• News

  • Singkap Sejarah

Pahlawan Pendidikan Kita pun Gemar Berkelahi dan Bikin Onar

Ilustrasi saat Soewardi mencabut papan larangan kaum pribumi masuk di kawasan orang Eropa
foto: ISSI
Ilustrasi saat Soewardi mencabut papan larangan kaum pribumi masuk di kawasan orang Eropa

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Jangan pernah berpikir bahwa seorang yang disebut pahlawan kemudian hidupnya seolah sempurna dan jauh dari marah, usil, berkelahi, bikin onar, dan sebagainya.

Namanya anak, siapapun dan dari latar belakang manapun tetaplah anak. Justru di sinilah keunikan sosok Pahlawan Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara (KHD).

Saat masih kecil ia bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Namun, ayahnya biasa memanggilnya si Jemblung Trunogati. Kok bisa?

Mengadopsi hasil kajian Program Bahan Ajar Sejarah tim peneliti Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), dikisahkan masa kecil KHD yang sangat unik,  usil, dan gemar berkelahi.

Ningrat yang pro-Bumiputra

Ia lahir di Yogyakarta pada  2 Mei 1889.  KHD merupakan putra Kanjeng Pangeran Aryo Soerjoningrat, putera tertua Paku Alam III, raja kraton Pura Pakualaman, Yogyakarta.

Sebagai putera pertama, ayahnya sebenarnya berhak mewarisi tahta kraton. Namun sampai akhir hayatnya, KHD  tak pernah melihat ayah menjadi raja. Kelak KHD tahu, para kerabat kraton mengabaikan haknya sebagai putra mahkota. 

Ketika kakeknya mangkat bukan ayahnya yang diangkat sebagai pengganti tetapi Raden Mas Nataningrat, anak dari paman KHD. Alasannya, ayahnya masih terlalu belia untuk memegang tampuk kekuasaan kraton.

Empat belas tahun sesudah dinobatkan, Paku Alam IV mendadak wafat. Kerabat kraton bersitegang mencari pengganti. Setiap keluarga yang masih berhubungan darah dengan raja merasa berhak mengajukan calon raja, termasuk keluarga kakek KHD.

Ki Hajar Dewantara – Biografi & Profil Lengkap | KepoGaul
Tapi nama ayahnya segera tersingkir dari bursa calon pengganti raja. Ayah KHD menderita sakit mata yang mengakibatkan kebutaan permanen. Ini menjadi alasan bagi para kerabat kraton untuk mengabaikan haknya menduduki tahta raja Pakualaman.

“Pangeran Soerjoningrat sudah mulai buta. Pantaskah seorang buta menjadi raja?” bisik seorang kerabat kraton kepada yang lain.

Ayah KHD tidak marah, tidak juga menggugat. Ia tak silau tahta, tak juga haus kekuasaan. Benar, penyakit yang diderita telah menggerogoti kemampuannya untuk melihat secara fisik.

Tetapi kejernihan hati dan pikirannya membantu ayahnya melihat tindakan picik dan serakah sanak-saudaranya di lingkungan kraton dan merasakan penderitaan para abdi dalem.

Suaranya lantang menentang laku dhodhok [jalan jongkok] dan tradisi kraton lainnya yang melestarikan jarak antara kaum bangsawan dengan rakyat jelata.

Sikapnya tegas mengkritik pemerintah kolonial Belanda yang menjadikan Pura Pakualaman sebagai alat untuk menjarah kekayaan tanah Jawa. 

“Ga usah dhodhok  (Tak perlu jongkok). Berdiri saja, supaya kita sama tinggi,” begitu perintah ayah KHD setiap kali seorang abdi hendak sowan (menghadap) dengan laku dhodhok.

Digembleng Sang Ayah

Dari bicara dan tindakannya, KHD memahami cara ayahnya melaksanakan keutamaan  piwulang dalam kesusastraan Jawa yang mengajarkan cinta sesama, rasa kemanusiaan dan kesetaraan.

Ayahnya mewarisi ketekunan mempelajari sastra Jawa dari kakekku, pujangga besar yang melahirkan Serat Darma Wirayat, Serat Piwulang, dan Serat Abiya Yusup.

Bukan hanya teks-teks Jawa yang ayah gunakan sebagai pedoman hidup. Ia juga memahami ajaran-ajaran Islam dan Hindu kuno seperti kebanyakan keluarga terpelajar di lingkungan kraton Jawa.

Bedanya ayahnya selalu berusaha mengamalkan pengetahuannya dalam tindakan-tindakan yang nyata. Ia tidak sekadar melaksanakan tradisi Jawa atau upacara keagamaan.

Ternyata, Ki Hajar Dewantara Pernah Kawin Gantung dengan Sepupunya ...
Boleh jadi sikap teguh ayah KHD membuat banyak kerabat kraton merasa terusik dan tidak nyaman. Dalam tradisi kraton ada aturan bahwa pangeran yang sudah berkeluarga berhak memperoleh rumah di luar lingkungan keraton.

Dengan alasan itulah pihak kraton memerintahkan keluarga KHD  keluar dari lingkungan kraton. Ayah KHD tidak hanya kehilangan tahta, tetapi juga kehilangan kraton.

Mengenal lingkungan

KHD tak ingat bagaimana kehidupan di dalam kraton. Masa kecil KHD dihabiskan di kampung Jagalan, dekat taman rekreasi benteng ‘Vredesberg’ [Vredeburg] milik pemerintah kolonial Belanda.

Meskipun KHD masih sering ke kraton untuk belajar gendhing atau tari, hampir setiap hari KHD bermain dengan anak-anak kampung, tetangga rumahku.

Ayah KHD sering memanggilnya ‘jemblung’ karena perut KHD menyembul dari badannya yang kecil. Biasanya ayahnya akan bercerita tentang keindahan sastra Jawa dan dongeng-dongeng dari dunia pewayangan.

KHD suka cerita wayang. Dari tokoh-tokoh wayang yang KHD kenal dengan baik, yang  paling ia sukai adalah tokoh Yudhistira dan Kresna. Tak jarang ayahnya menggelar pertunjukkan wayang kulit di setiap hari besar dalam kalender Jawa.  

KHD juga belajar agama Islam. Kebetulan rumahnya tak jauh dari masjid.  Kadang-kadang, setelah selesai belajar agama KHD dan kawan-kawan tidur di masjid.

Seorang kyai yang mengasuh keluarganya berharap KHD kelak menjadi pemuda yang berbakti dan berguna bagi banyak orang. Karena itu ia sengaja memberikan nama tambahan ‘trunogati’ di belakang namanya.

Kalau tidak ke masjid atau bermain di jalanan kampung, KHD dan kawan-kawan sering bermain-main di taman rekreasi benteng ‘Vredesberg’. Taman itu menyenangkan karena luas, bersih dan indah.

Tapi entah kenapa KHD marah setiap kali melihat papan bertuliskan, ‘NIET TOEGANKELIJK VOOR HONDEN EN INLANDERS’  (Dilarang masuk bagi anjing dan orang-orang pribumi) yang terpancang di halaman taman itu.

KHD merasa terhina. Pernah KHD dan kawan-kawan nekad menyabuti papan itu. Akibatnya mereka  dicari-cari polisi Belanda.

Banyak kerabat kraton yang tidak suka melihat KHD bergaul dengan anak-anak kampung.  Turunan priyayi kraton seperti KHD seharusnya bermain dengan anak-anak kraton juga.

Tapi  selama ayahnya tidak melarang, KHD tak peduli. Malah, ayah yang mendorongnya untuk sering bermain-main dengan anak-anak kampung.

Ibunya pun berharap KHD bergaul dengan orang kampung, supaya kelak kalau KHD jadi pemimpin KHD selalu ingat kehidupan rakyat kecil. 

Berkelahi usai pulang sekolah

Pada 1904, saat usia KHD menginjak 15 tahun, ia  masuk Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar yang didirikan pemerintah kolonial Belanda. Kebanyakan siswa di ELS adalah sinyo, anak-anak kulit putih dari keluarga Eropa.

Hanya pribumi (bumiputra) keturunan bangsawan, seperti KHD, yang boleh belajar di sekolah ini. Jumlahnya pun sedikit. Tak banyak pengetahuan yang KHD dapatkan dari sekolah itu selain kemampuan berbahasa Belanda dan ketrampilan menulis.

Yang justru KHD pelajari dengan baik di ELS adalah perbedaan perlakuan pihak sekolah terhadap murid-murid Eropa dan Bumiputra. Guru-guru sangat mengistimewakan murid-murid Eropa dan menganggap kaum Bumi Putra bodoh.

Kisah Cinta Ki dan Nyi Hajar Dewantara - Historia
Kelakuan sinyo-sinyo Eropa setali tiga uang. Mereka selalu memandang mereka lebih rendah. Mereka anak-anak Bumiputra biasanya hanya diam saat diolok-olok dan direndahkan.

Sering KHD harus menahan marah. Tapi suatu saat KHD tak bisa lagi menahan amarahnya ketika melihat Karel, sinyo keturunan Belanda bersama kawan-kawannya mengolok-olok kawan baiknya Soetartinah (kelak menjadi istri KHD).

“Semua anak inlander bodoh! Seperti kamu juga bodoh!!”

KHD tak mungkin melakukan pembalasan sendiri. Badannya terlalu kecil kalau harus berhadapan dengan para sinyo yang bertubuh bongsor.

Karena itu KHD kemudian menceritakan masalah yang dihadapinya ke kakaknya, Soerjopranoto, yang juga belajar di sekolah yang sama. Kakak KHD marah mendengar pengaduan KHD dan berniat menghajar anak-anak sinyo.

KHD, Soerjopranoto, kawan-kawan Bumi putra pun merancang tindakan balasan: menghadang Karel dan kawan-kawannya di jalan menuju sekolah dan menantang mereka berkelahi

Begitu melihat ‘pasukan’ Bumiputra, Karel dan kawan-kawannya lari lintang pukang ketakutan! Mereka tak diganggu-ganggu lagi.

Editor : Taat Ujianto