesir. Perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus."

Sementara menurut Encyclopedia Americana tahun 1944, disebutkan "Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut."

Masih sumber yang sama, dikatakan bahwa pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, diambil dari hari pesta merayakan hari "Kelahiran Dewa Matahari" sebab tidak seorangpun mengetahui hari kelahiran Yesus.

Lain lagi dengan penjelasan yang bersumber dari buku karangan Taylor Marshall, The Eternal City: Rome and Origins of Catholic Christianity. Dikisahkan bahwa Gereja Katolik, setidaknya sejak abad kedua, telah mengklaim bahwa Kristus lahir di tanggal 25 Desember.

Taylor menyebutkan bahwa memang ada banyak pendapat lain yang menyatakan 25 Desember bukan merupakan hari kelahiran Yesus. Banyak pihak menyebut perayaan Natal berasal dari tradisi festival pagan Romawi yang dinamakan Saturnalia.

Taylor justru membuktikan semua anggapan itu tidak benar. Menurut penelusurannya di era Romawi, perayaan Saturnalia dimulai sejak tanggal 17 Desember sampai 23 Desember. Tetapi dari tanggalnya sendiri, tidak cocok bila dikaitkan dengan tanggal 25 Desember.

Sementara bila dikaitkan dengan pesta Natalis Solis Invicti yang artinya kelahiran dari (dewa) “Matahari yang tak Terkalahkan”, kultus ini sudah ada di Roma pada tahun 274 yakni pada era Kaisar Aurelian.

Selama Kaisar Aurelian rayakan ritual tersebut hingga tahun 354, tak ada bukti historis bahwa perayaan Natalis Sol Invictus berlangsung setiap 25 Desember.

Tanggal 25 Desember baru menjadi hari kelahiran “matahari yang tak terkalahkan” sejak pemerintahan  kaisar Julian yang murtad. Kaisar Julian pernah menjadi Kristen, tetapi telah murtad dan kembali ke paganisme Romawi.

Sejarah menyatakan bahwa Kaisar Julian itulah yang menentukan hari libur pagan tanggal 25 Desember. Artinya apa?

Itu menyatakan bahwa “matahari yang tak terkalahkan” bukanlah dewa yang popular di kekaisaran Romawi. Lagi pula, tradisi perayaan pada tanggal 25 Desember tidak ada dalam kalender Romawi sampai setelah Roma menjadi negara Kristen.

Kelahiran “Sang Matahari yang tak terkalahkan” adalah sesuatu yang tidak popular. Perayaan Saturnalia yang disebut di atas lebih popular, lebih mungkin bahwa Kaisar Julian yang murtad itulah yang berusaha untuk memasukkan hari libur pagan, untuk menggantikan perayaan Kristen.

Dengan penjelasan tersebut, Taylor berusaha menunjukkan bukti bahwa menghubungkan 25 Desember dengan perayaan agama pagan, sebenarnya masih sebatas hipotesa.

Di sisi lain, perayaan Sol Invictus di kerajaan Romawi, itu dimulai tanggal 274 AD. Padahal, dalam catatan penghormatan umat Kristen kepada Kristus, Sang Terang Dunia (berdasar Injil Yoh 9:5), sudah ada lebih dulu daripada penghormatan kepada Dewa Sol Invictus/ Dewa Matahari.

Lagi pula, berdasar prasasti di zaman Kaisar Licinius, tertulis bahwa perayaan Dewa Sol itu jatuh tanggal 19 Desember. Prasasti tersebut juga menyebutkan persembahan kepada Dewa Sol itu dilakukan di tanggal 18 November.

Bukti tersebut menandakan bahwa perayaan Dewa Matahari memiliki vareasi tanggal dan perayaan tersebut baru marak diadakan di abad ke-4 dan ke-5, jauh setelah zaman Kristus dan para Rasul.

Menukil catatan Stefanus-Ingrid dalam katolisitas.org berjudul “Apakah Yesus lahir tanggal 25 Desember?” disimpulkan bahwa besar kemungkinan, para kaisarlah yang sengaja “mengadopsi” perayaan Natal 25 Desember yang dilakukan para murid Yesus sebagai perayaan Dewa Matahari. Bukan sebaliknya.

Terakhir, merujuk pada isi Kitab Suci, Yesus lahir dimusim penggembala domba. Ada yang berpendapat bahwa tradisi menggembalakan domba itu bukan dilakukan di musim dingin.

Kadang orang lupa bahwa Betlehem bukanlah Eropa seperti Inggris. Betlehem berada di daerah Palestina, sekat yakni di lintang 31.7. Di wilayah ini, pada bulan Desember, para penggembala masih bisa menggembalakan ternaknya.

Kelahiran Yesus Kristus berdasarkan Kitab Suci, dapat dianalisa setidaknya dalam 2 tahap yakni berdasar perbandingan dengan kelahiranYohanes Pembaptis anak Elisabet. Dikatakan bahwa Elisabeth mengandung “beberapa lama setelah” masa pelayanan Zakaria (Luk 1:24).

Pelayanan Yakaria adalah peristiwa yang rutin terjadi dalam tradisi Yahudi yakni terjadi bulan September. Sementara perhitungan kelahiran St. Yohanes Pembaptis jatuh pada empat puluh minggu setelahnya, yakni jatuh pada 24 Juni.

Langkah selanjutnya, membandingkan peristiwa yang ditulis dalam Lukas 1:24-27, 36 dikatakan bahwa sesaat setelah Perawan Maria mengandung Kristus, ia pergi untuk mengunjungi Elisabet yang sedang mengandung di bulan yang ke-6.

Artinya, umur Yohanes Pembaptis 6 bulan lebih tua dari pada Yesus Kristus. Jika 6 bulan ditambah kepada 24 Juni maka diperoleh 24-25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus.

Jika tanggal 25 Desember dikurangi 9 bulan, diperoleh hari peringatan Kabar Gembira (Annunciation) yaitu tanggal 25 Maret.

Maka, jika Yohanes Pembaptis dikandung segera setelah the Day of Atonement, maka tepatlah penanggalan Gereja Katolik, yaitu bahwa kelahiran Yesus jatuh sekitar tanggal 25 Desember.

Mungkin itulah salah satu pegangan bagi Gereja Katolik Roma untuk tetap mempertahankan tradisi perayaan Natal pada 25 Desember.

Editor : Taat Ujianto