• News

  • Singkap Sejarah

Soekarno Ditipu Raja Keraton Besar di Gua Raksasa, Belanda pun Tertawa

Bung Karno pernah tertipu oleh skandal Raja Idrus dan Ratu Markonah
foto: life
Bung Karno pernah tertipu oleh skandal Raja Idrus dan Ratu Markonah

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Heboh kemunculan Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire mengingatkan kita kepada peristiwa konyol dan menggelitik di era tahun 1950-an. Kala itu, publik dihebohkan oleh munculnya raja dan ratu bernama Idrus dan Markonah.

Raja dan ratu gadungan ini berhasil mengelabui banyak pejabat tinggi dengan mengaku sebagai raja yang memiliki Keraton Besar di Gua Raksasa di rimba belantara Pulau Sumatera. Bahkan, kejadian konyol ini kemudian menjadi bahan tertawaan/lelucon bagi media Belanda, seperti tercermin dalam Harian Het Parool edisi 19 Juli 1958.

“Indonesia baru-baru ini tengah terjadi ketegangan dalam negeri. Banyak yang menertawakan petualangan Raja Sumatra Selatan, di mana Presiden Sukarno, Wali Kota Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Madiun telah tertipu,” tulis berita di harian tersebut.

Menukil Het Parool seperti dilansir Tirto.id, dikisahkan bahwa pada 8 Agustus 1957 di Palembang, muncul seorang laki-laki berusia 42 yang datang dari pedalaman Sumatra.

Ia mengaku sebagai seorang pangeran dari salah satu wilayah yang dulunya menjadi bagian wilayah kekuasaan Sriwijaya. Nama lelaki itu adalah Idrus Bin Pohon. Dia memiliki lima orang abdi dan selama di Palembang selalu berpenampilan ala sipil dan militer.

Keliling Jawa

Pada 10 Maret 1958, dengan bermodal surat rekomendasi dari pemerintah Sumatra Selatan, Idrus dan pengikutnya berangkat ke Jakarta. Di Jakarta, ia mengaku sebagai raja suku Anak Dalam yang berada di pedalaman Jambi.

Kebetulan, di Sumatra belahan utara kala itu sedang bergolak gerakan separatis yang menamakan diri Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Wilayah suku Anak Dalam tergolong bisa dijangkau militer PRRI. "Kerusuhan di daerahnya," tulis Het Parool mengutip Idrus, "memaksanya meninggalkan rumahnya."

Singkat cerita, Idrus dan kawanannya berkelana dan akhirnya tiba di Jakarta. Hebatnya, ia berhasil menembus sistem pengamanan dan menjadi tamu di istana presiden.

Idrus dan para abdinya diterima Presiden Sukarno. Kepada Sang Presiden, ia mengaku sedang melakukan kunjuangan berkeliling ke beberapa kota di Jawa. Sukarno percaya dan memfasilitasi Idrus dengan tujuan agar belajar perkembangan kota-kota.

Entah karena kelihaian Idrus atau entah karena hal lain, anehnya Soekarna mempercayai Idrus. Padahal, taksedikit perwira militer di sekelilingnya tapi tidak menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan raja gadungan.

Namun, meski tidak ada bukti, Soekarno bisa jadi sebenarnya menyadari  sedang berhadapan dengan pembual. Ia mungkin sedang mencari cara untuk memanfaatkan Idrus untuk memperburuk citra PRRI mengingat kala itu sedang berkecamuk pemberontakan oleh PRRI.

Terlepas benar tidaknya kemungkinan itu, yang pasti, selama di Jakarta, Sang Raja Gadungan tersebut dijamu dengan makan malam di istana bersama para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta.

Saat di perjamuan makan, Idrus mengaku terbiasa makan daging mentah, terutama ular. Konon, makan daging ular dan meminum darahnya membuat tubuhnya segar bugar.

Dalam harian Belanda Leeuwarder Courant (7/4/1959) dikisahkan pula bahwa selama dalam perjalanan berkeliling Jawa, Idrus mengaku memiliki 18 istri.

Ia juga mengklaim mempunya keraton besar di salah satu gua raksasa. Di dalamnya terdapat mumi dari 40 orang Jepang dan Belanda.

Bertemu Markonah

Usai bertamu di istana presiden, Idrus dan para abdinya menuju Bandung. Kemudian pada 20 Maret 1958, mereka tiba di Kampung Slerong, Tegal, Jawa Tengah.

Di sebuah bioskop, Idrus berkenalan dengan perempuan bernama Markonah. Singkat cerita, perempuan ini disulapnya menjadi sosok ratu permaisurinya.

Dengan didampingi Markonah, Idrus melanjutkan kunjuangnya ke daerah lain. Selama berkeliling, mereka dikawal voorijder layaknya pejabat.

Namun, sepandainya tupai melompat, akan jatuh juga pada akhirnya. Saat berada di Madiun, semua kedok dan permainanya telah tercium aparat kepolisian. Mereka kemudian diciduk dan langsung dibawa ke markas Corps Polisi Militer.

Dalam pemeriksaan diketahui bahwa ia memanfaatkan ketidaktahuan publik bahwa dalam kehidupan Suku Kubu atau Suku Anak Dalam, sesungguhnya tidak ada konsep Raja dan Kerajaan.

Dalam catatan Nieuwsblad van het Noorden (10/2/1959), Idrus ternyata hanya seorang kepala desa biasa. Sementara Markonah diduga merupakan seorang  perempuan yang “moralnya dicurigai”.

"Sang raja rimba" kemudian dihukum sembilan bulan dan pasangannya dapat hukuman enam bulan. Mereka baru bebas pada pertengahan tahun 1959.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber