• News

  • Singkap Sejarah

Gempa, Gunung Meletus, Tanda Lahirnya Penguasa Baru Tanah Jawa

Ilustrasi letusan Gunung Merapi tempo dulu
foto: merbabu.com
Ilustrasi letusan Gunung Merapi tempo dulu

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Indonesia pusatnya gempa. Rentetan gempa bumi terus terjadi. Dalam catatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) selama tiga hari terjadi delapan kali yakni Rabu (25/3/2020) hingga Jumat (27/3/2020).

"Ini dirasakan oleh masyarakat yang berada berdekatan dengan pusat gempa," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (27/3/2020).

Gempa tektonik tersebut dipicu oleh adanya aktivitas sumber gempa, baik sumber gempa subduksi lempeng maupun sesar aktif yang tersebar di beberapa daerah.

Daerah-daerah tersebut di antaranya selatan Selat Sunda, selatan Jawa Timur, selatan Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Papua.

Selain gempa tektonik, gempa vulkanik yang disusul letusan gunung juga sewaktu-waktu terjadi. Beberapa kali Gunung Merapi  meletus selama dua hari terakhir.

Sementara saat ini dunia tengah dilanda wabah virus corona. Benarkah semua ini suatu kejadian kebetulan dan bukan suatu rangkaian kejadian yang saling berkelindan untuk memberikan pesan tersembunyi kepada umat manusia?

Memaknai Gempa tempo dulu

Menukil catatan Risa Herdahita Putri dalam “Pertanda dari Gempa” seperti dilansir Historia, ternyata masyarakat Jawa sudah memiliki pemahaman tertentu yang cukup unik.  Masyarakat Jawa Kuno memaknai gempa sebagai sinyal alam, di antara sebagai pertanda kelahiran penguasa Nusantara.

Dalam catatan Negarakertagama digambarkan pada  tahun saka memanah surya, telah lahir Hayam Wuruk, calon Raja Majapahit yang berhasil menguasai Nusantara. Ia lahir untuk menjadi narapati.

“Telah nampak tanda keluhurannya, bahkan selama dia ada dalam kandungan di Kahuripan. Saat dia lahir terjadilah gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh, dan halilintar yang menyambar-nyambar. Gunung Kampud pun bergemuruh, membunuh para durjana. Penjahat musnah dari negara,” tulis Risa.

Itulah pertanda Sang  Batara Girinata telah menjelma menjadi  raja besar. Dan semuanya terbukti di kemudian hari. Saat Hayam Wuruk bertakhta, seluruh Jawa tunduk atas  perintahnya.

Slamet Muljana dalam Nagarakrtagama dan Tafsir Sejarahnya menerjemahkan peristiwa yang dicatat Mpu Prapanca dalam karya monumentalnya itu sebagai kisah kelahiran Raja Hayam Wuruk.

Peristiwa alam yang terjadi ditafsirkan sebagai isyarat keluhuran sang bayi. Seperti gempa bumi di Banupindah, hujan abu diikuti guruh dan halilintar.

Segala isyarat kebesaran itu terlaksana setelah baginda dewasa dan memegang tampuk kepemimpinan. Kerajaan aman dan tenteram, bebas dari kejahatan.

Slamet menerjemahkan kalimat tahun saka memanah surya sebagai petunjuk tahun terjadinya peristiwa yaitu pada 1256. Serat Pararaton juga memberitakan, setelah peristiwa Sadeng, terjadi gempa bumi di Banupindah pada 1256 Saka.

Pemikiran yang sama juga diungkapkan oleh Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Negeri Malang. Ia mengatakan bahwa  masa lalu terjadi gempa di Banupindah.

Bisa jadi gempa tersebut akibat dari meletusnya Gunung Kampud, nama kuno dari Gunung Kelud. Peristiwa vulkanik Gunung Kelud itu dikaitkan dengan lahirnya dan prestasi yang akan dicapai Hayam Wuruk.

“Peristiwa vulkanis ini dimaknai sebagai ‘pertanda alam’ mengenai lahirnya seorang anak yang kelak menjadi narpati, nara (orang), pati (pemimpin). Artinya sang pemimpin,” ujar Dwi.

Gempa sebagai pertanda turunnya takdir dewata juga disebut-sebut dalam Kitab Pararaton yakni saat Ken Angrok mendatangi Gunung Lejar. Di sana para dewa tengah berdiskusi.

“Lalu berbunyilah guntur disertai gempa bumi dan taufan serta hujan lebat terus menerus. Tampak pelangi di sebelah timur dan barat,” catat Pararaton.

Angrok mendengar suara ribut, ramai gemuruh. Para dewa itu membicarakan siapa yang pantas memimpin Pulau Jawa.

“Ketahuilah para dewa semua, adalah anakku, seorang manusia keturunan orang pangkur. Dialah yang akan memperkokoh Pulau Jawa,” kata Batara Guru.

Mitologi Gempa

Sementara itu, dalam mitologi Hindu, gempa terjadi akibat hewan-hewan penompang bumi berubah posisinya.

Dwi berkisah, bumi dipercaya disangga oleh beberapa binatang mitologis: delapan ekor gajah raksasa yang berdiri di atas termpurung kura-kura, ular dengan tujuh kepalanya, babi hutan dengan gadingnya, dan lembu dengan tanduknya.

Apabila di antara binatang mitologis itu berganti posisi, bumi yang ditopangnya akan bergoncang.

Sementara budaya Jawa sangat terpengaruh budaya India. Kestabilan dunia amat tergantung pada dua ekor naga yang menjadi penjaga dan penyangga bumi.

Naga Ananta (Anantaboga) yang berada di dalam perut bumi, bertugas sebagai penjaga bumi. Naga Sesa (Ananta Sesa atau Adi Sessa) yang menyelam ke dasar laut (patala), bertugas menyangga pertiwi.

“Kedua naga inilah oleh orang Jawa acap disebut dengan nogo bumi,” kata Dwi.

Sekarang, orang Jawa menyebut gempa dengan lindu. Istilah ini sudah dipakai dalam bahasa Jawa Kuno maupun Jawa Tengahan, artinya bergetar, gempa bumi, lindu.

Kata lindu juga digunakan sebagai perumpamaan untuk menggambarkan kondisi yang berguncang. Ia bersinonim dengan kata reg. Akar kata reg menunjuk kepada gerakan menghentak, atau getaran bahkan goncangan hebat.

“Mengingatkan pada istilah paregrek, perang besar yang terjadi pada akhir Majapahit antara Bhra Hyang Wisesa dan Bhra (Brhe) Wirabhumi yang diberitakan dalam Pararaton,” kata Dwi.

Editor : Taat Ujianto