• News

  • Singkap Sejarah

Mengenang Jenderal Malang, Dibekuk sebagai Hadiah Lebaran

Brigjen Supardjo dan istri
foto: istimewa
Brigjen Supardjo dan istri

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Walaupun jang kami ketahui adalah hanja pengalaman selama tiga hari sadja, namun adalah pengalaman saat2 jang sangat menentukan. Saat2 dimana bedil mulai berbitjara dan persoalan2 militer dapat menentukan kalah menangnja aksi2 selandjutnja.

Penggalan paragraf di atas adalah kutipan (ejaan sesuai aslinya) dari catatan Brigjen Supardjo yang berupa analisis postmortem tentang kegagalan “Gerakan 30 September” atau G30S. Tulisan itu diberi judul “Beberapa Pendapat yang Mempengaruhi Gagalnya ‘G-30-S’ Dipandang dari Sudut Militer”.

Dokumen ini sangat penting dalam mendudukkan arti G30S sebagai operasi yang hanya berusia satu hari satu malam. Pasalnya, setelah operasi tersebut, semuanya berlangsung tanpa kendali penggagas operasi bahkan diambil alih oleh pihak “musuh” dari G30S.

Dalam kacamata Supardjo, operasi ini itu gagal di antaranya karena kurangnya persiapan matang, koordinasi yang kacau, kurangnya logistik, dan tidak adanya komando selanjutnya setelah aksi penculikan 7 jenderal TNI AD. 

“Kami djumpai kawan2 kelompok pimpinan militer pada malam sebelum aksi dimulai, dalam keadaan sangat letih disebabkan kurang tidur. Misalnja: kawan Untung tiga hari ber-turut2 mengikuti rapat2 Bung Karno di Senajan dalam tugas pengamanan,” tulis Soepardjo.

Ia menambahkan, “Waktu laporan2 masuk, tentang pasukan sendiri dari daerah2, misalnja Bandung, ternjata mereka terpaksa melaporkan siap, sedangkan keadaan jang sebenarnja belum.”

Operasi dipimpin Kolonel Untung tetapi nyatanya tanpa uraian komando yang jelas sehingga sempat membuat sejumlah pihak menjadi ragu. Kekuatan yang positif di pihak G30S sebenarnya hanyalah satu kompi dari Tjakrabirawa.

“Pada waktu itu telah timbul ke-ragu2-an, tetapi ditutup dengan sembojan ‘apa boleh buat, kita tidak bisa mundur lagi’,” catat Supardjo.

Dalam pengamatan Supardjo, ketika operasi sudah berjalan dan muncul berita bahwa Jenderal Nasution berhasil meloloskan diri, para pimpinan G30S kelihatan agak bingung dan tidak memberikan perintah-perintah selanjutnya.

Pada hari kedua setelah operasi dilaksanakan, ketika Kesatuan RPKAD mulai masuk menyerang markas G30S (Lubang Buaya), keadaan menjadi kacau. Pasukan pendukung G30S dan para Pemuda Rakyat (PR) belum biasa menghadapi perang yang sesungguhnya. G30S gagal total.

Dokumen menentukan

Dalam bukunya Dalih Pembunuhan Massal, Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto (2008),  John Roosa menyatakan secara tegas bahwa operasi G30S tidak ada “otak” utama yang merancang jalannya peristiwa sehingga sesuai skenario dari awal sampai akhir. Artinya, tak ada dalang utama.

Salah satu sumber argumen itu didasari dokumen tulisan Supardjo seperti telah disinggung di awal. Itu adalah satu-satunya dokumen yang ditulis oleh pelaku G30S sebelum ia tertangkap. Informasi yang terkandung di dalamnya, mempunyai bobot yang bisa dihandalkan kejujurannya.

Memang, Supardjo bukanlah tokoh yang paling penting dalam mempersiapkan G30S. Ia hanyalah salah satu saksi dari dari lima tokoh inti dalam G30S (Sjam, Pono, Letnan Kolonel Untung, Kolonel Latief, dan Mayor Soejono).

Brigjen Supardjo sebenarnya merupakan Panglima Komando Tempur dalam rangka konfrontasi Malaysia di Kalimantan Barat. Ia baru tiba di Jakarta pada 28 September 1965. Ia membantu G30S dengan tugas menjadi penghubung kelima tokoh itu dengan Presiden Soekarno.

Fatalnya, Brigjen Supardjo yang berpangkat lebih tinggi dari perwira lainnya, tak ada niat sedikitpun untuk mengambil alih komando. Ia membiarkan ketika Sjam mendorong agar operasi penculikan tujuh jenderal tetap berjalan walaupun koordinasinya sudah terlihat kacau balau.

“Mungkin untuk pertama kali (G30S, red) dalam sejarah pemberontakan dan kup, seorang jenderal menjadi bawahan seorang kolonel”, tulis John Roosa.

Supardjo menyebutkan salah satu contoh ketidaknalaran operasi, “Bila ada yang menanyakan bagaimana imbangan kekuatan”, maka dijawab dengan nada yang menekan “‘Ya, Bung, kalau mau revolusi banyak yang mundur, tetapi kalau sudah menang, banyak yang mau ikut”.

Dalam analisisnya, Supardjo mengaitkan kegagalan G30S dengan kecongkakan pimpinan, maksudnya terutama Sjam. “Congkak, bersikeras untuk terus maju, menutup telinga terhadap kritik, Sjam meyakinkan dirinya sendiri bahwa aksi itu tak mungkin gagal”.

Berbagai dokumen lain membuktikan hubungan antara Aidit dan Sjam. Walau tidak bersama dengan lima tokoh inti, Aidit jelas tahu rencana G30S dan kala itu ia juga berada di Halim.

Ia dan Sjam terbukti terlibat mengorganisir G30S. Namun, dalam hal ini, bukan berarti menegaskan interpretasi rezim Suharto.

Keterlibatan  Aidit dan Sjam, menunjukkan bahwa seharusnya hanya Aidit dan Sjam yang patut dipersalahkan, bukan partai dan anggotanya secara keseluruhan. Tidak ada bukti yang mencukupi dan menyatakan bahwa Partai PKI mengetahui rencana G30S. Sjam pun menegaskan hal itu.

Dibekuk di Hari Lebaran

Kiranya bukan mengada-ada jika dikatakan bahwa Brigjen Supardjo adalah jenderal yang “malang”. Ia hanya terlibat merancang G30S pada detik-detik akhir sementara ia yang berpangkat lebih tinggi harus menurut kepada komando para pimpinan G30S yang tak jelas.

Dalam catatan Oei Tjoe Tat, sosok Supardjo dipandang sebagai seorang perwira yang disukai anak buahnya dan merupakan pribadi yang loyal terhadap Presiden Soekarno.

“Jenderal Pardjo sebagai tahanan di RTM mendapat simpati, baik dari para petugas maupun para tahanan karena sikapnya,” tulis Oei dalam Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno (2018).

G30S gagal dan Brigjen Supardjo tidak berusaha cuci tangan walaupun sempat bersembunyi dari sergapan tentara selama setahun lebih. “Terlepas dari hal-hal yang tentu sangat mengecewakannya, ia telah menuliskan tentang G30S tanpa rasa dengki atau dendam,” tulis John Roosa.

Supardjo dibekuk tentara pada 12 Januari 1967, bertepatan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. Ia ditangkap oleh pasukan di bawah komando Panglima Kodam V Jaya Brigjen Amirmachmud yang mendapat tugas khusus secara  langsung dari Letjen Soeharto.

“Ketika itu beliau meminta agar saya menangkap Soepardjo pada hari Idul Fitri untuk dijadikan hadiah Lebaran bagi umat Islam Indonesia,” tulis Amir dalam otobiografinya H. Amirmachmud: Prajurit Pejuang (1987).

Soepardjo sudah menjadi buron Kodim 0501 Jakarta Pusat, sejak bulan Oktober 1965. Melalui "operasi kalong” barulah Supardjo berhasil ditangkap. Istilah “kalong” dipakai karena operasi selalu dilakukan pada malam hari laksana kalong yang mengincar mangsa.

Dalam catatan majalah Angkasa vol.17, 1968, disebutkan bahwa lokasi persembunyian Soepardjo adalah di Komplek KKO Cilincing, Jakarta Utara. Ia ditampung seorang anggota KKO AL bernama Mayor Adnan Suwardi.

Saat ditangkap, Supardjo sedang berada di loteng rumah bersama Anwar Sanusi, yakni seorang anggota PKI dan dikenal pula sebagai penulis buku pelajaran sejarah di masa itu. Amirmachmud kemudian menjadikannya sebagai “hadiah Lebaran” kepada Soeharto.

Sementara dalam surat kabar tersiar berita, “Hadiah Lebaran Untuk Rakyat: Soepardjo, Anwar Sanusi berhasil dibekuk. ‘Kabut Halim’ akan semakin tersingkap,” tulis Kompas 16 Januari 1967.

Dalam pengadilan Mahmilub, Supardjo dinyatakan bersalah dan dihukum mati. Ia sempat mengajukan grasi, namun permohonannya ditolak oleh Soeharto. Eksekusi hukuman mati terhadap Brigjen Suparjo akhirnya dilaksanakan pada 16 Mei 1970.

Editor : Taat Ujianto