• News

  • Singkap Sejarah

Menyingkap Masjid Agung yang Kembali Berdiri Usai Disambar Petir

Masjid Agung Banten tempo dulu
Istimewa
Masjid Agung Banten tempo dulu

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ciri khas pembangunan kesultanan Islam di Jawa antara lain adanya alun-alun, istana, pasar, dan tentu masjid. Biasanya, masjid berada di bagian Barat alun-alun. Sama seperti halnya masjid agung yang dibangun di Kesultanan Banten.

Masjid Agung Banten berada di Desa Banten Lama, sekitar 10 kilometer sebelah Utara Kota Serang, dan kini termasuk wilayah Provinsi Banten.

Menurut sejarawan Claude Guillot dalam bukunya yang berjudul Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII (2008: 79-84), masjid ini dibangun oleh Maulana Yusuf, dengan restu dari ayahanya, yaitu Sultan Maulana Hasanuddin pada tahun 966 H (1559 M).

Dalam catatan sejarah Th Elkington, seorang berdarah Inggris, masjid yang didirikan di awal pemerintahan Sultan Hasanuddin tersebut, sempat hancur akibat sambaran petir pada 14 Agustus di tahun yang sama.

Entah, kejadian itu sebagai lambang kekuatan magis atau kejadian kebetulan semata, yang pasti, setelah itu masjid dibangun kembali dengan sangat kokoh.

Catatan sejarah lainnya yang ditulis oleh Bogaert, menyatakan bahwa masjid berbentuk bujur sangkar itu dibangun dengan balok-balok kayu besar. Atap terdiri dari lima tingkat yang tumpang tindih. Atap pertama paling besar dan menjadi inti atap lainnya. Di dekat masjid terdapat sebuah menara sangat tinggi seperti menara masjid Turki.

Bangunan masjid dirancang oleh seorang bernama Raden Sepat dan seorang keturunan Tionghoa bernama Tjek Ban Tjut. Di masa itu, mereka terkenal sebagai perancang bangunan masjid di wilayah Majapahit dan Demak. Karena jasanya, Tjek Ban Tjut memperoleh gelar Pangeran Adiguna.

Konon, pada tahun 1620, masih dilakukan penambahan bangunan masjid. Kali ini tokohnya adalah orang Belanda yang masuk Islam, namanya Hendrik Lucaz Cardeel. Ia adalah arsitektur Belanda yang sengaja datang ke Banten.

Ia menghadap Sultan Haji dan bersedia membantu pembangunan untuk melengkapi bangunan yang sudah ada.

Konon, ia yang menambah sejumlah kelengkapan pada menara masjid serta membangun tiyamah, yaitu gedung untuk kegiatan musyawarah dan kajian keagamaan. Karena jasanya, Hendrik dianugerahi gelar sebagai Pangeran Wiraguna oleh Sultan Haji.

Keberadaan Masjid Agung Banten posisinya berada di sebelah Timur bangunan utama masjid. Menara berbahan batu bata dengan ketinggian sekitar 24 meter, dengan diameter lingkaran bawah 10 meter.

Di dalam menara terdapat 83 buah anak tangga dari bawah ke atas. Melalui tangga itulah, seseorang bisa mencapai puncak menara. Dari puncak, pemandangan indah wilayah Banten bisa dilihat dan dinikmati. Pantai pun terlihat, karena jarak dari masjid ke pantai hanya sekitar 1,5 kilometer.

Pada mulanya, menara digunakan sebagai tempat mengumandangkan azan. Namun, besar kemungkinan digunakan juga untuk sarana mengintai datangnya musuh.

Arsitek masjid tidak bisa diremehkan. Bagunan mempunyai simbol-simbol tertentu. Ha ini bisa dilihat dari bangunan pintu masuk di sisi depan masjid. Jumlahnya ada enam buah yang melambangkan rukun iman.

Sedangkan yang tak kalah penting, pintu tersebut sengaja dibuat pendek. Setiap pendatang yang melewati pintu dan akan masuk ke masjid, harus merendahkan dirinya. Sebelum berdoa, setiap jemaat diajak sujud kepada Allah SWT dengan rendah hati.

Sementara itu, tiang masjid terdiri dari 24 tiang. Jumlah itu melambangkan waktu dalam sehari yang terdiri dari 24 jam.

Pada masa Kesultanan Banten, di sebelah Utara masjid terdapat gudang beras. Gudang tersebut menjadi sistem pertahanan pangan bagi rakyat Banten. Ancaman kelaparan karena stok beras pernah terjadi pada tahun 1678, sehingga gudang itu dibangun seperti Bulog di zaman sekarang.

Dengan adanya lumbung tersebut, pejabat kesultanan dapat mengendalikan peredaran beras setiap saat. Sejak itu, kejadian kekurangan beras tidak pernah terjadi lagi.

Tidak jauh dari masjid, juga terdapat makam Sebakingking. Tahun 1678, hanya dua raja yang dimakamkan di situ, yaitu Sultan Hasanuddin dan cucunya, Sultan Maulana Muhammad yang tewas dalam perang melawan salah satu kerajaan di Palembang.

Selain dua raja, dimakamkan pula beberapa pembesar kesultanan. Tidak hanya muslim atau etnis Jawa, ada juga yang beretnis lain, yaitu Syahbandar Tionghoa Kaystsu.

Lokasi penting lainnya di sekitar masjid adalah perumahan para petinggi Agama Islam di Kesultanan Banten. Rumah utama adalah rumah Kadi yang bergelar Kyai Fekih (dari Bahasa Arab: Fiqh). Letaknya juga tidak jauh dari masjid agung.

Disebutkan bahwa salah satu Kadi bernama Khay Fokkee Natja Moedin, diangkat oleh Raja sebagai fiscaal, yaitu hakim yang menangani pertengkaran antarpenduduk Banten.

Kini, Masjid Agung Banten menjadi ikon kejayaan Kesultanan Banten yang rutin dikunjungi sebagai sasaran ziarah maupun wisata. Banyak umat muslim mendatangi tempat itu untuk berdoa dan ingin mengenal lebih jauh tentang keberadaan masjid tersebut.

Saat Maulid Nabi Muhammad SAW, masjid ini selalu dibanjiri pengunjung. Mereka datang dari Banten, Jakarta, Bekasi, Bogor, Purwakarta, Sukabumi, hingga Bandar Lampung.

Para peziarah selalu melakukan doa khusus di masjid. Kemudian mereka berkeliling dengan diarahkan sejumlah pemandu wisata. Pengunjung akan mengetahui seluk beluk masjid sambil menikmati keindahan arsitektur masjid.

Dari masjid, pengunjung akan diajak ke lokasi Pemakaman Sebakingking. Di tempat ini, pengunjung biasanya mengirimkan doa untuk arwah sanak saudara mereka masing-masing.

Editor : Taat Ujianto