• News

  • Singkap Sejarah

Ketika Sjahrir dan Hatta Diisolasi di ‘Neraka’ Papua

Kamp Digoel
foto: istimewa
Kamp Digoel

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Saat Belanda menyengkram Nusantara, salah satu kebijakannya adalah menangkap mereka yang dituduh memberontak kemudian membuangnya ke koloni Digoel (kini masuk Kabupaten Boven Digoel, Papua).

Tempat ini menjadi semacam 'neraka' agar aktivis pergerakan nasionalisme jera dan mau ditundukkan. Namun, mereka yang dibuang di tempat ini tak sedikit justri semakin yakin untuk terus menghantar kemanusiaan Indonesia berdiri tegak.

Para tahanan digoelis adalah korban kekuasaan absolut  yang dengan serakah tidak hanya merampas kebebasan, tetapi juga berupaya menguasai pikiran dan kesadaran manusia.

Namun, kecenderungan dan watak seperti itu ternyata masih berulang kembali, setidaknya di era Orde Baru tatkala mereka yang dituduh komunis (PKI) ditahan dan dibuang di Pualau Buru.

Kekuasaan seringkali menempatkan orang hanya sebagai objek yang dapat diperlakukan sekehendak hati, terlebih jika orang tersebut memiliki cara pandang berbeda dengan penguasa.

Koloni Digoel

Tak mudah bisa melacak kembali wilayah tempat tinggal tahanan bentukan kolonial Hindia Belanda abad ke-20. Sumbangsih sangat berarti diberikan oleh  Purnama Suwardi dalam bukunya Koloni Pengucilan Boven Digoel (2003).

Suwardi berhasil menyusuri sejumlah narasumber dan saksi mata yang masih hidupdi masa itu.

Dikisahkan, pembangunan koloni isolasi Digoel dimaksudkan sebagai langkah  awal  memperluas  daerah  jajahan  ke Irian,  sekaligus guna mempasifikasinya  dengan membuka  hutan-hutan perawan untuk perkebunan  karet,  kopi,  dan  tanaman  ekspor  lainnya. 

Paling  tidak tujuan sampingan ini pernah dinyatakan oleh Maijer Rannefft di Volksraad. Penjara  Digoel yang dibangun Kapten L. Th Becking pada tahun 1927, kini tetap  tinggal  dalam keasliannya. 

Penjara  tersebut tampak kaku dan sangat tidak bersahabat. Ilalang dan rumputan mulai menyemaki hampir seluruh pelatarannya.

Hingga berakhirnya masa penjajahan Belanda, dari 1.308 pejuang  yang  disekap  dalam  penjara  Tanahmerah,  tercatat  300 di antaranya meninggal dunia dalam status tahanan. Mereka tidak pernah diadili, namun langsung divonis.

Luas penjara Tanahmerah seluruhnya mencapai dua hektare, terdiri atas sel-sel khusus dan barak-barak tahanan.

“Penjara Digoel dikelilingi tembok setinggi enam meter dan kawat berduri. Di tengah- tengah kawasan penjara terdapat rumah penjara dengan ruang utama berukuran  5 m X 8 m, tinggi  enam  meter,” tulis Suwardi. 

Selain  itu juga  terdapat beberapa sel berukuran 2 m X 3 m. Sel-sel penjara Digoel tidak dilengkapi ventilasi yang memadai.

Kapten Becking  tampaknya tidak berpuas diri hanya dengan bangunan sel-sel di atas tanah itu saja.

Ia juga membangun  sel bawah tanah berukuran 2 m X 3 m untuk menyekap tokoh-tokoh yang dinilai sangat berbahaya. Sel bawah tanah penjara Digoel tidak memiliki sarana penghubung ke dunia luar selain satu tangga tua.

Hatta dan Sjahrir

Selama tahun  1935-1936,  Mohammad  Hatta  (kemudian  Wakil Presiden  RI)  dan  Soetan  Sjahrir  (kemudian  Perdana  Menteri RI) diasingkan di tempat ini. Saat itu lebih dikenal dengan nama Tanahmerah. 

Bagi pemerintah kolonial Belanda, mengisolasi aktivis pergerakan di tempat ini adalah pilihan  paling  tepat  untuk membungkam  suara mereka yang kritis yang bisa “meracuni” pemikiran kaum bumuputra.

Namun, selama  menjadi   digoelis,   baik  Hatta  maupun Sjahrir  ternyata tidak terpatahkan semangatnya oleh kerasnya alam dan rasa sepi yang menggigit.

Di kemudian hari, Soetan Sjahrir bahkan menuangkan pengalamannya dalam buku Indonesische Overpeinzingen  yang diterjemahkan  oleh H.B.  Jassin  dengan  judul Renungan dan Perjuangan.


Selama setahun masa pengasingan di Digoel kedua tokoh itu bahkan menjadi tempat bertanya bagi sesama pejuang lainnya.

Mereka acapkali memperbincangkan berbagai aspek perjuangan  menuju Indonesia  merdeka. 

Kursus-kursus  politik  yang dilakukan  secara  informal  di Bumi Digoel, disadari  atau  tidak,  telah membuka cakrawala kebangsaan  para Digoelis secara lebih luas.

Sementara itu, dalam beberapa  tulisan,  Bung Hatta  juga  banyak  menyinggung   dinamisme kehidupan  politik selama masa didigulkan.  Hal  serupa  juga dilakukan Sayuti Melik, Mukhtar Luthfi, Abdoel Xarim Ms, Wiranta, dan lain-lain.

Bertemu saksi mata

Saat melakukan kajian, yang paling menggembirakan bagi Suwardi adalah ketika  berjumpa  dengan Albertina Goube  yang akrab dipanggil sebagai Mama Goube.

Wanita asal suku Muyu itu mengaku  pernah  menjadi putri angkat  Bung Hatta  semasa pengasingan di Digoel.

“Sewaktu diangkat sebagai anak oleh Bung Hatta, Mama Goube masih menggunakan cawat dan belum berpakaian seperti layaknya perempuan saat ini. Ia diangkat sebagai anak oleh Bung Hatta ketika berumur 15 tahun. Tugas utamanya  waktu itu adalah mencuci pakaian dan memasak makanan untuk Bung Hatta,” tulis Suwardi.

Di tengah deras perjalanan waktu, Mama Goube tampak masih sehat dan segar. Wanita sederhana itu hidup berbahagia dengan anak-cucunya.  Sumber  utama  penghasilannya  berasal  dari  sepetak  kebun miliknya.

Mama Goube sangat menghormati bapak Hatta-nya, bahkan ia berkeinginan kuat datang ke Jakarta untuk mengunjungi keluarga Bung Hatta. Kerinduannya  terhadap  keluarga  Bung Hatta  memang  tidak berlebihan. 

Perempuan  tua  suku  Muyu ini hanya  memiliki kenangan tentang Bung Hatta. Menurutnya, Bung Hatta pernah mengunjunginya sekali. Waktu itu ia   mendapat   aneka   hadiah   dari   Bung Hatta, malangnya, sebelum hadiah-hadiah itu sempat dibuka, pencurii menjarahnya tanpa sisa.

Saksi  hidup lainnya adalah Petrus Komayap. Berdasar kesaksiannya, disebutkan bahwa keadaan kesehatan para   pejuang   yang   ditawan   Belanda   waktu   itu  memang   sangat menyedihkan.

Makanan mereka sehari-hari hanya terdiri atas lima genggam beras, lima siung bawang, lima cabai, lima sendok  gula, lima sendok teh, dan lima sendok  kopi. 

“Tiga bulan sekali  para  tahanan Tanah Tinggi memperoleh tiga stel pakaian dari pihak kolonial”, kata Petrus Komayap.

Keterangan Petrus Komayap  yang pada masa penjajahan Belanda  bertugas  sebagai  sipir  penjara  sekaligus  kurir makanan  bagi para tahanan di Tanahtinggi secara jelas memberikan gambaran tentang derita hidup yang dirasakan para tahanan.

Yang patut disayangkan, Penjara Tanahtinggi sekarang telah berubah kembali menjadi bagian hutan  belantara di tepian Sungai Digoel.

“Untuk menemukan puing-puingnya cukup susah mencarinya. Dan itu harus dicari sendiri,” tulis Suwardi.

Editor : Taat Ujianto