• News

  • Singkap Sejarah

Apakah Anda Membenci ‘China‘ tapi Menyukai Kembang Api?

Perayaan Tahun Baru identik dengan pesta kembang api
foto: istimewa
Perayaan Tahun Baru identik dengan pesta kembang api

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Dalam perjalanan sejarah Indonesia, kata “China” memiliki kisah kelam yang tak pernah berkesudahan. Satu kata itu pernah menjadi kata sarat unsur sara, stereotip negatif, diskriminatif, sasaran penggedoran, sasaran penjarahan, dan sebagainya.

Kata “China” dahulu pernah menjadi kata pemisah penuh ambiguitas antara kaum pribumi dan pandatang meski pengujian DNA membuktikan bahwa semua orang Indonesia memiliki darah nenek moyang dari daratan China.

Kata “China” pernah dijadikan untuk melampiaskan amok atau sasaran amukan massa pascaproklamasi kemerdekaan. Banyak warga etnis Tionghoa disebut sebagai “China” sehingga mengalami aksi perampokan (penggedoran), di sejumlah daerah.

Mereka yang dituduh “China” dianggap sebagai pendukung Belanda kemudian menjadi sasaran amukan massa prokemerdekaan. Padahal, tak sedikit warga Tionghoa ikut berjuang bagi kemerdekaan Indonesia.

Sentimen kaya dan miskin dan praktik diskriminatif selama pemerintahan Orde Baru juga melahirkan amok di penghujung pemerintahan Presiden Soeharto tahun 1998. Harta benda mereka yang dituduh “China”  dirusak dan dijarah sementara sebagian lain menjadi sasaran tindak kekerasan.

Bangsa Indonesia harus belajar banyak hal dari kata “China”. Menyebut kata itu tidak boleh dicampuradukkan dengan unsur kebencian tak berlandaskan.

Orang yang  rasis dan membenci “China” akan terjebak pada pola pikir sempit dan picik. Bahkan bisa jadi, saat membahas budaya luhur atau keunggulan bangsa China di Tiongkok pun tak mampu melihat unsur positifnya.

Ambil salah satu contohnya tentang penemu kembang api. Dalam catatan sejarah, benda yang rutin digunakan untuk merayakan Tahun Baru Masehi ternyata berasal dari negeri China.

Tetap membencikah Anda saat menyebut kata “China” sebagai penemu kembang api? Masih tetap membencikah terhadap kata "China" saat menikmati kembang api warna-warni?  

Ditemukan di China

Sejak awal ditemukan, ternyata kembang api yang warna-warni memang identik digunakan dalam perayaan tahun baru.

Dalam legenda di negeri China, penemuan kembang api tak lepas dari keberadaan seorang juru masak China yang tidak sengaja menumpakan saltpeter (kalium nitrat) ke api masakan sehingga menghasilkan kobaran api yang menarik.

Bila legenda tersebut ditelaah secara lebih seksama, kembang api yang disebut-sebut tak sengaja ditemukan sebenarnya terdiri dari batubara, sulfur, dan potasium nitrat. Ketika semua bahan itu dimasukkan ke dalam sebatang bambu dan dibakar makan akan terjadi ledakan.

Saltpeter biasanya juga digunakan untuk penyedap rasa. Lalu kapan kisah penemuan tak sengaja ini terjadi? Diperkirakan peristiwa itu berlangsung sekitar 2000 tahun yang lalu.

Kembang api berbentuk tunas bambu rutin diledakkan pada permulaan tahun baru untuk menakut-nakuti roh jahat.

Dalam sumber sejarah yang lebih valid disebutkan bahwa bubuk mesiu adalah bahan utama pembuatan petasan.

Mesiu untuk petasan pertama kali digunakan oleh seorang pendeta bernama Li Tian dari kota Liu Yang, provinsi Yunan pada masa pemerintahan dinasti Song, sekitar abad ke-9 masehi.

Li Tian membuat petasan untuk mengusir roh jahat, yang dipercaya akan ketakutan dengan bunyi keras yang ditimbulkan. Orang China sendiri memperingati penemuan petasan ini setiap tanggal 18 April dengan memberikan persembahan kepada arwah pendeta Li Tian.

Setelah ditemukan, setiap tahunnya petasan selalu hadir untuk meramaikan perayaan tahun baru China, atau tahun baru Imlek, dengan harapan agar setahun ke depan roh jahat takut dan tidak mengganggu kehidupan.

Efek menarik lainnya adalah munculnya suara ledakan yang kala itu dikenal dengan nama “gung pow” atau “bian pao”. Konon suara itulah yang dipercaya bisa menakuti para roh.

Dalam perkembangannya, petasan atau kembang api semakin diminati karena menciptakan cahaya berwarna-warni.

Memasuki abad ke-15, kembang api juga digunakan untuk acara-acara pesta, acara meraih kemenangan, acara kemiliteran, hingga pernikahan.

Vareasi lain dari bahan dasar kembang api yakni mesiu, ternyata juga melahirkan persenjataan perang. Mesiu digunakan untuk pendorong roket panah. Dahulu pernah digunakan pasukan Mongol sekitar tahun 1279.

Merambah Eropa

Tokoh penting yang ikut menyebarkan bubuk mesiu adalah Marco Polo, seorang penjelajah asal Italia. Dia dipercaya yang memperkenalkan mesiu kepada bangsa Eropa yang kemudian diolah kembali menjadi senjata api seperti meriam dan senapan.

Seiring persenjataan berbahan mesiu diciptakan, kembang api juga ikut diproduksi di Eropa. Bahanya tetap sama yakni bubuk hitam dari China atau mesiu.

Kembang api kemudian merebak hampir semua wilayah Eropa. Apalagi ketika kembang api juga digunakan oleh penguasa Kerajaan Inggris. Ratu Elizabeth I dikenal sebagai salah satu tokoh yang menggemari tontonan spektakuler kembang api.

Konon beliaulah yang mengangkat seorang ahli kembang api dengan sebutan “Fire Master of England” dan menjadi profesi yang sangat bergengsi kala itu.

Fire Master memiliki seorang asisten dengan sebutan Green Men. Karena saat bekerja ia harus mengenakan topi dari dedaunan hijau untuk melindungi kepala mereka dari percikan kembang api.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber