• News

  • Singkap Sejarah

Konflik TNI AU dan TNI AD di Tengah Operasi Rebut Papua

Ilustrasi saat Operasi  Trikora berlangsung
foto: istimewa
Ilustrasi saat Operasi Trikora berlangsung

TERNATE, NETRALNEWS.COM - Ada jejak sejarah cukup penting di Morotai (kini masuk Maluku Utara). Sebelum kemerdekaan, di daerah itu terdapat pangkalan udara Belanda yang bernama Lapangan Udara Pitu yang memiliki tujuh landasan pacu.

Lapangan udara dikelola oleh jawatan Angkatan Laut Belanda atau Marine Luchtvaart. Namun saat terjadi perang melawan Jepang (Perang Dunia II), lapangan udara ini sempat digunakan sebagai pangkalan militer Amerika Serikat.

Pangkalan udara Morotai dikuasai Pemerintah Indonesia sepenuhnya melalui Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) baru setelah diadakan Konferensi Meja Bundar tahun 1949, tepatnya pada 10 Mei 1950. Artinya, antara 1945 hingga 1949, tetap diduduki oleh tentara Belanda.

Jejak rangkaian peristiwa sejarah pangkalan tersebut dapat diketahui dari tugu peringatan di kompleks pangkalan udara yang kini bernama Lanud Leo Wattimena.

Jejak lainnya tentang sejarah pangkalan udara Morotai yang menjadi saksi perang dapat juga dilihat dari dua bunker pertahanan dan satu unit pesawat glider (layar) berpenumpang tunggal di markas Lanud.

Sekitar tahun 1950, pangkalan ini diincar oleh Pasukan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). Saat Herman Nicolas Ventje Sumual mengibarkan bendera perlawanan terhadap pemerintahan Soekarno, pangkalan ini sempat diduduki beberapa lama.

Menurut kajian Phill Manuel Sulu dalam Permesta: Jejak-Jejak Pengembaraan (1997: 30), Morotai memiliki arti strategis. Buktinya, selama Perang Dunia II, pulau itu dijadikan sebagai pangkalan tentara Sekitu.

Sayangnya, pasukan Permesta kemudian dipukul mundur oleh satu peleton Pasukan Gerak Tjepat (PGT). Konon, pengusiran itu dilakukan tanpa meletuskan sebutir pun peluru.

Sejak itu, AURI menguasai pangkalan itu hingga kini. Berbagai pesawat dan senjata modern kemudian didatangkan, terutama ketika pangkalan ini dijadikan sebagai daerah komando operasi militer untuk pembebasan Irian Barat (Trikora).

Memasuki tahun 1960, lapangan dipasang patok-patok pertahanan. Pasukan diperkuat dengan mendatangkan personil berbagai kesatuan dari sekitar Maluku, Kalimantan, maupun Jawa.

Menurut M. Cholil dalam Sedjarah Operasi-Operasi Pembebasan Irian Barat (1971), untuk keperluan operasi tersebut, dibentuklah Kesatuan Tempur Senopati, yaitu pada bulan Februari 1962.

Kesatuan tersebut dipersiapkan selain untuk mempersiapkan operasi fisik, juga harus memperkuat TNI dengan merancang kemampuan tempur pesawat, memperkuat kemampuan awak pesawat, serta merancang strategi operasi jika terjadi perang terbuka.

Sedangkan jenis armada yang didatangkan untuk memperkuat pangkalan antara lain meliputi pesawat IL-28, MIG-17, B-25/26, C-47 Dakota, Albatros/Catalina, dan beberapa helikopter.

Oleh sebab itu, Kesatuan Tempur Senopati mengadakan sejumlah latihan perang, antara lain latihan pengintaian, latihan pertempuran udara, latihan pemotretan udara ke daerah Irian Barat, dan sebagainya.

Latihan itu bukan hanya sekedar latihan perang biasa. Gaung latihan itu menjadi bagian dari strategi politik Soekarno dalam menggertak Pemerintah Belanda yang masih ngotot menguasai Irian Barat.

Bahkan, pada bulan Maret 1962, pangkalan udara Morotai juga diperkuat dengan kekuatan pasukan laut dari TNI AL. Kapal buru selam KRI Todak merapat ke pangkalan. Kapal ini bertugas untuk menghancurkan kapal selam musuh yang mengancam pangkalan udara Morotai.

Dan pada bulan yang sama, datang pula pasukan dari Tentara Angkatan Darat atau TNI AD. Salah satu personil penting dari TNI AD yang memperkuat pangkalan Morotai adalah Feisal Tanjung.

Beliau inilah yang pada 1993-1998 menjabat sebagai Panglima ABRI dan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan di masa akhir pemerintahan Orde Baru.

Hanya saja, saat Operasi Trikora, Feisal Tanjung masih berpangkat Letnan. Ia kala itu baru lulus Akademi Militer Nasional dan dipercaya menjadi komandan pasukan di Batalyon Infanteri 152.

Dalam catatan Aziz Ahmadi Solemanto berjudul Feisal Tanjung: Terbaik untuk Rakyat, Terbaik bagi ABRI (1999), Batalyon 152 di Morotai terdiri dari enam kompi yaitu empat kompi senapan, satu kompi bantuan, dan satu kompi markas. Jumlah total personilnya sekitar 900 orang.

Kedatangan pasukan tersebut, ternyata sempat menimbulkan konflik dengan pasukan dari kesatuan lain. Pemicunya adalah faktor sejarah antar pasukan.

Pasukan yang dipimpin Feisal kebanyakan berasal dari Kodam Pattimura (Maluku). Sebelum bergabung dalam Batalyon 152, sebagian pasukan tersebut ternyata pernah bergabung menjadi pasukan pemberontakan melawan pemerintahan pusat.

Mereka kebanyakan merupakan pemuda Ambon bekas tentara RMS dan KNIL.

Mereka memiliki hubungan tidak baik dengan sejumlah pasukan korps Artileri Serangan Udara (ARSU) Kodam X/ Mulawarman dari Kalimantan Timur yang kebanyakan merupakan pemuda Minahasa dan pernah menjadi anggota pasukan Permesta.

Dengan latar belakang yang kurang harmonis  itu mereka dipertemukan di Morotai. Dan ketika ada kesalahpahaman sedikit saja, akan memantik konflik.

Dan rupanya, konflik benar-benar terjadi. Kedua belah pihak sempat saling menembakkan senapannya masing-masing.

Melihat munculnya bibit kekacauan, Feisal Tanjung segera menghubungi komandan ARSU. Ia menyampaikan berita bahwa telah terjadi kesalahpahaman dan memohon agar pihak Komandan ARSU berkenan turun ke lapangan.

Komandan ARSU segera memerintahkan anak buahnya menghentikan perselisihan itu. Ketika masing-masing anggota pasukan melihat komandan mereka tetap kompak, pasukan dari kedua  kesatuan akhirnya kembali solid dan fokus melanjutkan Operasi Trikora.

Editor : Taat Ujianto