• News

  • Singkap Sejarah

Hura-Hura Tahun Baru di Batavia

Ilustrasi Jakarta tempo dulu
foto: istimewa
Ilustrasi Jakarta tempo dulu

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tahukah Anda bagaimana masyarakat zaman Kolonial Belanda, khususnya di Batavia, merayakan Tahun Baru atau menyambut datangnya tanggal 1 Januari? Ternyata sama saja dengan Jakarta di zaman sekarang.

Di era itu, masyarakat Batavia juga sudah terbiasa merayakan dengan beragam pesta dan hura-hura. Hanya bentuk-bentuk perayaannya saja, yang berbeda.

Lalu bagaimana gambaran perayaan Tahun Baru di Jakarta tempo doeloe?

Mendiang Alwi Shahab, seorang wartawan senior yang pernah mengenyam kehidupan era Kolonial,  bercerita bahwa di Batavia, saat Tahun Baru tiba, banyak festival diselenggarakan dengan diisi beragam acara untuk mengundang keramaian.

Salah satu pusat keramaian adalah di Molenvliet yang kini bernama Harmoni. Di tempat ini selalu diadakan perayaan tahun baru yang serba meriah. Orang berduyun-duyun berdatangan ke tempat ini untuk menikmati acara dan menyambut detik-detik Tahun Baru.

Dan tentu saja, di tengah keramaian itu selalu disuguhi aneka pertunjukkan berbagai kesenian, lengkap dengan deretan para penjaja makanan. 

Selain itu, ada juga keunikan lain. Setiap Tahun Baru tiba, beberapa kapal berukuran kecil sengaja dilepas dari dermaga dan digunakan masyarakat Batavia untuk menyusuri Sungai Ciliwung yang mengalir di beberapa kawasan elite.

“Saat itu, Sungai Ciliwung masih dalam sehingga bisa dilayari. Airnya pun masih jernih, tidak seperti sekarang yang semakin keruh dan dangkal akibat sedimentasi,” kenang Alwi kepada Republika.

Cara menikmati tahun baru tersebut bisa dibilang cukup unik. Andaikata Sungai Ciliwung masih seperti dulu, tentunya kebiasaan seperti itu bisa dipertahankan dan dilanjutkan di zaman sekarang.

Bila Sungai Ciliwung masih dalam dan airnya tetap jernih, pasti bisa menambah daya tarik wisatawan. Dan saat Tahun Baru tiba, bisa diselenggarakan festival di sepanjang Sungai Ciliwung

Model perayaan lainnya juga disebutkan oleh Alwi. Dahulu, di Jalan Noordwijk (sekarang Jalan Juanda) dan Jalan Risjwijk (sekarang Jalan Veteran) banyak pemuda-pemudi berkumpul untuk bercengkerama menghabiskan malam dan menyambut datangnya Tahun Baru.

Biasanya mereka mengadakan pesta hura-hura hingga larut malam. Dan di hari biasa, di daerah ini memang menjadi lokasi pusat hiburan.

“Kegiatan hura-hura menyambut pergantian tahun ini berlangsung hingga Jepang masuk ke Indonesia,” terang Alwi.

Ketika Jepang datang hingga era Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, perayaan Tahun Baru absen dan tidak pernah dirayakan karena ada pemberlakuan sistem penanggalan Jepang di seluruh Indonesia.

Sementara pada era revolusi yaitu tahun 1945-1949, perayaan Tahun Baru juga tidak bisa dilangsungkan karena kala itu, perhatian rakyat Jakarta dan rakyat Indonesia pada umumnya, sedang terfokus melawan tentara Belanda yang ingin kembali dan merebut Indonesia. 

Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949, barulah kondisi Jakarta mulai berangsur-angsur pulih dan menjadi ibukota Republik Indonesia. Namun, perayaan Tahun Baru belum terlihat mencolok dan menjadi kebiasaan.

Perayaan Tahun Baru lengkap dengan pesta dan hura-hura, kembali berlangsung secara intensif justru pada masa pemerintahan Orde Baru, tepatnya pada masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin yaitu tahun 1966.

Dan setiap tahun, perayaan Tahun Baru selalu digelar secara besar-besaran. Pemuda-pemudi berkumpul di berbagai titik, saling menyalakan petasan, kembang api, membunyikan terompet, dan lain-lain. Bahkan ledakan petasan sempat beberapa kali menyebabkan jatuhnya korban.

Bila daerah Jalan Thamrin hingga Monas pada zaman sekarang selalu dipadati masyarakat Jakarta pada malam tahun baru, itu semua terjadi akibat kebiasaan yang dimulai sejak zaman Ali Sadikin.

Di era itu, penyelenggaran perayaan tahun baru yang digagas Gubernur Ali Sadikin, membuat harum nama beliau. Pemimpin Jakarta yang akrab disapa Bang Ali selalu dielu-elukan warga Jakarta saat ia turun dan berbaur di tengah massa yang merayakan pesta menyambut Tahun Baru.

Seiring pembangunan kota Jakarta, berbagai tempat hiburan beridiri. Dan semua pusat hiburan, saat Tahun Baru tiba, kemudian berlomba-lomba menarik massa dengan menyelenggarakan berbagai acara.

Hotel-hotel, pantai-pantai di Jakarta, bioskop, mall, dan lain-lain, semuanya merayakan pesta dan selalu dipadati pengunjung. Selama satu malam Tahun Baru, semua tempat hiburan tersebut menyelenggarakan acara sampai pagi hari.

Dan memang harus diakui, setiap perayaan Tahun Baru, banyak kelompok masyarakat yang memanfaatkannya dengan pesta miras, mabok-mabokan, dan aneka praktik maksiat lainnya.

Dan tampaknya, model perayaan Tahun Baru tersebut kemudian juga merebak ke semua daerah dan pelosok tanah air. Dari desa sampai kota, hingga tahun 2018 lalu, warga Indonesia begitu antusias menyambut datangnya Tahun Baru Masehi.

Sistem penanggalan Masehi memang berlaku secara international. Sehingga, Tahun Baru selalu dirayakan oleh hampir semua negara-negara di dunia.

Namun akhir-akhir ini di Indonesia, muncul seruan dan mempertanyakan perayaan tersebut. Bagi umat Islam, yang memiliki sistem penanggalan Hijriah, memang memiliki perayaan tahun baru sendiri. Demikian juga etnis Tionghoa yang juga memiliki kalender sendiri.

Semua mempunyai kemerdekaan untuk menentukan yang terbaik. Yang pasti, perayaan Tahun Baru hendaknya dirayakan secara santun, arif, dan tidak melanggar norma-norma yang berlaku.

Perayaan Tahun Baru tidak harus dengan pesta pora. Kita bisa juga merayakannya dengan berkumpul bersama keluarga, membuat acara kilas balik dan merenungkan peristiwa selama satu tahun lalu, melakukan evaluasi, dan lain-lain.

Dengan cara itu, perayaan Tahun Baru menjadi jauh lebih berdampak positif.

Editor : Taat Ujianto