• News

  • Singkap Sejarah

Tsunami dan Hujan Abu di Jakarta Dikira Kiamat, Semoga Tak Terulang

Ilustrasi letusan Krakatau tempo dulu
foto: istimewa
Ilustrasi letusan Krakatau tempo dulu

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kepala Pusdatinkom Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo menerima laporan pada akhir tahun 2019, tepatnya pada hari Senin (30/12/2019) bahwa Anak Gunung Krakatau (AGK) mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.000 m di atas puncak (± 1.157 m di atas permukaan laut).

Gunung Anak Krakatau sempat berada pada Status Level II (Waspada) dengan rekomendasi masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

Diimbau bagi wisatawan yang akan berlibur ke pantai di sekitar Banten dan Lampung harap mematuhi anjuran PVMBG di atas. Wilayah sekitar pantai yang berjarak lebih dari 2 km dari AGK dinyatakan aman untuk dikunjungi.

"Wisatawan yang akan berlibur ke pantai di sekitar Banten dan Lampung harap mematuhi anjuran PVMBG di atas. Harus selalu waspada dan mengikuti informasi dari PVMBG, BMKG, BPBD dan BNPB," kata Agus, beberapa waktu lalu,

"Kita budayakan mengecek potensi bencana dimanapun kita berada, agar kita selalu siap untuk selamat dan menjadi budaya sadar bencana," kata Agus.

Pesan Agus Wibowo patut dicermati mengingat dalam catatan sejarah, Krakatau pernah memicu bancana tak terperikan. Untuk itu, masyarakat diimbau selalu waspada. Selain itu, kita berharap kejadian bencana tak terperikan itu tidak terulang kembali.

Bencana Krakatau tempo dulu

Pernah membayangkan bagaimana Jakarta dilanda hujan abu akibat letusan Krakatau?

Peristiwa langka itu terjadi pada Jumat pagi, 27 Agustus 1883. Gunung Krakatau menghancurkan dirinya hingga ke dasar laut. Dampaknya sungguh dahsyat, tsunami melanda pesisir Sumatera dan Jawa. Lebih dari 120 ribu jiwa menjadi korban.

Akibat letusan tersebut, Jakarta tak luput terkena imbasnya. Akibatnya, di sekitar Pasar Senen, yang dahulu disebut Vinckepasser, geger.

Dalam catatan Tota M Tobing berjudul "Ketika Pasar Senen Masih Disebut Vinckepasser” dalam buku Kisah Jakarta Tempo Doeloe (1988), hari itu warga sedang asyik menikmati pagi yang cerah. Tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita.

Orang-orang tidak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas. Disusul kemudian hujan abu turun dengan derasnya. Terjadilah kepanikan luar biasa. Di mana-mana terdengar ratap tangis, karena mengira kiamat telah tiba. Mereka belum tahu, itulah akibat letusan Krakatau yang bersejarah itu.

Dalam catatan Tota, hujan abu juga kembali melanda Jakarta pada tahun 1912 dan 1918. Penyebabnya juga sama. Namun kali ini, warga tidak mengalami ketakutan, karena sudah tahu dan pernah mengalami peristiwa serupa.

Sedikit berbeda dengan kesaksian Tio Tek Hong dalam bukunya Keadaan Jakarta Tempo Doeloe, Sebuah Kenangan 1882-1959 (2006). Meletusnya Krakatau, justru menjadi kenangan unik.

Tionghoa kelahiran 7 Januari 1877 tersebut bingung karena tiba-tiba ibunya seolah tak mau melepaskan dari pelukannya. Tio Tek Hong kecil ingat dengan jelas, ia menyaksikan pintu-pintu dan jendela bergetar dengan kuat.

Para bujang wara-wiri memindahkan beras dan perabotan rumah tangga ke tempat yang lebih tinggi. Saat Tio Tek Hong terlepas dari pelukan ibunya, ia melarikan diri ke luar rumah.

Ia menyaksikan banyak lelaki berdatangan ke Kali Passer Baroe. Mereka memperkuat gili-gili (bantaran sungai) dan menutup lubang gili-gili. Katanya, air akan segera meluap.

Memang, selanjutnya datanglah air dari arah laut, meluap tinggi. Disusul kemudian hujan abu. Semua atap rumah penuh dengan debu berwarna abu-abu yang cukup tebal.

Setelah kepanikan mereda, Tio Tek Hong kecil asyik mengambil abu itu. Dengan sedikit dibasahi, ia membuat butiran-butiran semacam peluru dan gundu (kelereng). Ia kemudian mengadu gundu abu Krakatau tersebut bersama teman-temannya.

Saat bertemu dengan teman-temannya yang lebih tua, Tio Tek Hong mendapat cerita bahwa di Pasar Ikan, di daerah Kota, air meluap sangat tinggi. Banyak perahu terdampar ke darat. Perahu itu hanyut akibat dihantam ombak besar.

Di laut juga banyak batu apung mengambang. Saking banyaknya batu itu, konon bila papan ditaruh di atas batu apung tersebut, orang-orang bisa berjalan dari Merak menuju Teluk Betung. Di Teluk Betung, konon semua rumah disapu bersih dan banyak orang tewas tersangkut di atas pohon kelapa.

Beberapa hari setelah kejadian itu, Tio Tek Hong baru tahu bahwa banjir, turunnya hujan abu, banyaknya batu apung, kepanikan seisi rumah, terdamparnya perahu, ternyata akibat letusan Gunung Krakatau. Letusan itu berlangsung selama tiga hari (26-28 Agustus 1883).

Jejak letusan Krakatau

Letusan Krakatau juga menimbulkan tsunami yang menghancurkan Pantai Banten dan Tangerang. Banyak orang binasa sepanjang daerah itu. Kejadian itu kemudian menjadi inspirasi lahirnya nyanyian Gambang Kromong berjudul “Kramat Karem”.

Syair lagu “Kramat Karem” dibuat oleh seorang seniman anonim. Salah satu penggalan syair berbunyi, “Emak, Bapak Si Nona mati; sayang disayang tiap malam saya tangisin; Kramat Karem ada lagunya.”

Pada Desember 2015, seniman Betawi bernama Yahya Andi Saputra, mencoba mereka ulang pantun lagu tersebut. Berikut penggalan pantun kenangan bencana Krakatau tersebut:

Bismillah ada di permulaannya
Serenta juga kalam hikemat
Sembahlah Tuhan yang kuasa
Supaya redo duania akherat

Pergilah pergi runtun beruntun
Jalanan basah jembatan batu
Inilah ini pantun memantun
Mengasih inget riwayat dulu

Kedat-kedut mata memikat
Matanya dua tapinya merem
Disebut juga ada keramat
Ada namanya keramat karem

Rasanya bingung menabuh bedug
Sambil berdiri memancing lindung
Katanya gunung pada meledug
Abunya mumbul gulung bergulung

Cemara panjang bersih mengilat
Bawa ditenteng iket gurita
Ada antara masih melihat
Sigranya dateng gelap gulita

Wira-wiri kudanya lari
Pake bedak darilah pagi
Ilahi robbi gelapnya ini
Sampe tidak melihat lagi

Editor : Taat Ujianto