• News

  • Singkap Sejarah

Kesaksian Karyawan Bank: Trisakti Hujan Peluru lalu Jakarta Membara

Peristiwa demonstrasi mahasiswa di Trisakti, 12 Mei 1998
foto: istimewa
Peristiwa demonstrasi mahasiswa di Trisakti, 12 Mei 1998

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – “Di area Kampus Trisakti hujan peluru dan gas air mata. Itu yang saya dengar dari radio,” tutur Anto (43) kepada Netralnews.com, Senin (12/5/2020).

Mantan karyawan Bank Umum Servitia (BUS) saat belum dilikuidasi itu mengisahkan bahwa sebelum kerusuhan Mei 1998 meletus, ribuan mahasiswa turun ke jalan menuntut keadilan pada Pemerintah  Soeharto.

“Ada beberapa tuntutan seingat saya. Ada minta turunkan harga, mengingat sembako melambung akibat krisis moneter, dolar melangit, lalu tuntutan kasus pelanggaran HAM di Aceh, kasus penculikan, dan sebagainya,” lanjut Anto.

“Saya pun merasakan sendiri, kala itu saya kerja di bank di bagian operasional, gaji masih sekitar Rp480 ribu, mulanya cukup, tiba-tiba jadi sulit buat hidup sebulan karena harga melambung,” imbuhnya.

Demonstrasi mahasiswa di Universitas Trisakti, 12 Mei 1998 ternyata berujung maut. Empat mahasiswa meninggal dunia tertembak peluru tajam sementara tak terhitung yang terluka.

Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 - 1998), Hafidin Royan (1976 - 1998), dan Hendriawan Sie (1975 - 1998).

“Kasus meninggalnya mahasiswa memicu kemarahan masyarakat. Kala itu terasa sekali situasi sudah mencekam dan jutaan manusia turun ke jalan. Hampir semua manusia membanjiri jalan raya di sepanjang wilayah Jakarta. Saya melihat sendiri karena kantor dah libur, takut diserang,” kata Anto.

“Dan memang benar, kantor Pusat Bank Umum Servitia di Jalan Kopi, tak luput dari serangan massa. Mereka sangat senang kalau melihat kaca. Jadi kalau dilempar, kaca toko  atau kantor berhamburan, mereka bersoarak, lalu mulailah penjarahan,” kenang Anto.

Anto yang melihat keberingasan massa menjarah di wilayah Glodok mengaku tak sedikit pun tertarik ikut menjarah. Ia malah bersedih.

“Nggak nyangka, saudaraku sebangsa bisa beringas seperti kesurupan seperti itu (amok, red). Saya sampai menangis sedih. Sampai diajak teman ikut ambil barang waktu Glodok dijarah, saya nggak mau,” kenangnya.

Kasus penembakan mahasiswa di Trisakti kemudian disusul Kerusuhan yang melanda Jakarta dan sekitarnya sepanjang 12-14 Mei 1998 kemudian diselidiki.  Pemerintah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kerusuhan Mei 1998, yakni dibentuk tanggal 23 Juli 1998.

Dalam laporannya, kerusuhan terjadi karena ada faktor pemicu (trigerring factor). TGPF menemukan bahwa titik picu awal kerusuhan di Jakarta terletak di wilayah Jakarta Barat, tepatnya seputar Universitas Trisakti pada 13 Mei 1998.

Kerusuhan berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Ada penjarahan, ada pembakaran ruko hingga mall. Ada pengrusakan, bahkan ada tindak kekerasan  seksual. Ibu Kota pun lumpuh.

“Banyak sekali teman saya yang ngantor akhirnya harus jalan kaki karena tak ada kendaraan umum. Kalau saya masih bisa naik KRL yang kala itu seperti kereta hewan, penuh banget. Bahkan, saat itu bareng sama para orang-orang yang bawa jarahannya. Ribuan kali orang yang bawa jarahan naik kereta,” papar Anto.

Setelah tiga hari kerusuhan, aparat keamanan di bawah komando Pangab Jenderal Wiranto kemudian mengendalikan situasi.

“Panser dikerahkan. Perusuh dihalau dengan barisan pasukan. Sebagian ada yang mati tertembak peluru karet, seorang anak di daerah Matraman, kalau nggak salah. Saya baca beritanya ketika itu,” kenang Anto.

Mengenai massa kerusuhan, TGPF menyebutkan bahwa pelaku kerusuhan 13-15 Mei 1998 terdiri dari tiga golongan yaitu, massa aktif yaitu massa pendatang yang bergerak dengan terorgarnisir; massa pasif adalah massa lokal yang semula menonton lalu ikut; dan provokator yang menggerakkan atau memancing massa.

Bukan hanya kerugian material, kerusuhan juga memakan banyak korban jiwa.  Ada beberapa versi sumber TGPF tentang jumlah korban.

Di wilayah Jakarta, menurut investigasi Tim Relawan untuk Kemanusiaan yang dijadikan referensi TGPF menemukan jumlah korban sebanyak 1.190 orang meninggal akibat terbakar; 27 orang meninggal akibat senjata; dan 91 orang luka-luka.

Sementara menurut data Polda Metro  disebutkan 451 meninggal, korban luka-luka tidak tercatat; kemudian data Kodam Jaya menyebutkan 463 meninggal dunia termasuk aparat keamanan dan 69 orang terluka. Sedangkan data Pemda DKI menyebutkan 288 orang meninggal dunia dan 101 luka-luka.

Yang miris adalah adanya korban kekerasan seksual bahkan perkosaan massal, penyerangan seksual, hingga kasus pelecehan seksual.

 TGPF mengumpulkan dan memverifikasi 52 korban perkosaan; 14 korban perkosaan dengan penganiayaan; 10 korban penyerangan seksual; dan 9 korban pelecehan seksual. Sebagian besar kasus kekerasan seksual menimpa perempuan Tionghoa.

“Kami dari Urban Poor Concortium juga bereaksi atas kerusuhan Mei. Bertempat di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, kami menggelar semacam kesaksian dari para warga yang tahu persis peristiwa itu. Di luar ruangan sudah banyak orang untuk memberi kesaksian,” kata Wardah Hafidz sepery dikutip Historia.com.

Sayagnya, hingga kini, kasus kerusuhanMei 1998, tidak pernah dilakukan penuntasan dan pengungkapan yang utuh dan menyeluruh. Tak ada yang kemudian dinyatakan harus bertanggung jawab.

Satu-satunya yang mungkin memberikan dampak nyata adalah tumbangnya rezim Orde Baru. Namun, runtuhnya Pemerintah Soeharto memakan korban tak terbilang harganya. Reformasi pun lahir  berlandaskan pengorbanan mereka yang tak semua mendapat gelar "pahlawan".

Editor : Taat Ujianto