• News

  • Singkap Sejarah

Kisah Perawat, Dokter, Keris, hingga Bakar Rumah Sendiri untuk Melawan Pandemi

Para perempuan membawa pusaka leluhur Sultan Yogyakarta dikawal pasukan laki-laki.
foto: wikimedia.org
Para perempuan membawa pusaka leluhur Sultan Yogyakarta dikawal pasukan laki-laki.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Wabah virus corona menghentakkan publik. Semua menyebut wabah corona sebagai pandemi yang bisa merenggut nyawa secara massal.

Menengok sejarah Nusantara, pandemi bukanlah hal baru. Di Jawa, istilah yang dulu digunakan adalah “pagebluk” yakni wabah penyakit yang mengerikan, ibarat pagi masih bercengkerama, sorenya sudah harus dikuburkan.

Jejak tentang pagebluk cukup banyak ditemukan dalam memori masyarakat Jawa. Untuk memeranginya, di era dulu, digelarlah ritual bersih desa, tolak bala, mulai dari persembahan sesaji hingga pertunjukan wayang kulit.

Masyarakat Jawa memahami pagebluk sebagai datangnya kuasa kegelapan yang mengganggu manusia. Maka, diperlukan ritual memanggil keselamatan sedemikian rupa, mengingat di era itu, kajian ilmiah masih minim sehingga pendekatan budaya dan spiritual lebih mendominasi.

Digelar pertunjukan wayang diharapkan bisa membuat para dhanyang (roh leluhur pelindung desa) datang dan menolong warga desa.

Tak hanya wayang, pusaka berupa keris dan tombak pun digunakan dalam ritual penolak bala karena semua itu dipercaya bisa mengusir wabah penyakit yang digambarkan sebagai roh jahat.

Mengenal ilmu kedokteran

Memasuki abad ke-20, peradaban baru dimulai. Meskipun pendekatan budaya dan spiritual lama dalam memerangi pagebluk belum sirna, namun perlahan muncul teknik baru dalam memerangi pagebluk.

Salah satunya bisa ditengok dengan munculnya sekolah dokter pribumi (STOVIA) yang didirikan pemerintah kolonial Hindia Belanda.  Dokter pribumi lulusan sekolah inilahyang pertama kali memperkenalkan teknik baru menghadapi pagebluk.

Sosok dokter Tjipto Mangoenkoesoemo adalah salah satu yang paling fenomenal. Selain menyuarakan penderitaan rakyat Indonesia yang dijajah pemerintah Belanda melalui tulisan, ia juga dikenal sebbagai dokter yang gigih menghadapi wabah penyakit bersama para perawat pribumi.

Dari buku 100 Pahlawan Nusantara yang ditulis Tim Sunrise Picture, Tjipto aktif menceritakan penderitaan rakyat akibat penyebaran wabah pes yang merajalela seiring pembangunan jalan kereta api Surabaya-Malang.

Antara Februari 1912 hingga Maret 1912 di berbagai surat kabar, diberitakan kaum bumiputra bergelimpangan mati, mendadak sakit dan mati secara cepat. 

Di era ini, wabah penyakit atau pagebluk, tak hanya pes tetapi juga kolera, cacar, dan malaria. Tjipto dan dokter lulusan STOVIA inilah yang pertama-tama melakukan kajian terhadap sampel korban yang meninggal sehingga diketahui bahwa penyebab pageblik adalah virus, nyamuk, dan bakteri.

Dalam buku berjudul Dr Cipto Mangunkusumo (1992), Soegeng Reksodihardjo memaparkan, Tjipto menawarkan diri untuk diterima bertugas di pemerintah Belanda. Ia minta untuk ditugaskan ke Malang demi menyelamatkan rakyat yang terkena pes.

Dedikasinya ini bukan hanya panggilan hatinya untuk menolong rakyat. Keberaniannya timbul karena ia melihat banyak dokter Eropa yang menolak membasmi wabah pes di Malang.

Atas pengabdiannya, pemerintah Belanda memberikan penghargaan pada Tjipto berupa bintang Orde van Oranje Nassau (kepahlawanan Belanda) pada tahun 1912. Uniknya, Tjipto mengembalikan bintang jasanya karena dirinya tidak diberikan izin membasmi wabah pes yang menyebar di Solo.

Pada Maret 1911, wabah Pes menjalar di sekitar Malang seperti Blitar, Kediri, Tulungagung, dan Madiun. Pada akhir tahun tersebut, tercatat 2.000 orang meninggal akibat Pes.

Lima tahun kemudian, Pes mewabah di Kota Semarang. Tikus-tikus berkutu yang terkena Pes turun di kota itu melalui kapal dagang dari Surabaya.

Di kota itu, penyakit Pes menyerang perkampungan yang kotor dan lembab. Tercatat antara Oktober 1916 sampai Desember 1917, ratusan orang meninggal karena Pes di Semarang.

Dalam penanganannya, apabila ada satu orang terkena Pes, tidak hanya seluruh anggota keluarganya yang diisolasi, namun seluruh warga desa. Akibatnya, banyak orang yang menolak untuk diisolasi.

Selain dengan isolasi, cara membasmi wabah Pes kala itu adalah dengan membakar rumah sendiri maupun rumah orang lain yang terinfeksi wabah itu. Di Malang, warga dipaksa untuk membakar rumahnya sendiri yang diduga jadi sarang tikus.

Bahkan disebut-sebut juga, ada seorang anak yang terkena wabah Pes kemundin ikut dibakar hidup-hidup bersama rumahnya yang dianggap sarang tikus karena diharapkan tidak menulari orang lain.

Mitos keris penolak pagebluk

Jejak mitos bahwa kekuatan keris bisa mengusir pagebluk atau wabah penyakit hingga kini belumlah sirna.

Toni Junus, seorang peneliti keris sekaligus penulis buku Kris: An Interpretation, menanggapi berita Corona yang beriringan dengan kembalinya keris Diponegoro sebagai sebuah pertanda.

Menurutnya kedua peristiwa tersebut memiliki hubungan yang bisa dimaknai secara magis.

“Kalau percaya dengan Kejawen, (keris Pangeran Diponegoro – Red.) ini dicuci, dikirabkan, corona selesai. Secara alamiah ini ada tanda-tanda kenapa begini. Ada dua loh yang masuk ke Indonesia keris bagus. Tapi satunya dapat dari lelang dari luar negeri. Ada gajah singo-nya juga. Ini tanda-tanda bakal terjadi sesuatu di Indonesia. Kalau saya sih pandangannya positif. Mungkin Corona akan selesai. Saya ramalkan Mei, pokoknya setelah puasa habis. Dugaan saya loh ini. Ini supranatural,” ujar Toni seperti dilansir Historia.

Toni Junus, mengaku saat masa kecil di Solo pernah menyaksikan kirab pusaka keraton Solo untuk memadamkan pagebluk atau bencana. Untuk mengusir pagebluk, tombak Kangjeng Kiai Gringsing dikirab keliling keraton.

"Sebelum dikirabkan Kangjeng Kiai Gringsing dipegang anak kecil yang belum disunat di pelataran. Selama doa atau permintaan selesai. Baru dikirabkan. Tombak ini buatan zaman Kediri," ujarnya.

Menurutnya tidak semua keris atau tombak bisa untuk mengusir pagebluk melainkan hanya keris atau tombak yang berpamor “singkir” saja yang biasanya digunakan untuk memadamkan pagebluk. Pamor “singkir” ini memiliki motif lipatan besi pada bilahnya membentuk pola garis lurus.

Dalam pandangan masyarakat Jawa, ada banyak gangguan yang menyebabkan ketidakseimbangan tata kehidupan. Gangguan itu berwujud bencana alam, wabah penyakit dan paceklik.

Kondisi penderitaan ini harus diakhiri agar terwujud keselamatan dan keberkahan hidup. Oleh sebab itu dengan pancaran berkah dan perbawa dari pusaka-pusaka yang dikirabkan, tulis Ismail Yahya dalam Adat-adat Jawa dalam Bulan-bulan Islam Adakah Pertentangan.

Penangkal pagebluk bukan saja berwujud senjata, seperti keris dan tombak, melainkan juga berbentuk bendera. Dalam buku Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta dituliskan bahwa keraton Yogyakarta memiliki bendera bernama Kiai Tunggul Wulung yang biasanya akan dikeluarkan dari keraton untuk dikirab berkeliling benteng keraton guna mengusir pagebluk.

Bila benar keris pusaka bisa membantu mengusir corona, pertanyaannya,  pusaka apakah yang perlu dikirab? Jangan-jangan keris Pangeran Diponegoro yang baru saja dikembalikan menjadi rahasia mengusir corona?

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber