• News

  • Singkap Sejarah

Kisah Tegar Perempuan Pandu, Suami Tewas Ditembak Sekutu

Riet Boenakim di masa tuanya
Historia.id
Riet Boenakim di masa tuanya

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Hari-hari di langit Surabaya muram. Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945 ketegangan kian memuncak. Memasuki bulan November perang pun pecah. Sekutu membombardir Kota Surabaya.

Dari semua ketragisan pertempuran 10 November 1945, ada sepenggal kisah menarik tentang sosok Perempuan anggota Kepanduan yang "terjebak" dalam kekacauan perang. Beliau adalah Letnan Kolonel Nyonya Riet D Boenakim.

“Sangat sulit mengenali seorang Letnan Kolonel Nyonya Riet D Boenakim dari Indonesia, mengenakan pakaian nasional dan menampilkan tarian tradisional,” ditulis Matilda, Juli 1971.

Menukil catatan Nur Janti dalam Historia.id, Riet digambarkan sebagai sosok perempuan yang terus aktif dalam kepanduan dan militer.

Ia menjadi Komandan Detasemen Korps Wanta Angkatan Darat II di Bandung dan menjadi staf Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Kepengurusannya di Perwari juga terus dipertahankannya. Selama lima tahun sejak 1973, Riet menjadi direktris Panti Asuhan Trisula milik Perwari. Keaktifan di militer dan kegiatan sosial Riet menjadi pembunuh sepinya pasca-kematian suaminya. “Aku merasa hidup kembali dan menghirup kesegaran,” kata Riet.

Suami jadi korban pertempuran

Kala itu, Sekutu membombardir Surabaya, termasuk wilayah Banyuurip. Riet dan suaminya, Boenakim, sedang berjaga di pos dekat Pasar Kupang. Mereka menyaksikan pasukan Sekutu menembak ke segala arah dengan membabi buta.

Sejak pertempuran pecah, Riet ambil bagian dalam perjuangan sebagai anggota palang merah. Sementara, Boenakim sebagai komandan pos.
close

Tiba-tiba tanpa diduga terdengar pekikan, “Aduh!” Boenakim sekonyong-kongyong ambruk. Riet menjerit.

Riet melihat punggung suaminya berlubang terkena peluru yang menembus lewat dadanya. Darah mengalir dari dada, punggung, mulut, dan telinga Boenakim. Di tengah kepanikannya, Riet berusaha memberi pertolongan sejadi-jadinya kepada suaminya.

Parto, salah satu anak buah Boenakim, datang membantu. Mereka berdua bahu-membahu merawat luka Boenakim. Namun ajal tak bisa dilawan, Boenakim tak tertolong dan meninggal dii pangkuan istrinya. Peristiwa itu terjadi pada 11 November 1945 pukul 10.45.

Boenakim meninggal di tengah situasi serba kacau. Sementara Kampung Asemjajar telah ditinggalkan warganya yang telah mengungsi menjauhi Surabaya.Mereka takut kena amuk Sekuti, sebab kampung sebelah, Asemrowo dan Dupak, sudah dibumihanguskan dengan hujan bom.

Setelah satu jam menyiapkan pemakaman hanya bersama Parto, Riet kedatangan empat perempuan tetangga yang membantunya bekerja di dapur. Suara bom dan mortir terus-menerus terdengar di kejauhan. Semua bekerja dengan cemas.

Pukul tiga sore, suara ledakan bom makin menjadi namun hilang setengah jam kemudian. Riet mengira kedua belah pihak kehabisan amunisi. Di saat itulah, anak buah Boenakim berdatangan untuk memberi penghormatan terakhir kepada komandan mereka.

Menjelang penguburan, suara letusan senjata kembali terdengar. Jenazah Boenakim yang semula akan dimakamkan bersebelahan dengan ibunya, batal dilakukan. Situasi terlalu berbahaya, jalan-jalan ditutup. Satu-satunya tempat aman yang bisa dijangkau adalah kebun milik Riet di dekat sawah.

amun ketika rombongan baru jalan sekira 100 meter, letusan senjata kembali terdengar. Mereka langsung tiarap dan mencari tempat aman. Keranda terpaksa mereka taruh di tanah. “Karena keadaan inilah jarak dekat antara rumah dan kebon, kami tempuh tak kurang dari satu jam,” kata Riet Boenakim dalam memoarnya, Sumbangsihku bagi Ibu Pertiwi jilid 3, seperti dikutip Nur Janti.

Malamnya, Riet langsung meninggalkan kampung dan bergabung dengan pejuang lain di Banyuurip. Riet bekerja di dapur umum merangkap juru rawat dan dilibatkan dalam rapat-rapat strategis.

Pada hari kelima pasca-kematian Boenakim, Pos Banyuurip diserang. Seluruh pengungsi dan para pejuang pindah ke Kandangan. Riet mengikuti dengan menumpang tank. Setelah Kandangan tak lagi aman, warga Surabaya mengungsi ke berbagai tempat. Riet memilih ke Yogyakarta.

Kembali ke Yogyakarta

Yogyakarta adalah kota kelahiran Riet. Riet sempat menempuh pendidikan di Neutrale Hollandsche Javanesche Meisjeschool bersama Arini Soewandi, yang kemudian menjadi anggota DPRD DIY 1966/67.

Semasa sekolah, Riet dan Arini aktif di kepanduan yang diketuai Pranyoto. “Kami mempunyai idola pemimpin yang sama, yakni Bapak Pranyoto. Orangnya tenang, sabar, dan berwibawa,” kata Arini dalam memoarnya di Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi Jilid V.

Sekembalinya ke Yogyakarta, Riet langsung aktif di Perwari dan menjadi pengurus ranting Danureja. Mereka lalu membuka kelas penghapusan buta huruf untuk anak-anak kelas bawah dan perempuan dewasa yang belum pernah mengenyam pendidikan Barat.

Riet juga aktif menyelenggarakan dapur umum dan mengumpulkan informasi sembari menyamar sebagai mbok-mbok pencari bayam.

Keaktifannya di Perwari tak membuat Riet meninggalkan kepanduan. Kesibukannya makin bertambah setelah menjadi pegawai sipil menengah di bagian pemeriksaan Markas Besar Polisi Tentara Laut pada November 1946.

“Tugas sosial Perwari dan kepanduan tetap kukerjakan pada sore harinya, bahkan sampai malam hari,” kata Riet.

Semasa Ki Mangunsarkoro menjadi Menteri Pendidikan, Riet bekerja di Pendidikan Masyarakat bagian Kepanduan, Pemuda, dan Olahraga. Riet kemudian diperbantukan di Kwartir Besar Putri Pandu Rakyat Indonesia.

Banyaknya pelatihan yang diikutinya membuat Riet kemudian diangkat menjadi Komisaris Besar (Andalan Nasional) golongan Kurcaci yang memimpin Pramuka Siaga Putri.

Bersama Eni Karim, Rimmy Tambunan, Otti Adam, dan Mulyati, Riet dilantik menjadi anggota inti Korps Wanita Angkatan Darat dengan pangkat mayor pada 1960.

Dari kedua lembaga ini, Riet mendapat banyak ilmu baru dan sering dikirim untuk mengikuti kursus-kursus kepemimpinan, salah satunya pelatihan pandu putri internasional di Australia pada 1971. Terbitan pramuka putri Australia, Matilda, memberitakan kedatangan Riet bersama dua orang perwakilan Indonesia.

Editor : Taat Ujianto