• News

  • Singkap Sejarah

Tragedi 50.000 Orang Indonesia di Pasukan Bunuh Diri, Inggris Terperanjat

Ilustrasi Pertempuran Surabaya, 10 November 1045
Foto: Istimewa
Ilustrasi Pertempuran Surabaya, 10 November 1045

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kita sering lupa bahwa ada sisi-sisi tragis dan dramatis setiap kali perang terjadi. Perang tak seindah dalam game yang mengasyikan para penggemar game perang. Di manapun perang menyisakan kepedihan dan penderitaan.

Dari sekian tragedi selama Perang Kemerdekaan, baik menjelang maupun sesudah Proklamasi 17 Agustus 1945, tak banyak yang mengungkap bagaimana orang-orang Indonesia yang dipersiapkan ikut membantu Jepang melalui pasukan Kamikaze atau pasukan bunuh diri.

Pasukan Kamikaze di Indonesia dibentuk oleh tentara Jepang yang bercokol di Indonesia. Menukil catatan Hendri F. Isnaeni di Historia.com, menengok bagaimana mereka ikut berkiprah di tengah perang kemerdekaan sungguh menarik.

Kala itu, Jepang menamai pasukan Kamikaze di Indonesia dengan sebutan Jibakutai atau "barisan bunuh diri', tepatnya pada 8 Desember 1944.

Dalam perkembangnya, istilah "jibakutai" kemudian diartikan dalam bahasa Indonesia “menyerang musuh dengan jalan menubrukkan dirinya (yang sudah dipersenjatai dengan bom atau alat peledak lainnya) pada musuh; bertindak nekat.”

Ternyata, anggota Jibakutai tak sedikit. Jumlahnya secara keseluruhan mencapai sekitar 50.000 orang. Pasukan ini ada di beberapa daerah.

Di Bali misalnya, Jibakutai disebut Bo’ei Teisin Tai dan dibentuk pada Desember 1944. Dalam beberapa sumber sejarah disebut bahwa Jepang melaporkan orang Bali “minta bagian dalam menghajar musuh” dengan ikut Bo’ei Teisin Tai.

Mereka mencatat bahwa "para intelektual, kebanyakan guru sekolah, redaktur media massa dan sebagainya merupakan mayoritas nama-nama yang terdaftar. Kesatuan Bo’ei Teisin Tai pertama berdiri pada Maret 1945, dan pada Juni 1945, grup kedua bertolak dari Buleleng ke Gianyar untuk latihan,” tulis sejarawan Geoffrey Robinson dalam Sisi Gelap Pulau Dewata (2006).

Hanya saja, yang perlu diingat, kendati disebut pasukan berani mati, sejatinya orang-orang Indonesia dalam Jibakutai tetaplah diajar "setengah hati". Sama halnya dengan pasukan Peta atau Pembela Tanah Air dan Heiho yang posisinya cenderung sebagai pasukan "pendukung" tentara Jepang.

“Haruslah diperhatikan bahwa satuan-satuan ini dipersenjatai dan dilatih hanya dengan bambu runcing…Tujuan melatih kelompok-kelompok ini adalah saling kerja sama dan mendukung kepada perang, bukanlah ikut serta secara militer sebagai satuan-satuan tempur,” tulis sejarawan Joyce C. Lebra dalam Tentara Gemblengan Jepang (1988.

Sementara sejarawan Nugroho Notosusanto menulis bahwa Jibakutai tidak pernah mempunyai eksistensi yang nyata sebagai organisasi monolitis seperti yang lain-lain.

“Barisan itu lebih merupakan ungkapan daripada tekad pemuda Indonesia untuk mempertahankan tanah airnya terhadap musuh,” tulisnya dalam Tentara Peta Pada Jaman Pendudukan Jepang di Indonesia (1979).

Meski disebut sebagai "pendukung" tentara Jepang, di kemudian hari, mereka tetaplah sangat penting perannya bagi Indonesia pasca-Proklamasi 17 AGustus 1945. Sama halnya dengan anggota Peta dan Heiho, mereka kemudian menjadi tenaga utama dalam pasukan dan cikal bakal tentara nasional Indonesia.

Menurut mantan pejuang kemerdekaan, Asmadi, segera setalah Proklamasi kemerdekaan, Jibakutai mengubah namanya menjadi Barisan Berani Mati (BBM), tetapi umumnya orang menganggap namanya terlalu muluk.

Mereka baru menunjukkan aksinya ketika perang melawan Sekutu di Surabaya pada 10 November 1945.

“Berjenis-jenis kendaraan lapis baja seperti brencarrier, panser, dan tank banyak yang meledak karena ulah mereka,” tulis Asmadi dalam Pelajar Pejuang (1985).

Anggota BBM beroperasi dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing menjinjing sebuah bom, kemudian membenturkan diri ke kendaraan perang musuh yang menghancurkan benteng-benteng berjalan itu.

Tindakan yang kelewat berani ini sangat menonjol pada hari ketiga perang. Keberanian mereka menimbulkan kekaguman di kalangan pejuang dan keterkejutan di pihak lawan.

Tentara Inggris terperanjat dan menuding Indonesia menggunakan orang-orang Jepang untuk melakukan bunuh diri, karena mereka menganggap hanya orang Jepang yang berani berbuat nekat seperti itu.

“Anggota BBM telah membuktikan bahwa cemooh yang diperolehnya selama ini adalah tidak benar, bahwa keberanian bukan milik bangsa Jepang saja yang dengan Kamikaze-nya berani menumbukkan pesawat terbang ke kapal perang Sekutu,” tulis Asmaji.

Editor : Taat Ujianto