• News

  • Singkap Sejarah

Sekonyong-konyong PKI Bangkit Lagi dari Kubur

Ilustrasi aksi massa bubarkan PKI di tahun 1965-1966
foto: istimewa
Ilustrasi aksi massa bubarkan PKI di tahun 1965-1966

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Puluhan Kyai dan Ulama di Kabupaten Sampang membakar bendera Partai Komunis Indonesia (PKI) di halaman kantor gedung DPRD setempat, Selasa (19/5/2020).

Pantauan di lokasi, sebelum pembakaran bendera berlangsung, para Kyai tersebut melakukan hearing dengan unsur pimpinan DPRD membahas tentang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang saat ini santer dibahas.

Puluhan Kyai dan Ulama di Kabupaten Sampang membakar bendera Partai Komunis Indonesia (PKI) di halaman kantor gedung DPRD setempat, Selasa (19/5/2020).

“Pembakaran bendera partai komunis yang kami lakukan adalah bagian dari kekhawatiran hilangnya salah satu pasal yang ada di dalam Tap MPR nomer 25 Tahun 1966,” terang KH Yahya Hamiddudin, salah satu perwakilan Kyai yang berada di gedung DPRD Sampang.

Tak hanya aksi tersebut, seorang tokoh Majelis Ulama Indonesia, beberapa terakhir ini juga gencar menyerukan tentanhg kebangkitan PKI. Benarkah isu basi ini layak didengar? Isu PKI rasanya seperti hantu bangkit dari kubur dan bergentayangan di siang bolong.

Pendapat berbagai tokoh

Isu PKI bangkit, biasanya digoreng setiap menjelang tanggal 30 September atau saat ada hajat politik. Namun, saat Pandemi COVID-19 isu itu digoreng, rasanya aneh dan lucu.

Memang tak bisa dipungkiri, isu tersebut hingga kini selalu digunakan oleh kelompok tertentu untuk menggoreng pihak lawan politik.

Di tahun 2019 lalu, saat peringatan Tragedi 30 September 1965, isu tersebut tidak terlalu menghebohkan dibanding dua tahun lalu, di mana muncul kegaduhan akibat pernyataan sejumlah tokoh yang menyebut-nyebut tentang kebangkitan komunisme dan perlunya masyarakat waspada.

Tak hanya itu, mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo pun ikut bicara dan menyerukan agar film “Pengkhiatan G30S/PKI” yang disutradarai Arifin C Noer pun kembali diputar agar generasi muda sadar akan bahaya laten komunisme.

Menanggapi maraknya menggoreng isu komunisme, Syafii Maarif, mantan Ketua Umum Muhammadyah, menyebut bahwa komunisme sebenarnya sudah tidak layak diangkat (lagi) sebagai isu.

Komunisme di mana-mana sudah runtuh. Kalau komunisme di Soviet atau Tiongkok masih kuat, mungkin masih layak dibahas. Syafii yang di tahun 1960-an mengaku ikut gerakan antikomunis, sangat memahami betapa dahsyatnya PKI zaman itu, tapi sekarang sudah seperti macan ompong.

Namun menurut Sukamta, anggota DPR dari PKS menyebut sejumlah indikator terbukanya peluang bangkitnya PKI. Ia menceritakan bahwa di kampungnya, Solo, gudangnya pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI), sampai saat ini disebut, mantan PKI konon masih tak percaya adanya Tuhan.

Ia juga menyebutkan bahwa kalau ketemu anak-anak, mereka masih mengajari ideologi komunis. Hal itu dianggap sebagai bukti bahwa gerakan mantan PKI belum padam.

Lain lagi dengan Yaqut Cholil Qoumas, ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor. Ia berpendapat bahwa keturunan PKI sudah membaur dan tak dapat dijadikan ukuran PKI bangkit kembali.

Mantan PKI sebagian besar sudah menjalani kehidupan dengan normal. Ia menganggap isu kebangkitan PKI sebagai isu yang sangat tidak masuk akal. Namun, ia sepakat agar masyarakat tetap selalu waspada.

Film PKI

Tentang seruan pemutaran film "Pengkhiatan G30S/PKI", Presiden Jokowi tahun lalu pernah memberikan tanggapan bahwa ada baiknya dibuatkan versi baru bagi kalangan milenial. Hanya saja hingga kini, rupanya usulan tersebut belum ada yang menyambut.

Selain film versi Orde Baru yang sarat kontroversi dan diduga penuh data fiktif di dalamnya, sebenarnya sudah banyak sekali film dokumenter lain sebagai alternatif untuk memperkaya seputar sejarah G-30-S. Film-film tersebut sudah banyak beredar di youtube.

Artinya, generasi milenial sebenarnya sudah sangat dipermudah untuk bisa menonton, mengkaji, dan mendalami berbagai persepsi seputar G-30-S.

Dalam film Pengkhianatan G30S/PKI mengisahkan peristiwa penculikan hingga pembunuhan terhadap 7 perwira Angkatan Darat. Namun, bagaimana rangkaian peristiwa di tanah air setelah peristiwa malam berdarah itu tidak digambarkan. Pembunuhan secara masif dan meluas terhadap mereka yang dituduh anggota PKI juga tidak dikisahkan.

Justru bagian ini banyak diangkat oleh sineas baru dengan mengangkat “'versi kekinian”. Versi kekinian tersebut sekaligus mengkritisi isi film besutan Arifin C Noer. Banyak kajian terbaru yang berhasil mengungkap fakta-fakta seputar peristiwa Lubang Buaya dan sesudahnya.

Sejumlah petinggi PKI memang terlibat dalam aksi G-30-S seperti diungkap oleh John Roosa dalam buku Dalih Pembunuhan Massal. Namun, soal penyiksaan yang mengerikan dengan diiringi tarian telanjang oleh anggota Gerwani jelas hanyalah mitos produk Orde Baru.

Mengutip temuan John Roosa, Jenderal Soeharto menggunakan peristiwa G-30-S sebagai “dalih” untuk menangkap ribuan orang yang dianggap komunis, kemudian dibuang, dipenjara tanpa diadili, hingga dibunuh.

Paska-G-30-S juga ada begitu banyak kasus persekusi hingga perampasan hak milik anggota PKI. G-30-S dan rangkaian peristiwa setelah itu adalah tragedi berdarah berskala nasional di mana sesama anak bangsa menjadi korban “genosida politik” (penghancuran kekuatan kiri).

Fakta-fakta pembantaian anggota PKI sebagian sudah diolah menjadi film dokumenter, misalnya karya Joshua Oppenheimer, yaitu Jagal (The Act of Killing) dan Senyap (The Look of Silence), hingga film pendek produksi Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) berjudul Semai Phala.

Dalam film pendek yang dirilis tahun 2017 oleh sejumlah peneliti ISSI, mengisahkan bagaimana mantan anggota PKI setelah relasi sosial mereka dihancurkan, ternyata mereka tidak menaruh dendam terhadap para pelaku. Mereka tetap bangkit dan berkarya bagi masyarakat.

Tak hanya film pendek, kisah “rekontruksi sosial” para mantan PKI juga dibukukan dalam buku Rekonstruksi Sosial Korban Tragedi Nasional 1965 di Solo, Pati, dan Bali yang dicetak terbatas pada tahun 2017 .

Semua narasumber yang diwawancarai peneliti ISSI pernah dipenjara, dibuang ke Pulau Buru. Mereka adalah segelintir orang yang selamat dari pembunuhan brutal dan stigma sebagai orang kafir dan tidak berguna (dianggap komunis).

Setelah kehidupan dan relasi sosial mantan anggota PKI hancur paska-G-30-S, mereka berusaha bangkit dari kehancuran dan kembali menemukan dunia baru mereka. Bahkan, banyak yang berhasil diterima dan menjadi pemimpin masyarakat.

Mantan PKI diterima masyarakat

Salah satu mantan PKI tersebut adalah Supeno. Sebelum ditahan, ia adalah seorang kepala sekolah. Saat bebas dari penjara, ia sulit kembali mendapatkan pekerjaan. Lamarannya selalu ditolak.

Karena ia memiliki keahlian di bidang industri mesin, ia memutuskan membuka usaha sendiri. Ia membuka bengkel bubut dan sukses. Dengan usahanya itu, ia kemudian mampu menyekolahkan putra-putrinya hingga lulus perguruan tinggi.

Menariknya, Supeno setelah bebas juga mampu melebur dan berproses di tengah masyarakat di mana ia tinggal. Ia berhasil diterima masyarakat karena ketulusannya bergaul dan “melayani” dengan mulai menjadi bendahara rukun tetangga (RT) selama puluhan tahun.

Ia sangat aktif di lingkungan RT. Selain itu, Supeno juga aktif di lingkungan gereja. Supeno adalah anggota Majelis Gereja Kristen Indonesia untuk zona Surakarta dan Yogyakarta.

Uniknya, walaupun ia adalah seorang penganut Kristiani, saat Lebaran/Idul Fitri, rumah Supeno selalu ramai didatangi warga RT dan RW. Kedatangan mereka disambut hangat karena hal itu dianggap sebagai wujud silaturahmi.

Padahal, mayoritas warga di sekitar tempat tinggal Supeno adalah keturunan Arab. Namun demikian, suasana Idul Fitri maupun Natal di rumah Supeno, mencerminkan toleransi yang terjaga di lingkungan mereka.

Pengalaman serupa juga dialami seorang mantan anggota PKI di di Bali bernama Natar. Setelah bebas, ia mampu melebur, berbaur, dan mengabdikan dirinya di tengah masyarakat sekitar. Ia juga berhasil menjadi “pemimpin” di tingkat lokal.

Di tahun 1990an, Natar berhasil terpilih sebagai salah seorang Saba Desa yang tugasnya mencari jalan yang sesuai dengan adat (sastra) Bali bagi warga.

Ia pula yang memopulerkan konsep ngaben massal bagi masyarakat Bali yang mengalami bkesulitan biaya. Dengan ngaben massal, biaya yang ditanggung menjadi jauh lebih murah daripada sebelumnya.

Bila model ngaben sebelumnya harus mengeluarkan biaya hingga Rp30 juta, konsep ngaben massal hanya dikenakan pengeluaran Rp2,5 juta per keluaga.

Natar sempat menjabat Saba Desa selama dua periode. Setelah dua periode, ia mengundurkan diri agar terjadi regenerasi yang baik.

Natar juga menggeluti dan mengembangkan budaya setempat. Gerakan membangun kebudayaan, tradisi, dan adat setempat ikut membuat ia diterima warga sekitar.

Natar membangun komunitas kesenian “Gong Bali” bagi generasi muda di sekitar desanya. Setiap pekan, puluhan perempuan dan para pemuda berlatih drama musik gong Bali di rumahnya.

Dengan caranya, ia berhasil menghimpun generasi muda untuk mencintai kesenian dan budaya Bali bagi generasi muda. Ia menanamkan jiwa gotong-royong dan kemandirian.

Editor : Taat Ujianto