• News

  • Singkap Sejarah

Mukjizat Syekh Abu Bakar Turunkan Hujan di Maluku Saat Musim Kemarau

Pemandangan wilayah Banda Neira tempo dulu
foto: pinterest
Pemandangan wilayah Banda Neira tempo dulu

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Budaya dan sistem kepercayaan akan mudah diterima masyarakat bila memiliki keunggulan atau kehebatan tertentu. Maka tak asing bila kita membaca tentang kisah-kisah para nabi dengan berbagai mukjizatnya.

Kisah serupa juga kita temukan dalam sejarah islamisasi di wilayah yang terkenal sebagai sumber rempah-rempah terkaya di dunia, yaitu Kepulauan Banda (kini masuk Provinsi Maluku). Sekitar abad ke-8, Islam diterima mayoritas masyarakat di Kepulauan Banda, tak lepas dari mukjizat tokoh bernama Syekh Abu Bakar Al Pasya.

Dalam cerita lisan yang dianut masyarakat Banda, Syekh Abu Bakar Al Pasya dipercaya mampu melakukan mukjizat, yaitu menurunkan hujan lebat di musim kemarau. Akibat mukjizat itu, ia memperoleh simpati. Maka, ajaran Islam yang ia sebarkan diterima oleh masyarakat lokal di Banda.

Syekh Abu Bakar Al Pasya sebenarnya bukan berasal dari Arab, tetapi berasal dari Persia. Ia datang ke Kepualauan Banda berkaitan dengan pergolakan di Teluk Persia, yaitu peristiwa peralihan kekuasaan Bani Umayyah ke tangan Bani Abbasiyah sekitar tahun 750 M.

Berkat kiprahnya, ikut mempengaruhi terbentuknya komunitas Islam atau kampung Arab yang ditandai dengan berkumpulnya orang-orang Arab dan orang-orang Persia di wilayah itu. 

Prosesnya bertahap
Bagaimana sebenarnya detail proses islamisasi di Kepulauan Banda? Bagaimana kemudian mampu melahirkan sistem pemerintahan bercorak Islam di Banda?

Dalam buku Jalur Rempah (2016) karya Razif dan M Fauzi, dipaparkan bahwa terbentuknya komunitas yang menganut agama Islam dan berkebudayaan Arab di Kepulauan Banda, terbentuk secara bertahap. Proses tersebut berlangsung sejak abad ke-7.

Istilah pedagang Arab sebenarnya meliputi orang-orang dari wilayah Teluk Persia, pesisir Arabia, dan Yaman. Mereka menuju kepulauan Indonesia Timur untuk mendapatkan rempah-rempah, sang primadona dunia. Mereka menyusuri Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, lalu menuju Kepulauan Banda.

Sebelum ke Banda, mereka biasanya membeli beras di Pelabuhan Jepara, Jawa Tengah. Beras kemudian dibawa ke Banda untuk ditukar dengan rempah-rempah.

Rempah-rempah seperti cengkeh dan pala yang diborong di Banda, kemudian dibawa kembali untuk diperjualbelikan di pelabuhan-pelabuhan Timur-Tengah dan Eropa. Rempah-rempah tersebut diolah menjadi campuran pengolahan dan pengawet makanan, serta bahan pengobatan.

Para pedagang Arab mengangkut rempah dengan menggunakan Kapal Dhow. Kapal tidak setiap saat bisa berlayar, karena kala itu masih mengandalkan arah angin yang sesuai. Sambil menunggu arah angin, mereka mengumpulkan pala dan berinteraksi dengan masyarakat di Pelabuhan Banda Neira.

Besar kemungkinan, mereka juga menikah dengan penduduk setempat. Selain itu, mereka juga memperkenalkan peralatan salat, tasbih, Alquran, dan benda keagamaan lainnya. Dalam proses inilah, kebudayaan Arab dan agama Islam mulai diperkenalkan kepada masyarakat lokal di Banda.

Namun, pada proses yang paling awal ini, Islam dan kebudayaan Arab belum mempengaruhi sistem kemasyarakatan di Banda. Artinya, belum melembaga. Namun, bibit komunitas Arab yang menganut Islam Sufi mulai tersebar.

Memasuki abad ke-8, munculkah tokoh bernama Syekh Abu Bakar Al Pasya. Dalam tradisi lisan, tokoh inilah yang kemudian berpengaruh besar menarik simpatik masyarakat lokal di Banda Neira. Seperti disinggung di awal, konon ia bisa mendatangkan hujan lebat di musim kemarau.

Kisah mukjizat Syekh Abubakar tersebar ke seantero Banda. Ajaran Islam dan kebudayaan Arab yang ia perkenalkan menjadi lebih mudah diterima masyarakat Banda. Maka terbentuklah komunitas Islam dengan kebudayaan Arab yang lebih kokoh. Sistem pemerintahan model kampung Arab pun terbentuk.

Membentuk sistem pemerintahan
Penyebaran Islam selanjutnya semakin menguat. Dalam Hikayat Lonthor, dikisahkan mengenai seekor burung yang membawa buah delima. Saat buah delima itu jatuh di Gunung Qur Sir Hua, berubah menjadi empat orang lelaki bernama Kaleyai, Kelelaiy, Leleway, Keleliway, dan seorang perempuan bernama Cilubintang.

Kelima tokoh itu kemudian mempelajari ajaran Islam. Kelima tokoh kemudian menjadi penguasa di Kepulauan Banda. Tiga tokoh lelaki menjadi raja dan sekaligus imam, dan satu hanya menjadi raja. Susunan kekuasaan itu disebut Lebe Tel Rat At (Pemerintah Tiga Imam Empat Raja).

Sementara itu, Putri Cilubintang menjadi penguasa di Kampung Ratu, Pulau Neira. Wilayah Ratu Pulau Neira di kemudian hari melahirkan sistem kepemimpinan menurut garis keturunan ibu (matrilineal). Akan tetapi, persoalan keagamaan tetap harus tunduk pada raja dan imam Negeri Lanthaka, saudaranya.

Proses islamisasi selanjutnya memperoleh penguatan lewat perkawinan Putri Cilubintang dengan seorang bangsawan Majapahit di Jawa. Dalam "Babad Tanah Jawa", sekitar tahun 1365, Cilubintang digambarkan sebagai perempuan dari Wandan (Banda). Ia menikah dengan Raden Tanduran dari Majapahit.

Hasil pernikahannya melahirkan tokoh bernama Bondan Kejawen. Di kemudian hari, anak-anak Bondan Kejawen menjadi penyiar agama Islam di pesisir Utara Jawa.

Kisah pemerintahan Islam bernama Lebe Tel Rat At di Kepulauan Banda juga dipertegas dalam catatan harian seorang Portugis bernama Francisco Serrau. Tahun 1511, ia menyebutkan bahwa di Kepulauan Banda sudah terdapat pemerintahan Tiga Imam Empat Raja.

Pemerintahan Lebe Tel Rat At selama beberapa abad mampu mengatur dan mengontrol kehidupan masyarakat di Kepulauan Banda. Namun, pada abad ke-17, datanglah wabah kerakusan. Bangsa Belanda di bawah bendera Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) kemudian membuat mereka porak-poranda.

Editor : Taat Ujianto