• News

  • Singkap Sejarah

Kematian Massal di Batavia Gegara Air

Tempo dulu, warga Batavia mengonsumsi air kali Ciliwung
foto: tropenmuseum
Tempo dulu, warga Batavia mengonsumsi air kali Ciliwung

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Jangan meremehkan terhadap pentingnya air bersih di Jakarta dan sekitarnya. Selama manusia masih bernapas, air bersih mutlak diperlukan. Maka, manusia yang merusak keberadaan dan ketersediaan air bersih, sebenarnya ibarat menggali kuburnya sendiri.

Sejak Kota Jakarta berdiri, nampaknya air selalu menjadi kekuatan yang bisa mengancam keberadaan penduduknya. Tidak hanya karena saat air melimpah di musim penghujan sehingga menimbulkan banjir, tetapi juga saat air bersih sulit didapat akibat kemarau panjang.

Dalam kesaksian sejarah yang ditulis oleh Tio Tek Hong, “Keadaan Jakarta Tempo Doeloe, Kenangan 1882-1959”, rupanya Jakarta pernah dilanda wabah yang menyebabkan kematian massal. Wabah itu disebabkan karena air.

Tio Tek Hong mengisahkan bahwa hingga abad ke-19, air ledeng belum dikenal. Warga Jakarta (Batavia) mengandalkan air minum dari kali dan air tanah (sumur). Kala itu, air kali dan air sumur masih layak diminum. Warga bisa mengonsumsinya secara langsung tanpa direbus terlebih dahulu.

Air kali yang biasa dikonsumsi adalah air Kali Jembatan Dua. Air ditampung dalam kaleng besar dan diangkut dengan menggunakan perahu. Air itu kemudian dijual dengan harga 10 sen per kaleng.

Selain mengandalkan Kali Jembatan Dua, masyarakat Batavia mengandalkan air sumur. Salah satu sumur yang airnya terkenal berkualitas adalah sumur yang dulu berada di Lapangan Banteng. Sayang, sumur itu kemudian diuruk setelah air ledeng dibangun.

Pada masa itu, Lapangan Banteng dikenal dengan nama Waterlooplein. Di situ terdapat sumur yang selalu diambil airnya oleh orang-orang Tionghoa secara khusus untuk menyeduh teh. Air Waterlooplein juga sekaligus dijadikan sebagai alat penguji, mana teh yang baik dan mana teh yang kurang baik.

Sumur lain yang diandalkan adalah sumur di Kampung Lima, Jalan Asem Lama, Tanah Abang (kini masuk Jakarta Pusat). Air dari sumur ini dijual oleh pemiliknya dengan harga 150 gulden per tahang (tong). Air diedarkan penjual dengan gerobak keliling di sekitar Tanah Abang.

Tatkala terjadi musim kemarau, air sungai menjadi dangkal. Warga berusaha mendapatkan air dengan mengumpulkan air yang masih tersisa, yaitu menggali dasar kali. Mungkin karena bercampur dengan lumpur, air tersebut akhirnya menjadi sumber wabah penyakit menular.

Jenis penyakit yang melanda dan menjadi wabah pada musim kemarau adalah tifus, difteri, kolera, dan lain-lain. Kala itu, dokter masih sangat terbatas dan pengetahuan tentang kesehatan serta asal muasal penyakit tersebut juga belum diketahui khalayak banyak.

Salah satu dokter di Batavia yang cukup terkenal bernama dokter Hoogenstraten. Ia sebenarnya dokter spesialis mata, namun juga menjalankan praktik sebagai dokter umum. Tiap pasien, kala itu, dikenakan biaya 25 gulden. Biaya pengobatan sebesar itu termasuk mahal bagi masyarakat jelata.

Dokter lainnya yang agak murah adalah dokter Godefroi yang mengenakan biaya per datang 2,5 gulden, tetapi tidak termasuk biaya obat. Dokter ini cukup terkenal dalam mengobati penyakit kolera. Ia sendiri yang meracik obatnya. Konon racikannya sangat mujarab.

Warga Batavia kaya bisa mendatangi dokter atau sinse. Mereka bisa memperoleh pengobatan yang baik. Namun, mayoritas warga tak mampu membayar dokter dan hanya mengandalkan dukun yang tentu sangat mistis. Penyakit dianggap sebagai serangan roh gaib dan guna-guna.

Alhasil, wabah penyakit merajalela. Epidemi kolera menyebar dan menimbulkan kematian massal. Dalam catatan Tio Tek Hong, di awal abad ke-20, epidemi kolera berhasil menewaskan puluhan orang per hari.

Saking hebatnya wabah itu, warga yang sehat tidak mau mengubur jenazah korban kolera, karena kawatir akan tertular. Akibatnya, banyak mayat yang dibiarkan saja atau hanya diletakkan di pinggir jalan dan persawahan.

Akibat kemarau panjang, wabah kolera menyebar hingga Buitenzorg (kini Bogor) dan daerah sekitarnya. Karena wabah ini, Tio Tek Hong berserta keluarga mengungsi dari Batavia menuju Buitenzorg, kemudian saat wabah menjalar ke Buitenzorg, ia pindah lagi ke kawasan Sukabumi dan terakhir ke Bandung.

Ia beserta keluarga besarnya berhasil selamat dari serangan wabah tersebut. Musim penghujan tiba dan wabah kolera mereda, ia kembali ke Batavia. Ia menyaksikan beberapa tetangganya di Batavia ternyata ikut menjadi korban keganasan kolera.

Wabah kolera telah menampar wajah pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Akibatnya, pemerintah segera berupaya agar kasus tersebut tidak terulang. Akhirnya, pada 21 Oktober 1918, melalui Sidang Gementee, pemerintah setuju untuk membangun Waterleiding.

Pembangunan Waterleiding yang kemudian dikenal sebagai air ledeng hingga mencapai seluruh wilayah Batavia berlangsung selama empat tahun. Bagaimana air ledeng yang dipercaya bersih bisa diperoleh?

Air didatangkan dari Ciomas, Ciburial, Buitenzorg. Di tempat tersebut terdapat sembilan sumur dengan mata air yang baik. Dari sumur ini, air diteruskan dengan pipa ke bangunan penampung dan disebut gudang peralihan.

Di gudang peralihan, air diberikan zat kimia untuk menjamin kebersihan dan terbebas dari bakteri berbahaya. Air kemudian disalurkan lagi ke sebuah gedung penampung dengan nama Gudang Air Induk. Dari gudang ini air dikirim menuju Batavia.

Dua pipa besar sepanjang 100 kilometer dibangun dengan ditanam di dalam tanah, membelah daerah Buitenzorg hingga Batavia. Dua pipa dipasang agar kalau pipa yang satu mengalami kerusakan, pipa satunya lagi masih bisa mengirim pasokan. Di beberapa titik juga dibangun pos kontrol.

Tepat pada 23 Desember 1922, Waterleiding diresmikan. Tanggal ini kemudian menjadi hari jadi Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya.

Hingga kini, bangunan itu masih bisa dikenal. Salah satu pos kontrol pipa air pertama, kini bisa kita lihat di Jalan Ahmad Yani, Bogor, Jawa Barat. Di dalam gardu ini tertera angka tahun 1922.

Editor : Taat Ujianto