• News

  • Singkap Sejarah

153 Tahun Jawa Berkalung Besi, Berjumpa Jayabaya hingga Hantu

Salah satu pembangunan jalur kereta.
Foto: KITLV
Salah satu pembangunan jalur kereta.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Memperingati 153 tahun "Jawa Berkalung Besi" yang jatuh pada 10 Agustus 2020, rasanya tidak seru jika tidak melakukan penelusuran khusus.

Melalui penelusuran Netralnews ternyata menghantarkan penulis pada "perjumpaan" dengan sosok mulai dari Prabu Jayabaya hingga sosok "hantu". Kok bisa demikian?

Istilah "Jawa Berkalung Besi" berasal dari catatan "ahli nujum" terkenal di era Kerajaan Kediri yang dikenal dengan nama Prabu Jayabaya (1135-1157 Masehi).

Ramalan Jayabaya sering disebut-sebut sebagai petunjuk kebenaran datangnya masa transportasi modern di tanah Jawa yakni jalur rel dan kereta api.

“Mbesuk yen wis ana kreta tanpa jaran, tanah Jawa kalungan wesi” (Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda, tanah Jawa akan berkalung besi).

Catatan ini sering ditafsirkan "rel kereta api yang melingkar atau membentang di seluruh tanah Jawa". Dengan kalung itulah orang Jawa kemudian "dijerat" melalui berbagai praktik eksploitasi untuk memperkaya Kerajaan Belanda. 

Tafsir Lain

Secara harfiah tafsir "kalungan wesi" sebagai petunjuk zaman baru adalah sah-sah saja. Menurut tafsir penulis, catatan Jayabaya sebenarnya juga bisa diartikan sebagai peringatan akan datangnya zaman "kekacauan".

Istilah “kreta tanpa jaran” dalam tafsir tertentu juga mengandung arti datangnya masa ketika masyarakat Jawa sudah kehilangan arah, tanpa sosok pemimpin yang benar-benar penuntun.

Kemudian istilah “kalungan wesi ” bisa pula dipahami sebagai peringatan di mana masyarakat Jawa akan berhadapan dengan banyak paham sehingga bisa berubah kiblat  ideologinya.

Paham-paham itu (kapitalisme, komunisme, sosialisme, radikalisme agama, dan sebagainya) di kemudian hari terbukti besar sekali pengaruhnya (beratnya) dan menyebabkan orang Jawa tidak lagi terlihat seperti sebelumnya.

Istilah lainnya adalah "wong Jowo ilang Jawane" (Orang Jawa hilang Jawanya).

Pembangunan Jalur Kereta Api

Revolusi industri dengan penemuan teknologi modern di Eropa di abad ke-19 langsung berimbas ke tanah Jawa. Salah satunya proyek besar pembangunan rel kereta dan kereta api oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Untuk apa Belanda mau bersuah-susah mengangun jalur itu? Untuk mempermudah pengangkutan aneka rupa produksi yang tersebar di Jawa sehingga bisa dibawa ke Eropa dan memperkaya pihak Belanda.

Menurut catatan Th. M. B. Van Marle dalam tulisannya De Ontwikkeling van de Spoor- en Tramwegen in Nederlandsch-Indie (1914), panjang keseluruhan rel kereta api di Jawa itu, mencapai 4.486 kilometer.

Catatan ini juga menyebutkan bagaimana asal usul kereta api di Hindia Belanda serta mengungkap tentang 18 perusahaan operator kerata api, baik milik Belanda maupaun swasta di Jawa, Madura, dan Sumatera.

Jalur kereta pertama yang dipilih Kolonial Belanda ternyata bermuara di Pelabuhan Semarang. Menagapa jalur ini dipilih?

Semarang adalah pusat pengepulan hasil bumi dari berbagai kabupaten di Jawa Tengah (sekarang). Biaya pengangkutan sangat besar dari pedalaman Jawa ke Semarang. Belum adanya perampokan dan aksi pencurian di tengah jalan.

Pernah kejadian ongkos angkut dari Kedu ke Semarang, meningkat dari 1.50 gulden per pikul pada 1835 hingga 3.30 gulden per pikul pada 1840. Ongkos itu dianggap kelewat tinggi di masa itu.

Maka pada 1860, muncul desakan untuk mengadakan moda angkut yang lebih baik. Apalagi saat itu,daerah Vorstenlanden (wilayah kerajaan) hasil panen sedang melimpah terutama gula.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda kemudian mengirim Insinyur Stieltjes, untuk menyelidiki kemungkinan dibangunnya jaringan kereta api di Pulau Jawa.

Selanjutnya tahun 1862, sebuah konsesi diberikan Pemerintah Kolonial kepada Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).  Perusahaan partikelir itu di izinkan untuk membangun rel kereta api.

Kamis, 17 Juni 1864 hajat besar itu direalisasikan dengan tanda "pencangkulan pertama" untuk pembangunan jalur kereta api. Peristiwa bersejarah ini dilakukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, LAJ Baron Sloet van den Beele.

Setelah melewati beragam masalah dari soal kekurangan anggaran, dana menbengkak, hingga bencana gempa bumi, pada 10 Agustus 1867, NISM meresmikan layananan kereta api pertamanya dari Kemijen (Semarang) menuju Tanggung (kini masuk Kabupaten Grobogan).

Jalur yang membentang sejauh 25 kilometer ini memiliki beberapa pemberhentian antara lain Stasiun Alas Tuwa dan Stasiun Brumbung.

Jalur itu, adalah tonggak awal sejarah perkeretaapian Indonesia. Sebuah peristiwa yang akan mengubah arus mobilisasi di Indonesia.

Sementara menukil buku Kereta Api Indonesia (1978), pembangunan jalur kereta di masa selanjutnya adalah rute Semarang-Surakarta yang selesai pada 10 Februari 1870. 

Rute sepanjang 110 km tersebut, difungsikan NISM untuk mengangkut hasil bumi seperti kopi, cengkeh, tembakau, teh, dan gula.

Selanjutnya, pada Kamis, 1 November 1894, NIS meresmikan penggunaan jalur rel sepanjang 118 km Tasikmalaya dan Kesugihan. Momen tersebut merupakan bagian terakhir jalan rel guna menghubungkan Jakarta-Surabaya.

Telusur Jejak

Bagaimanakah gambaran kondisi stasiun-stasiun di jalur kereta api pertama di Jawa? Ada tiga versi yang menyebutkan tentang stasiun pertama di Indonesia yang sering menjadi perdebatan.

Tiga bangunan stasiun yang lokasinya berdekatan adalah Samarang Gudang, Samarang NIS, dan Kemijen. Dari ketiga stasiun tersebut, hanya Samarang Gudang yang masih mudah dikenali secara bangunan fisik.

Sementara Kemijen dan Samarang NIS tenggelam di antara perumahan warga dan air rob. Terlepas dari segala perdebatan, sejarah panjang ular besi di Indonesia ini dimulai dari kawasan ini.

Hanya saja, rel di kawasan ini sudah tidak berwujud rel lagi, karena telah terendam air  rob dan yang kini oleh warga sekitar dijadikan tambak dan tempat untuk memancing ikan.

Namun, sekitar 100 meter sebelah selatan, kini sudah dibangun jalur rel baru yang hingga kini masih beroperasi.

Sumber informasi menarik lainnya untuk menelusuri sejarah jalur kereta api pertama di Jawa adalah Museum Kereta Api Lawang Sewu di kawasan Tugu Muda.

Lawang Sewu adalah bekas kantor perusahaan kereta api NISM yang dibangun tahun 1904. Setelah dipugar, bangunan kuno megah ini dibuka oleh PT. Kereta Api Indonesia sebagai museum dan tempat wisata pada 2004.

Mulanya, gedung ini bernama Het Hoofdkantoor Van De Nederlands Indische Spoorweg Mastchapiij. Bangunan tiga lantai bergaya art deco itu baru ditetapkan sebagai cagar budaya pada 1992 silam.

Sejarah gedung ini sangat unik karena menurut kisah warga setempat, gedung ini pernah dijadikan sebagai penjara di era pendudukan Jepang.

Usai Proklamasi 17 Agustus 1945, pasukan pro kemerdekaan bersusah payang merebut gedung ini. Bahkan, setidaknya enam orang gugur dan sempat dikuburkan di area Lawang Sewu namun kini makam sudah dipindahkan.

Setelah itu, Lawang Sewu sempat digunakan sebagai kantor TNI Angkatan Darat. Pernah pula terbengkalai, bahkan banyak bagian yang dicuri untuk dijual, terutama besi-besi di sekitar gedung.

Mengapa disebut Lawang Sewu? Karena orang Jawa melihatnya ada banyak sekali pintu. Dalam bahasa Jawa yang berarti pintu seribu, walau sebenarmya jumlah aslinya hanya 928 daun pintu.

Dan terakhir, siapa sangka gedung Lawang Sewu kemudian disebut sebagai gedung paling angker di Jawa? Bahkan ada yang menyebutnya, gedung ini menjadi "istana hantu".

Hingga kini Lawang Sewu seolah menjadi ikon gedung berhantu. Sebelumnya pernah digunakan sebagai tempat uji nyali dan kemunculan sosok-sosok seperti hantu noni  Belanda hingga kuntilanak menyebar di jejaring sosial, cukup untuk menciptakan kesan menakutkan.

Benarkah ada sosok-sosok hantu di gedung itu? Percaya atau tidak, terserah Anda. Yang pasti, mitos tersebut masih menjadi buah bibir hingga kini.

Editor : Taat Ujianto