• News

  • Singkap Sejarah

Kisah Pilu Selingkuh dan Cerai Kaum Ningrat Sunda Tahun 1800-1942

Ilustrasi kaum Menak Priangan di era Hindia Belanda
KITLV
Ilustrasi kaum Menak Priangan di era Hindia Belanda

BANDUNG, NETRALNEWS.COM - Perselingkuhan dan perceraian bukanlah istilah asing di masa feodalisme hingga kolonialisme mencengkeram Nusantara. Praktik perselingkuhan dan perceraian juga bukan hanya terjadi di level masyarakat bawah tetapi juga di kalangan ningrat.

Kisah menarik bagaimana perselingkuhan dan perceraian kaum bangsawan di wilayah Priangan (kini Jawa Barat) atau masyarakat Sunda di tahun 1800-1942 dikupas sangat menarik oleh DR Nina H. Lubis dalam bukunya yang berjudul Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942 (2020: 286-190).

Bangsawan Sunda dahulu biasa disebut kaum ménak. Menurut catatan Nina, ménak merupakan salah satu kosa kata yang sangat populer bagi masyarakat Sunda, untuk menunjukkan satu lapisan masyarakat yang berdasarkan hukum (saat itu) memiliki berbagai hak yang istimewa.

Di kalangan masyarakat luas kata ménak kemudian "dikirata-basakan" sebagai dimémén- mémén diénak-énak. Artinya, kaum ménak adalah mereka yang harus diladeni segala keperluannya (oleh orang lain) sehingga hidupnya menjadi enak.

Sementara masyarakat kebanyakan, biasa disebut somah atau cacah. Mirip dengan budaya Jawa, kaum somah wajib berperilaku yang baik kepada ménak termasuk dalam bertutur kata (bahasa halus). Sementara pihak ménak kepada somah justru wajib berbahasa kasar.

Selir diperlakukan tak adil

Kembali ke pokok bahasan, praktik perselingkuhan dan perceraian di kalangan ningrat Sunda, disebabkan olek beberapa aspek. Salah satu aspek akibat "sampingan" dari praktik perseliran.

Terkadang selir-selir atau istri merasa diabaikan dan diperlakukan tidak adil. Dalam Wawacan Carios Munada, dikisahkan sekitar tahun 1840- an, ada seorang jaksa di Bandung yang memiliki istri banyak. Istri paling tua, yang berstatus sebagai garwa padmi merasa diabaikan karena suaminya lebih senang tinggal di rumah istri yang paling muda.

Jaksa ini mendalangi pembunuhan Asisten Residen Nagel pada tahun 1842 karena ia sakit hati atas perlakuan pejabat Belanda tadi.

Dengan kecerdikannya, Jaksa Bandung bisa menyembunyikan kejahatannya untuk sementara. Bupati Bandung menugaskan para jaksa di Priangan untuk mengusut kasus pembunuhan ini, salah seorang di antaranya adalah Jaksa Purwakarta.

Berkat penyelidikan yang dilakukannya, ia bisa mencium kejahatan yang dilakukan Jaksa Bandung.

Dengan meminta bantuan Bupati Bandung, Jaksa Bandung ditugaskan ke Limbangan mengurus lelang harta ternak milik Asisten Residen Nagel, sehingga Jaksa Purwakarta bebas melakukan penyelidikan.

Yang dijadikan sasaran penyelidikan adalah istri tua Jaksa Bandung. Istri yang merasa kesepian karena diabaikan oleh suaminya ini tidak tahan dirayu dan digoda secara terus-menerus oleh Jaksa Purwakarta sehingga terjadilah perselingkuhan.

Namun justru karena itulah jaksa Purwakarta bisa mengorek keterangan dan pengakuan dari istri Jaksa Bandung sehingga kejahatan Jaksa Bandung terbongkar.

Kisah menggelitik tentang praktik perselingkuhan kaum ningrat lainnya tercermin dalam kasus tentang adik Bupati Bandung yang  disebut-sebut merupakan laki-laki gagah dan weduk (kebal terhadap senjata tajam).

Meski dikenal sakti namun ia diduga melakukan lambangsari (nyeleweng) dengan istri padmi Bupati Bandung. Setelah berunding dengan para pejabat kabupaten yang tua-tua dan asisten residen, akhirnya adik bupati ini dikucilkan ke Ambon.

Ingin menikah lagi

Untuk kasus perceraian antara suami-istri di kalangan ménak biasanya terjadi secara sepihak. Suami bisa menceraikan istrinya tanpa perlu memperhatikan apakah istrinya bersedia dicerai atau tidak.

Jadi dalam hal ini, kedudukan istri amat lemah. Perceraian bisa terjadi karena berbagai hal, misalnya, Bupati Wirahadiningrat, karena ingin menikah lagi, terpaksa menceraikan salah seorang garwa leutiknya agar jumlah istri tetap empat (sehingga tidak menyalahi hukum Islam).

Istri yang dicerai ini diberi semacam hadiah pelipur lara, yaitu dengan diberangkatkan ke Mekah untuk ibadah haji.  Kemudian ia juga diberi rumah di luar pagar kabupaten.

Contoh lainnya adalah perceraian yang dialami oleh Radén Ayu Rajaningrat, putri Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusumah III. Ia diceraikan suaminya, Radén Anggadireja, putra Bupati Parakamuncang, ketika suaminya yang menjabat sebagai Wedana Majalaya ini dipindahkan ke Cianjur karena fitnah.

Kemudian putri bupati ini menikah lagi dengan Radén Kertakusumah, mantri kabupaten.

Menyakitkan pihak perempuan

Dalam banyak kasus, perkawinan yang bubar karea perceraian mengakibatkan kondisi yang sangat menyakitkan bagi pihak wanita. Salah satu contohnya dialami oleh istri RAA. Wiranatakusumah V.

Pada tanggal 28 Maret 1924, garwa padmi bupati ini yang baru dua bulan melahirkan anak ketiga, bersama ketiga anaknya pergi ke kampung halamannya di Bukittinggi, sementara bupati pergi menunaikan ibadah haji ke Mekah.

Pada tanggal 17 April tahun 1924, Guru Nawawi, ayah garwa padmi bupati ini, menerima telegram dari bupati yang rupanya dikirim dari atas kapal yang sedang berlayar antara Colombo-Aden.

Dalam telegram bertanggal 2 April 1924 itu, RAA. Wiranatakusumah menyatakan bahwa Syarifah tidak usah kembali ke Bandung karena ia tidak pandai menyesuaikan diri dengan kehidupan kabupaten sehingga banyak menimbulkan perselisihan.

Perceraian yang dilakukan secara sepihak ini tentu saja tersiar luas. Kelompok yang anti-Bupati Bandung menyerang tindakan bupati yang dianggap sewenang-wenang.

Surat kabar Soerapati memberitakan adanya rapat umum yang membahas kebiasaan laki-laki menceraikan istri secara sewenang-wenang.

Kemudian dalam terbitan berikutnya, Bupati Bandung menikah lagi. Bahkan Haji Agus Salim menulis artikel yang panjang membela mantan radén ayu (kebetulan berasal dari etnis yang sama dengan Haji Agus Salim) dan mencela kekejaman serta penghinaan yang dilakukan bupati.

Dalam buku hariannya, istri bupati itu menuliskan segala kesedihannya. Betapa ia ditinggalkan oleh suaminya dengan tiga anak yang masih kecil-kecil; yang paling tua baru berumur tujuh tahun, yang paling kecil belum genap tiga bulan.

Dalam surat-surat yang ditulis dari Bukittinggi untuk para sahabatnya, baik orang Belanda maupun sesama pribumi, di Bandung, Batavia, maupun di Negeri Belanda, si istri yang tabah ini menyatakan agar jangan mengasihani dirinya, tetapi doakanlah agar suaminya mendapat jalan yang benar karena ia sedang tersesat dan memerlukan petunjuk.

Sewaktu masih menjadi istri bupati, banyak perubahan yang diinginkan oleh wanita Minang ini, misalnya orang yang akan menghadap kepadanya tidak perlu mencopot terompah dan tidak perlu gengsor.

Ia juga berusaha menyesuaikan diri dengan adat, belajar bahasa Sunda, dan mencoba menjadi ibu yang baik bagi kelima anak tirinya (yaitu putra bupati dengan kedua istri terdahulu karena istri yang satu tidak melahirkan anak) tanpa membeda-bedakan dengan anak kandungnya sendiri.

Rupanya hal ini tidak disukai oleh kalangan kabupaten. Ia dianggap sebagai orang luar dan bersikap terlalu kebarat-baratan.

Sejumlah pelayan, pengasuh anak, dan kerabat dekat bupati, sering kali meng ganggu ketenteramannya.

Pihak Perempuan minta cerai

Ada  juga  perceraian  yang  terjadi  karena  keinginan  pihak wanita. Sebagai contoh kasus adalah Bupati Garut.

Mula-mula ia menikah dengan putri Bupati Ciamis. Setelah memiliki garwa padmi ini, ia menikah lagi secara diam-diam dengan putri kalipah.

Kemudian kawin lagi dengan putri seorang haji. Karena putri kalipah itu meninggal, ia kawin lagi dengan wanita dari kalangan rakyat kebanyakan.

Pada mulanya bupati bisa merahasiakan perkawinan terakhirnya ini. Hanya wedana di daerah tempat tinggal si wanita dan aparatnya yang mengetahui hal ini.

Si wanita ini pun tetap tinggal di rumah orang tuanya. Ketika rahasia ini terbongkar oleh garwa padmi, ia menuntut agar istri barunya diceraikan atau ia yang diceraikan.

Meskipun istri yang paling muda bersedia diceraikan dengan alasan belum mempunyai anak sedangkan garwa padmi banyak anaknya, garwa padmi memilih bercerai dari bupati.

Tidak jelas juga, apakah ada penyebab lainnya mengapa garwa padmi ini ngotot meminta bercerai. Keluarlah ia dari kabupaten.

Tiga buah rumah disewanya di Garut untuk menyimpan harta-benda yang diberikan oleh mantan suaminya. Perhiasan mas berlian serta beberapa buah toko menjadi miliknya.

Dalam kasus ini, terlihat adanya pergeseran di mana kaum perempuan mulai memiliki kesadaran akan prinsip, harga diri, dan pendirian. Pergeseran semacam ini menarik sekaligus untuk memberikan gambaran bagaimana  emansipasi kaum perempuan mulai memperlihatkan wujudnya.

Selain itu, mengutip pernyataan Nina, contoh kasus perceraian semacam kedua ini tidak banyak diungkapkan dalam sumber lokal karena historiografi tradisional.

Historiografi yang banyak beredar di Indonesia lebih banyak bicara masalah politik sementara posisi wanita “hanya sekedar tokoh tempelan.”

Editor : Taat Ujianto